
Beberapa menit berlalu, lift terbuka.
Tiga orang itu keluar dari lift, kemudian berjalan menuju pintu keluar hotel itu.
Kini tiga orang itu sudah berada di area luar, Jenie yang merasa mengajak dua orang itu meminta dua gadis manis, masuk ke dalam mobilnya.
Setelah masuk, Jenie tancap gas dari tempat itu.
Adya yang ketiduran di dalam mobil, dia tak tahu jika Bella dan Netta sudah pergi dari apartemen itu.
Sepanjang perjalanan menuju tempat yang dimaksud, Bella terus saja bercerita banyak hal.
"Netta, kau tidak perlu sungkan pada kami, Daddy Alex itu adalah orang yang baik dan memiliki banyak teman, jadi kau dan bibi Jenie harus sering berbicara," ucap Bella
"Iya nona bos, hanya saja kalian adalah orang-orang yang memiliki title tinggi, aku mah apa?" Sang gadis merasa menjadi orang miskin dari dua orang yang ada di dalam mobil itu.
Dia sadar diri jika menjadi seorang gadis, tidak baik bergaul dengan orang berpunya.
Bella langsung memeluk tubuh calon kakak iparnya.
"Haha ... aku senang saat kau begitu ramah dan apa adanya, entah mengapa kau memang mendapatkan tempat terbaik di hati Kak Aarav, kau cocok dengannya," ucap Bella yang sangat senang dengan pernikahan ini.
"Terimakasih atas kebaikan hati kalian berdua, aku tak ada apa-apanya tanpa nona bos dan bibi Jenie, oh ya restoran tuan bos Aarav, besok akan banyak pekerjaan, bagaimana jika dia tak datang karena ulahku?"
Netta merasa bersalah telah menendang anu si pria tampan, hanya saja dia cukup puas karena pria yang kurang ajar, harus beri pelajaran.
Dia tak mau jika bosnya, melakukan hal ini lagi padanya, padahal Aarav tidak begitu saja menolak atas apa yang diperjuangkan nantinya.
Meskipun dia menyembunyikan fakta penting, pada akhirnya, dengan kekuasaan yang dia miliki, mampu membungkam mulut dan menyembunyikan semuanya.
..
Di dalam mobil itu masih terjadi obrolan mengenai Aarav, tiba-tiba saja ponsel Netta berdering. Sang gadis lalu menjawab panggilan telepon itu.
"Halo tuan bos Adya?" tanya sang gadis.
"Kau sudah tidur?" sahut Adya.
"Belum, aku sedang pergi memesan W.O, untuk pernikahanku dan bos Aarav nanti," ucap Netta dengan gamang.
"Oh, hati-hati di jalan ya?" pinta sang gadis.
"Ya, terima kasih." Netta paham dengan suara sang bos Adya yang sangat khawatir dengannya, tapi dia berusaha tak menghiraukan.
Netta bukan gadis yang mudah di dekati oleh siapapun, dia hanya seorang gadis yang sederhana.
Sesampainya di tempat yang dimaksud ...
__ADS_1
Netta masih mengobrol dengan Adya di panggilan telepon,lalu dia mengatakan kepada Netta," Net, sebenarnya aku tidak rela kau menikah dengan kakakku, tapi mau bagaimana pun, keputusan ada di dalam tanganmu, aku tak bisa membiarkan kau bersedih, jadi kau harus bahagia."
Adya mengatakan itu penuh kebahagiaan.
Dia baru saja menemukan cinta sejati, eh sudah mau pergi lagi.
"Ya tuan bos, saya akan selalu bahagia, tapi maaf ya, aku harus turun dari mobil karena tempat yang dimaksud, sudah ada di depan mata. Nanti, kita lanjut lagi, bye."
"Bye."
Panggilan telepon usai, Bella yang memahami perasaan Netta, mencoba mengingatkan sesuatu.
"Net, kau memilih Kak Adya atau Kak Aarav?"
"Bos Aarav nona bos, aku tak mungkin menikahi bos Adya, karena aku dan bos Aarav juga tidak lama lagi."
Netta keceplosan.
