CEO Bastard Yang Bucin

CEO Bastard Yang Bucin
Firasat Bella [Revisi]


__ADS_3

Saat sang kakak keluar dari rumah sakit itu, tiba-tiba saja ponsel milik Aarav bergetar.


Dia menjawab panggilan telepon itu lagi.


"Sialan! Mommy," umpat Aarav.


Mau tidak mau, Aarav harus menjawab panggilan telepon dari mommynya.


"Halo mom, ada apa?"


"Kau dimana? Netta sudah mommy antar pulang ke apartemen yang sudah mommy pesan. Kau tidak bertanggung jawab memang ya?"


"Astaga, aku lupa. Maaf mom."


"Ya, aku tahu kau ceroboh, jadi aku akan mencarikan jodoh lain untukmu, Netta nikah sama Adya saja?"


"Hah! aku tidak mau, aku janji akan berubah!"


"Serius?"


"Iya, tapi jangan biarkan Adya memiliki Netta, aku tidak rela!"


"Jangan menjadikan gadis itu sebuah taruhan, kau harus benar-benar menjaganya."


"Hm, iya, aku tak akan membuat mommy cemas, aku akan menjaga Netta."


"Oke, deal! sampai ketahuan kau melukai hati Netta, mommy coret kau dari daftar penerima warisan!"


"Jangan mommy! aku akan berubah, aku janji!"


"Oke, aku akan pantau kau terus, jangan sampai aku menemuimu dengan sikap buruk yang kau miliki."


"Iya mommy, aku janji."


"Oke, cepat pulang!"


"Siap!"


Panggilan telepon pun berakhir, Aarav cukup puas dengan rencananya karena mengira akan berhasil.


Dia lupa akan karma.


...


Apartemen Netta ...


"Net, aku pulang dulu ya?" ucap Adya.


"Oke bos, terima kasih sudah mengantarku," jawab Netta.


Dua orang itu berpisah di depan pintu apartemen.

__ADS_1


"Aku pulang dulu ya?" Adya mengulangi ucapannya lagi.


"Kau sudah berkata dua kali bos, kenapa berulang-ulang?" tanya sang gadis.


"Oh, ini ... karena aku, Hm ... aku, Netta? kapan kau akan menikah dengan kakakku?" tanya Adya.


Sebenarnya dia ingin bertanya mengenai hal lain, tapi sangat berat untuk di ucapkan.


"Aku masih menentukan waktu yang tepat, apalagi pekerjaan di restoran sangat banyak, aku tak bisa meninggalkan semua itu."


Netta masih memikirkan tugasnya sebagai seorang karyawan, meskipun calon mertuanya merupakan pemilik restoran tempatnya bekerja.


Dia tidak akan merasa menjadi pemilik restoran itu, karena Netta tahu diri.


"Oh, aku nanti akan membantumu, kau jangan pernah menolak tawaran dari seorang adik ipar!"


Pada akhirnya, Adya hanya bisa mencintai gadis yang sangat ia inginkan dengan cara bersamanya tanpa perlu mencampuri urusan pribadi.


Menjadi seperti ini, sudah sangat cukup baginya daripada membuat sang gadis mendapatkan masalah.


"Oke, tapi dengan syarat, jangan membuat keributan saat tuan bos Aarav sudah mulai berada di antara kita. Dia pasti akan marah-marah padaku dan kau tidak terima akan semua itu!"


"Iya, aku tak akan marah, tapi akan mencubitnya, hehe ... Netta, aku jaga kau ya, aku tidur di luar."


"Tak usah, aku tak mau kau repot."


"Tak repot, kau hanya perlu tidur di dalam. Aku akan tidur di depan pintu."


"Tak mau Netta, aku akan tetap menjagamu."


"Jangan."


Netta mendorong tubuh Aarav agar segera masuk ke dalam lift, Netta ingin Adya pulang.


"Bye, bos!"


Netta cukup tenang saat bisa mendorong tubuh Adya masuk ke dalam lift yang ada di depan kamar apartemen itu.


"Beres juga."


Netta masuk ke dalam kamarnya lagi.


Sedangkan Adya pura-pura mengikuti apa yang di katakan oleh Netta.


