
"Kau pandai memasak, terima kasih ya?" ucap paman Bram yang sudah selesai makan.
"Sama-sama paman, maaf aku sudah lama tidak main ke sini karena kesibukan," jawab Adya.
"Tidak masalah, sejak ayahmu pindah ke perumahan elit, kami memahami, gaya hidup serta kesibukan tuan Fernando dan keluarga sangat banyak," jawab paman Bram.
"Kami masih seperti dulu paman, tidak ada hal yang berubah. Oh ya, aku akan mengajak Renata hadir ke acara pernikahan kakakku, Aarav. Apa paman mengizinkan?" pinta Adya.
"Kakakmu akan menikah hari ini? Amazing, baguslah jika dia memiliki keinginan menikah, aku tahu jika kedua orang tuamu pusing memikirkan pria itu, hehe ... Sama denganku yang juga pusing saat melihat anak gadisku yang tak kunjung menikah ini," cetus sang paman sambil melirik ke arah sang putri.
"Ish, apalah ayah ini! Aku belum ada kekasih, menikah dengan siapa? Kran air?"
"Wkwkwkwk, ide bagus!"
Gadis itu sangat kocak memang, saat menyampaikan pendapat sering ceplas-ceplos.
"Maaf aku tak bisa datang karena sedang tidak enak badan, sampaikan salam pada tuan Fernando, selamat atas penikahan putra pertamanya, semoga langgeng sampai nenek kakek."
"Oke paman, nanti aku akan menyampaikan pada mommy dan daddy."
"Siap!"
Renata meminta izin untuk ganti baju, tapi Adya meminta sang gadis langsung ikut dengannya karena Adya yang akan menyiapkan gaun untuk sang gadis.
Keduanya pamit pada ayah Renata, namun gadis itu menelpon sang ibu terlebih dahulu agar cepat pulang.
Kebetulan sekali, mobil sang ibu terdengar jelas dari arah luar.
"Ayah, itu ibu sudah pulang. Aku ikut Adya ya?"
"Oke."
Keduanya mencium tangan kanan paman Bram dan perlahan keluar dari rumah itu.
__ADS_1
...
Di depan rumah ...
"Hm, pacar baru, pakai celemek lagi."
Adya bahkan lupa melepas celemek yang masih ada di tubuhnya.
"Hahaha, iya bibi. Aku baru saja membantu gadis rempong ini memasak, jadi lupa harus melepaskan celemek."
Sang ibu Renata, heran, dia seperti pernah melihat visual wajah tampan Adya.
"Bukannya kau Adya?'
"Iya ini bibi Hera."
"Hm. Bawa pergi mobilmu, mobilku terlahang saat mau masuk ke dalam garasi."
"Iya ibu, Kak Aarav akan menikah, karena Adya sudah membantuku, jadi aku menemaninya menjadi pendamping pengantin."
Bibi Hera meminta Adya dan Renata juga menikah karena sangat serasi, tapi semua itu di tolak mentah-mentah sang gadis.
"Hoek, bisa mual aku menikah dengannya, tiap hari pasti dia memasak, sok perhatian, ih malas banget. Jadi pria itu macho, keren. Mana ada pria suka masak, suka tinju baru ada."
"Tinju di malam pertama juga bisa, Haha!"
Adya dan bibi Hera tertawa, tapi gadis itu kesal.
Dia memutuskan untuk segera enyah dari dua orang itu dan masuk ke dalam mobil Adya.
"Rena masih sama Adya, dia tak pernah berubah sejak dulu, kau carikan jodoh ya?"
"Ya, nanti gampang. Namun, jangan aku, bisa remuk di hajar tiap hari. Dia kan juara taekwondo waktu di kampus, huft! tomboy sekali temanku."
__ADS_1
"Jangan bilang begitu, bisa ada cinta lho, kau akan mendapatkan sesuatu yang tidak terduga nanti."
"Hm, bisa jadi. Maaf bibi, aku berangkat dulu. Jangan sampai anakmu marah, nanti mobilku hancur."
Sang pria terlihat membawa celemek bersamanya, tapi bibi Hera meminta kain itu.
"Biar bibi yang bawa, nanti bibi saja yang mencucinya."
"Tapi bibi?"
"Sudahlah, daripada mobilmu hancur."
"Whehehe, oke bibi."
"Salam untuk kedua orang tuamu, selamat untuk Aarav, semoga langgeng sampai kakek nenek."
"Oke, terima kasih doanya bibi."
"Ya, sama-sama."
Adya terlihat berjalan menuju mobilnya,.
Setelah berada di dekat mobil, dia naik ke dalamnya dan menatap wajah sang teman kecil.
"Kusutnya."
"Lama kau Adya, arisan ya? Astaga, pria suka arisan."
"Hahaha, ada-ada saja."
Adya masih saja tersenyum, dia merasa terhibur dengan kehadiran Renata yang mampu membuatnya melupakan sejenak rasa sakit itu.
*****
__ADS_1