"Netta, jangan kau buka rahasia mu," bisik Bella.
"Apa maksudnya sayang?" tanya bibi Jenie yang penasaran.
"Tidak ada bibi, hanya saja Netta salah bicara," jawab Bella.
"Oh, ya sudah, aku merasa ada yang aneh dengan pembicaraan kalian berdua, jadi aku bertanya tadi. Iya tak apa-apa, kau harus lebih semangat lagi Netta, Aarav bukan orang yang mudah, dia cukup menyebalkan!"
"Iya, Dia juga sering menggodaku, bagaimana bisa menggoda bibinya sendiri sendiri, lewat panggilan telepon lagi! Willy kan jadi cemburu, lalu aku telepon Laras, untuk mengatakan kepada Laras bahwa putranya jangan menggodaku di panggilan telepon, tetapi sungguh malang nasibku, yang menjawab panggilan telepon adalah Alex. Makin cemburu dia," ucap bibi Jenie.
"Haha, paman Willy sangat cemburu dengan Daddy? lucu sekali!" Bella tertawa sampai perutnya sakit sehingga membuat Netta juga ikut tertawa tapi dia tidak bisa seperti Bella.
Dia masih memikirkan ayahnya yang sakit dan juga perasaannya yang harus dikorbankan oleh akan menjadi seorang istri bagi Aarav, seorang pria playboy yang menyebalkan serta penuh dengan teka-teki sehingga dia harus benar-benar ekstra sabar.
Netta, hanya tidak ingin Dua saudara bertengkar sehingga dia harus melakukan semuanya, bukan berarti dia menyukai Aarav.
Netta berusaha untuk mempersatukan dua saudara itu lagi, toh dia bisa berbuat baik kepada keluarga Fernando dengan cara ini karena telah membantunya begitu banyak.
Biaya rumah sakit yang tidak sedikit sudah dibayarkan oleh Alex, semua fasilitas apartemen serta pernikahan yang murah sudah disiapkan.
Mana bisa membayarnya dengan uang?
Dia hanya bisa membayar semua itu dengan Budi baik, salah satunya menikahi Aarav.
"Mau terus bicara? atau akan masuk ke dalam sana?" ujar bibi Jenie mengingatkan.
"Haha,maaf bibi, kami akan keluar bersama bibi ke gedung itu."
Tiga orang tersebut, keluar dari mobil dan berjalan menuju tempat dimana kantor W.O bibi Jenie.
__ADS_1
Langkah ketiganya terhenti oleh pelukan seorang wanita yang tiba-tiba datang.
"Shine, apa kabar?" tanya Bibi Jenie.
"Baik, mana gadis yang akan menikah?" ujar Shine.
"Ini bibi Shine," ucap Bella yang mendorong tubuh Netta ke arah Bibi Shine.
"Halo? namamu siapa?"
"Aku Netta, bibi siapa?"
"Aku Shine, ayo kita ke dalam. Kau sangat Cantik dan polos, aku suka!"
Bibi Shine merangkul Netta dan membawa gadis itu pergi bersamanya.
Sedangkan Bella dan bibi Jenie ada di belakang mereka.
...
Di dalam gedung ...
Ke empat orang itu naik lift ke lantai 3 untuk menuju ruangan sang bibi Shine.
Netta yang kelelahan dan penuh pikiran, terlihat sangat pucat, hingga.
Bruk!
Netta pingsan.
Ketiga orang itu sangat panik.
"Netta, apa yang terjadi padamu! Netta!" ucap Bella.
Ting!
Untung lift terbuka dengan waktu yang cepat sehingga tidak membuat semua orang di sana ketakutan.
"Bawa dia masuk ke dalam ruanganku," ucap Bibi Shine.
Ruangan bibi Shine, berada di sebelah lift, jadi sangat cepat aksesnya.
Setelah Netta di bawa masuk ke dalam ruangan, sang gadis dibaringkan di sofa.
"Ambil minyak angin di lemari itu," ucap bibi Shine menunjukkan lemari penuh dengan barang-barang pribadinya termasuk obat-obatan.
"Baik bibi," jawab Bella.
__ADS_1
*****