"Huft, Aku sangat mencintaimu Netta, bagaimana bisa Kau tidak memahami ini? bagaimana caranya untuk menunjukkan kepadamu bahwa diriku sangat menginginkan cinta darimu agar melengkapi hatiku yang selalu gundah karena memikirkan gadis yang akan menikahi kakakku, Netta! tolong katakan sesuatu yang akan membuatku lebih baik," batin Adya.


Dia terlihat sangat gundah karena kisah cintanya yang sangat miris dan tidak berujung.


Ting!


Pintu lift terbuka, dia langsung keluar dari lift itu.

__ADS_1


Sang pria berjalan keluar dari area partemen, langkah kakinya menuju tempat parkir yang berada di depan bangunan megah tersebut.


"Huft, Aku tidak akan pulang ke rumah, Netta berada sendirian di apartemen ini.Aku tidak tega jika harus meninggalkannya, karena dia pasti butuh bantuanku. Paman Gerald sudah ada di rumah sakit dan semuanya terkendali karena Mommy, aku sangat berharap jika Netta juga mau aku jaga."


Adya, masuk ke dalam mobil mewahnya lalu bersandar di jok mobilnya, dia menatap ke arah layar ponsel dan mengirim pesan kepada Netta.


"Netta, selamat sore menjelang malam, aku akan tetap menjagamu."


Adya mengirim pesan itu dan langsung terkirim.


Sedangkan pesan itu lalu mendapatkan balasan.


"Terima kasih bos Adya."


Keduanya mulai berbalas pesan.


"Sama-sama Net, Netta, sudah makan belum?"


"Sudah, aku tadi makan bersama mu kan?"


"Oh iya, aku lupa. Ehm Netta, apa kau ada seorang pria yang kau suka?"


"Ada Tuan, tapi aku tak bisa mengatakannya. Menurutku, terlalu tinggi mimpi itu jika harus mendapatkan cinta yang sangat aku kagumi itu!"


Adya sangat penasaran dengan sosok pria yang dikagumi oleh Netta, tapi saat dia melakukan panggilan telepon terhadap gadis pujaannya, tiba-tiba saja ponsel miliknya mati.


"Astaga, aku tak langkah jika baterai ponselku tiba-tiba Mati saat genting seperti ini!"


Adya lalu mencari power bank yang ada di kantong jok mobilnya.


Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, sang pria lalu menyambungkan kabel charger ke slot yang ada di power bank itu.


"Huft, lebih baik menerima apa yang sudah ada di depan mata daripada terlalu banyak berkomentar atas kehidupan orang lain. Aku sebenarnya belum mau ikhlaskan hanya saja tetap mencintai dengan caraku sendiri!"


Sang pria yang masih meratapi kesedihannya lalu, ketika sang adik menelpon dirinya.


"Kak? Apakah Kak Aarav bersamamu?" tanya Bella.


"Kau ini aneh, aku dari tadi bersamamu, tapi kok tiba-tiba menanyakan aku bersama Kak Aarav atau tidak. Ini sangat menggelikan, Apakah kau benar-benar oleng saat mengantar Netta?"


"Haha, tidak ada hal semacam itu karena aku memang tidak bersama Kak Aarav, Aku sedang duduk di jok mobil, lalu memantau apartemen yang ditempati oleh sang gadis pujaanku."


"Bagus, kakak menjaga Netta dengan baik, aku hanya merasa lebih nyaman jika Netta tidak benar-benar ada dalam penguasaanku."


"Haha, kali ini kau harus mengakuinya. Aku lebih baik dari kakak kesayanganmu itu. Ehm oh ya, Kaka Aarav belum pulang ya? aku curiga dia ada masalah."


"Tidak ada, dia hanya sedang banyak pekerjaan."


"Oh, syukurlah jika seperti itu, aku tak suka jika Kak Aarav masih bermain gadis saat menikah dengan Netta, sangat menyebalkan menurutku, dia adalah kakak tertua tapi tidak memberikan contoh yang baik. Apa dia kira Daddy Alex akan diam saja? dia salah, Daddy pasti akan menghukumnya nanti jika tak menghilangkan kebiasaan buruknya yang menyebalkan itu!"


*****

__ADS_1


__ADS_2