CEO Bastard Yang Bucin

CEO Bastard Yang Bucin
Tiba-tiba menikah [Revisi]


__ADS_3

"Dia memang pria menyebalkan yang harus mendapatkan pelajaran dari daddy," ucap Adya yang selama ini memang berselisih paham dengan kakaknya.


"Iya kak, semoga dia bisa menjadi lebih baik lagi setelah menikah dengan Netta, aku harap gadis itu mampu merubahnya," cetus Bella.


"Ya ... ya ... ya, awas saja jika dia membuat Netta sakit hati, aku pasti akan memberinya pelajaran!" ungkap Adya dengan amarah yang tak tertahan.


"Kak, apa kau suka Netta?" tanya Bella yang mulai menyadari jika Adya hanya terfokus pada Netta, bukan yang lain.


"Iya, tapi aku mengalah, Netta akan mendapatkan masalah yang rumit jika tak segera menikah dengan Aarav, aku pun tak tega dengan apa yang akan dia hadapi di masa depan. Oleh karena itu, aku lebih baik tak terlalu mengurusi Kak Aarav, bisalah aku menjamin jika Netta hanya melakukan tugasnya saja, setelah itu akan kembali hidup normal," jawab Adya.


"Kak, kau sakit hati?" cetus sang adik.


Rasanya sangat sakit di dalam dada ini ketika mendapati perasaan yang tak menentu.


Adya sebenarnya tidak menyukai jika dia memiliki hal yang seperti ini, rasanya tak enak jika harus melihat gadis yang di cintai berada dalam pelukan pria tak tahu aturan, semacam sang kakak.


Sama saja dia memberikan akses seorang penjahat mendapatkan cinta Netta, gadis yang sangat di cintai oleh Adya.


"Sedikit, sudahlah! tidak perlu memikirkan hal itu karena aku baik. Mereka menikah dan aku baik-baik saja," jawab Adya berat hati.


"Oh, jadi kakak sekarang belajar tetang ikhlas ya. Oke, kakak semoga mendapatkan apapun yang diinginkan, semoga Netta dan Kak Aarav bahagia nanti."


"Iya, kita doakan saja, semoga mereka baik-baik saja."


"Ehm, aku sedang ingin tidur, kau sudah mengantuk belum?"


"Belum, baru juga pukul enam sore. Nanti saja tidurnya kak."


"Ya, kau temani aku saja."


"Oke."


Obrolan mereka berlanjut dan tak menyadari jika Aarav juga datang ke sana, memastikan bahwa Netta sudah berada di apartemen itu tanpa ada lecet atau kurang suatu apapun.


Aarav yang mengendarai mobilnya cukup santai, tak menyadari sang adik berada di depan apartemen.


Dia hanya melihat sekilas, ada sebuah mobil yang sama dengan mobil milik sang daddy, tapi dia berpikir, mobil Daddy kan banyak di pasaran.


Mungkin saja orang lain.


Aarav memakirkan mobilnya di depan apartemen dengan jarak cukup jauh dari mobil Adya.


Ini terlihat sangat sepele, tapi memang Aarav tak ingin kepo, dia membiarkan itu terjadi dan masa bodoh.


"Mungkin saja mobil orang lain," ucapnya sambil keluar dari mobil.


Dia segera berjalan masuk ke area apartemen dan menyapa semua orang yang dia temui, perasaannya cukup nyaman, dia bertanya pada seorang resepsionis," Nona, di sini ada gadis bernama Netta menginap, ada di nomor berapa dia?"

__ADS_1


"Anda yang datang dan lupa ya?"


"Maksudnya?


"Tadi ada orang mirip anda, bersama seorang gadis bernama Netta, baru saja datang. Baru sebentar sudah lupa tuan?"


"Hm, aku merasa tidak datang kemari, tadi aku ada urusan. Mungkin saudara kembar saya, dia lebih tinggi atau pendek dariku?"


"Tinggi dikit, tapi mirip wajahnya dengan anda tuan."


"Oh, dia adik saya, kami kembar lima."


