
Kedua bi bir bertemu dan Netta merasakan sensasi itu lagi, dia tak menyangka akan khilaf seperti ini, bahkan saat sang suami mulai menyentuh yang lain, dia tak marah.
Sang gadis telah terhipnotis oleh sang suami.
"Apa ini benar?" Netta bergumam dan tetap memejamkan matanya.
Sang gadis terus berdoa dan me re mas tangannya sendiri yang mulai berkeringat.
Rasanya sangat tidak nyaman, tapi pada kenyataannya mereka adalah suami istri.
"Kau siap Netta?" tanya Aarav yang berbisik di telinganya.
Suara itu justru membuat sang gadis terhenyak dan bangkit.
"Maaf, aku sakit perut."
Netta berlari menuju kamar dan mengunci kamar itu dari dalam.
Netta cemas, tapi dia senyum-senyum sendiri.
"Apakah ini rasanya ci u ma n?" tanya Netta pada dirinya sendiri.
Sedangkan sang suami kembali frustasi dengan pemikirannya yang sudah tak membayangkan gadis lain, hanya Netta seorang.
"S h i t t ! apa kah ini karma? aku bahkan sudah berada di ubun-ubun dan gagal lagi? ayolah Netta," umpat sang suami.
Dia terlihat seperti orang tidak waras.
Sang pria memilih untuk melepas bajunya dan mencari papan selancar.
__ADS_1
"Bermain ini mungkin lebih baik."
Sang pria lalu melakukan hal yang saat ini ada di dalam otaknya, dia berada di dalam kondisi yang tidak sinkron.
Sang suami berada di luar rumah dengan celana pendek serta ber te lanjang dada, sang istri sendiri masih deg-deg an.
Sang istri merasa menjadi gadis paling bodoh karena menikmati sentuhan buaya darat itu.
"Apakah ini benar? dia adalah pria dengan banyak pemuja, bahkan aku tidak tahu jika dia memiliki perasaan yang tulus atau tidak. Akan tetapi di dalam hatiku, dia adalah orang yang sangat baik meskipun jiwa pemain wanita sangat melekat di dalam jiwanya. Aku menjadi gadis yang menjadi istri enam bulan saja, bagaimana bisa menjadi orang yang sangat peka seperti ini? aku harus berpikir lebih jernih lagi!"
Netta berusaha sadar dari kehilangan kewarasannya.
Dia tidak pernah menjadi orang yang plin plan seperti ini, hanya saja perasaannya sangatlah aneh, dibilang tidak nyaman, sentuhan Aarav sangat nyaman. Terlebih lagi saat ciu man pertamanya di depan pendeta.
Desir cinta yang akan membuatnya kebingungan menafsirkan apa yang sebenarnya terjadi pada hatinya.
Dia sepertinya lupa dimana letak ponsel itu.
Daripada pusing, sang gadis membuat panggilan telepon menggunakan telepon rumah yang ada di atas nakas.
Dia segera menelpon sang adik ipar.
"Halo nona bos?" sapa sang gadis.
"Kenapa memanggilku dengan panggilan nona bos? aku kan adik iparmu?" ucap sang adik.
"Maaf, aku sudah terbiasa memanggil dengan nama itu, aku mau curhat nona bos." Sang gadis langsung to the point.
"Sudah unboxing?"
__ADS_1
"Apa itu?"
"Astaga kau belum paham istilah itu?"
"Belum nona."
"Tanya Kak Aarav, dia pasti tahu artinya."
"Hm, tidak penting nona. Aku ingin memberitahukan bahwa tuan bos, menyatakan cinta dan serius."
"Haha ... aneh, coba kau percaya saja. Nanti aku akan membantumu."
"Kau dia menci um ku lagi bagaimana?"
"Ha? sudah tahap itu? bagus ... bagus, oke. Kau harus menguji kesabarannya, jika dia mau menunggu, pertahanan. Jika dia tidak bisa sabar, bilang padaku, kita akan menyelesaikan permainan kak Aarav dengan segera."
"Oke."
Netta sang polos, hanya mengikuti apa yang di inginkan oleh sang adik ipar.
Dia sama sekali belum memahami sifat sang suami, pria menyebalkan itu harusnya sudah jera dan tidak membuat masalah dengan sang adik.
"Netta? apakah aku merasa jantungmu berdegup kencang saat bersama dengan kakakku?"
"Iya, sedikit."
"Ehm, kau pastikan juga perasaanmu, kau tak perlu khawatir. Kak Aarav ada dalam pantauan ku!" ucap sang adik yang sangat ingin kakaknya bertobat lalu hanya mencintai sang istri saja tanpa memikirkan gadis lain lagi.
*****
__ADS_1