CEO Bastard Yang Bucin

CEO Bastard Yang Bucin
Sispack dan Berkeringat


__ADS_3

Sesampainya di resort ...


Mobil Bella ada di depan resort yang sangat mewah, di depan rumah yang syarat warna keemasan itu cukup berkilau.


Bella meminta dua orang itu untuk turun dan masuk ke dalam resort.


Netta dan Aarav turun bersamaan, kini terlihat jelas bahwa dus orang itu memang harus satu atap.


"Aku pulang dulu ya? Bye?"


Bella langsung meninggalkan kakak dan kakak iparnya begitu saja, terlihat jelas bahwa Netta dan Aarav malu-malu.


"Tuan bos? Masuknya kapan?"


"Ha? Masuk apa?"


Otak yang tidak sinkron dari pria o me sh ini, cukup menyebalkan.


"Masuk ke dalam rumah. Masak masuk kemana."


Netta yang polos tak memahami apa yang di katakan oleh Aarav.


Sang suami bisa bernafas lega.


Kini dua orang itu sudah ada di depan pintu masuk. Aarav membuka pintu yang tidak terkunci itu.


Klek!


Di dalam rumah sudah di hias dengan banyak hal, kado yang sangat memenuhi ruangan juga sangat membuat Netta heran.


"Banyak sekali kadonya, bukannya sudah ada di rumah bos?" tanya Netta.


"Biarkan saja, lebih baik kita langsung ke kamar, aku lelah."


Sang suami yang sebenarnya keringat dingin saat berada di samping Netta, tidak merasa baik-baik saja. Semuanya sangat canggung.


"Oke."


....


Aarav yang sudah paham dimana letak kamar pengantin, membawa Netta mengikuti langkahnya.


Setelah menemukan kamar itu, dia membuka pintunya.


Di dalam kamar itu, tak kalah menghebohkan karena ada beberapa lingerie serta alat-alat pertempuran malam pertama yang tidak masuk akal.

__ADS_1


Ada juga box yang bertuliskan," Di sarankan tidak boleh pakai pengaman karena akan membuat cucuku lama hadir."


"Astaga, semua orang itu aneh."


Netta yang merasa badannya kotor, meminta izin untuk menggunakan kamar mandi dulu.


Aarav mengizinkannya.


Netta masuk ke dalam kamar mandi dan Aarav menelpon Bella.


"Bella? Kau ada dimana?"


"Aku on the way pulang."


"Besok kau datang kemari, ada hal penting yang harus aku bicarakan!"


"Aku tidak bisa, daddy melarangku untuk menganggu kalian berdua bulan madu. Masih ada waktu sepuluh hari untuk kita bertemu, bye kakak. Aku sedang ada misi, jadi kau urus semuanya sendiri."


Panggilan telepon itu tiba-tiba saja terputus.


Aarav frustasi.


Dia sebenarnya ingin jujur pada Bella tentang rahasianya sebelum daddy dan mommy tahu.


Satu jam berlalu ...


Aarav bermain sebuah samsak di sebuah ruangan yang ada di tempat itu, dia tiba-tiba ingin berolah raga.


Netta sudah selesai mandi dan tidak bisa memakai resleting bajunya. Dia yang polos, mencari Aarav dan meminta bantuan sang suami.


"Bos? Bos Aarav? Kau ada dimana? Bisa kau membantuku mengenakan baju ini? resleting ini tidak bisa dijangkau," ucap sang gadis.


Aarav yang mendengar suara Netta, perlahan keluar dari ruangan itu, pintunya seperti ala-ala jepang, jadi saat digeser sang gadis tahu ada suara di salah satu sudut ruangan.


"Ada apa?" tanya Aarav dengan tubuh penuh keringat, badan tegap dan perut kotak-kotak penuh peluh yang menggoda.


Sang suami memang memiliki tubuh yang sangat bagus, tak heran jika dia menjadi idaman semua gadis.


Netta menoleh," Bos Aarav, aku ...." Netta yang terkejut mendapati perut yang sispack dan penuh lekukan indah itu, tiba-tiba menutup matanya.


Aarav semakin mendekat.


"Kenapa kau menutup matamu?" tanya Aarav.


Sang gadis perlahan membuka matanya dan mendapati badan atletis itu tepat di depan wajahnya.

__ADS_1


"Astaga, perutmu kotak-kotak bos, seperti nasi box."


Astaga Netta keceplosan, dia bahkan menyamakan perut indah itu kotak nasi hajatan.


"Ish, aku sudah berolah raga setiap hari dan kau bilang perutku kotak nasi? Keterlaluan," ucap sang suami pura-pura kesal, padahal aslinya dia tertawa di dalam hatinya. Bisa-bisanya Netta mengeluarkan istilah abnormal.


"Maaf bos, aku ingin menaikkan resleting ini, aku sudah mencoba tapi tidak bisa," jawab sang gadis sambil menatap ke arah cermin dan menunjukkan apa yang membuatnya kesulitan.


Aarav cukup tergoda dengan kulit Netta yang putih dan lembut, namun rasa gugupnya menghancurkan otak nge res nya.


"Oh oke, aku bantu."


Aarav perlahan mendekat, benar-benar berada dalam jarak dekat dengan sang istri.'


Dia menghirup aroma parfum yang sangat soft dan memabukkan.


"Aroma bunga mawar, aku suka."


Aarav tak sengaja menge cup tengkuk sang gadis dan menimbulkan sensasi aneh.


"Kau sangat cantik Netta. Apa kau sudah siap melakukannya denganku?"


"Melakukan apa tuan?"


Aarav tersadar saat suara Netta begitu terkejut dan melengking, seolah-olah memaksa Aarav menjauhinya.


Netta benar-benar tidak memahami perasaannya yang tidak menentu ini.


"Kenapa pakai baju yang ada resletingnya, kau akan tidur kan?'


"Tidak bos, aku mau naik ke lantai dua dan menikmati bintang-bintang."


"Oh, oke. Lakukan saja. Aku mau latihan lagi."


"Bos tidak tidur?"


"Kau teman tidurku, tapi kau tidak tidur. Jadi aku juga harus begadang."


"Astaga, benar juga, aku sekarang teman tidur bos Aarav," batin sang gadis.


Dia belum mampu beradaptasi, sikap bosnya yang cuek dan ceplas-ceplos membuatnya, tak bisa leluasa dalam menjalani hari di resort itu.


Padahal sejatinya, Aarav yang lebih tersiksa, dia ingin melahap sang gadis tetapi anggota tubuhnya kelu.


****

__ADS_1


__ADS_2