"Wow mantap sekali, Hm gadis itu sangat beruntung di perebutkan oleh lima pria dengan wajah yang rupawan," batin sang resepsionis.


"Oh, jadi kalian memiliki satu gadis yang disukai?" tanya sang resepsionis kepo.


"Tidak ada hal seperti itu, aku tak akan membagi apa yang aku miliki! dia hanya bertugas mengantar istriku saja."


"Oh, oke. Dia belum jadi istri atau sudah menjadi istri?"


"Otw menjadi istri. Katakan dia berada di nomor berapa?"


"No 22 Tuan, Apa kau membutuhkan kunci cadangan?"


"Iya, kau berikan saja padaku!"


"Oke."


"Astaga, mata pria itu sangat tampan!" ucap sang resepsionis lirih.


Aarav adalah pria yang sangat mengesalkan, dalam melakukan segalanya sesuai dengan apa yang dia inginkan tanpa memikirkan perasaan orang lain.


Dia lebih fokus kepada kehidupannya dan kebahagiaannya sendiri daripada memikirkan kepentingan orang lain sehingga dia sangat egois.


Ting!


Lift terbuka, dia langsung masuk ke dalam lift.


Beberapa menit kemudian, lift terbuka, ini membuat Aarav cukup bahagia karena mendapati apartemen sang gadis, berada tepat di depan lift.


"Bagus, Aku sudah sampai di depan kamar calon istriku. Aku tidak akan melakukan kesalahan lagi, aku akan menjaganya, Meskipun aku adalah seorang pria yang tidak baik, dan masih selalu genit. Namun, Aku berusaha untuk jadi yang terbaik untuk calon istriku nanti."


Aarav melupakan hukumnya akan berlaku nanti, dia sama sekali tidak memahami bahwa setiap perbuatan pasti ada balasannya entah kadarnya seberapa.


Dosa Aarav terhadap seorang gadis yang kini yang menderita di dalam rumah sakit merupakan dosa besar, semoga dia segera melakukan pertobatan.


...

__ADS_1


Setelah tahu jika kamar apartemen milik sang gadis ada di depan lift, dia langsung berjalan menuju kamar itu.


Lalu menggesekkan kunci kartu, dan pintu besi itu terbuka.


"Halo cantik?" ucap Aarav saat mendapati Netta sedang menonton televisi dan bermain ponsel.


"Astaga, apa yang bos lakukan di sini?"


"Aku ingin menemuimu, tapi kau sama sekali tak suka?"


"Bukan begitu bos, kau tiba-tiba datang dan membuatku terkejut!"


"Haha, iya aku memang sengaja membuatmu terkejut agar kau mengganggapku seorang pria yang penuh kejutan."


"Hm, Aku justru menganggapmu seorang pria yang tidak tahu aturan dan tidak sopan, kok seharusnya menekan bell dulu daripada masuk meskipun kamu memiliki akses!"


"Ya ya, aku memang tidak mau ribut Karena Kau adalah orang yang ribet, buatkan aku minum!"


"Ya."


Netta hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh sang bos, dia tidak terlalu banyak bicara karena sampah jika dilawan pasti akan memberikan efek yang buruk padanya, apalagi dia hanya menumpang di tempat itu sehingga harus tahu diri.


Sang gadis mempersilahkan sang bos untuk duduk di sofa.


Lalu, dia beranjak dari tempat duduk dan menuju dapur.


Dia segera membuatkan secangkir teh untuk sang Bos, dia tidak mengetahui takaran yang sebenarnya tetapi dia hanya mengira-ira.


Sang gadis terlihat kebingungan dengan barang-barang yang ada di sana, semuanya nampak asing dan dia tidak tahu di mana gula ataupun teh.


Namun, dia bisa melakukannya, setelah secangkir teh siap, sang gadis segera menyaksikannya kepada sang Bos.


Netta perjalanan menuju sofa tempat sang bos yang sedang duduk.


Dia meletakkan secangkir teh diatas meja.


"Teh untuk bos."


"Oke, terima kasih."


Sang pria hanya menatap Netta.


"Kita menikah hari ini ya?"


"Apa?"


******

__ADS_1


__ADS_2