
Adya yang berada di dalam kamarnya langsung menelpon Netta, dia mendapatkan nomor ponsel sang gadis melalui Silvi, orang yang paling dekat dengan Netta.
Dia berusaha memanggil nama tersebut tetapi tidak ada jawaban sama sekali, berulang kali dia berusaha hingga panggilan ke lima, baru mendapatkan jawaban.
"Halo? siapa ini?" tanya Netta.
"Aku? Hm ... aku, aku ... yang ...." Sang putra mafia gugup saat berbicara dengan Netta.
"Iya, aku Hm? aku yang? maksudnya apa ya saya tidak mengerti?"
"Aku Adya, adiknya Tuan Bos Aarav!"
Akhirnya dia mampu mengatakan hal yang benar.
"Oh, Tuan bos Adya, mengapa tiba-tiba menelponku?"
"Aku ingin memastikan bahwa dirimu sudah menerima Kakakku menjadi calon suamimu nanti."
"Aku? sebenarnya masih bimbang tapi karena ada sesuatu yang harus aku lakukan, aku akan tetap menikah dengan kakak Tuan Bos."
"Oh, bagaimana dengan perasaanku? apa kau tak bisa mempertimbangkannya?"
"Maaf Tuan bos, bukannya aku tidak bisa bersamamu. Namun, jika boleh memilih aku lebih ingin bersama Tuan bos Adya, kau sangat baik dan penyayang. Tipe saya Tuan bos."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Netta, membuat Adya besar kepala sehingga dia tersenyum sendiri seperti orang tidak waras.
Klek!
Tiba-tiba saja seseorang membuka pintu kamarnya.
"Oh, dicari-cari ternyata ada di sini! sedang menelpon siapa coba aku lihat?"
Sang kakak memang kurang ajar, dia merebut ponsel milik sang adik dan langsung menjawab panggilan telepon yang sedang berlangsung.
"Halo, apa kau kekasih adikku?"
Tut ... Tut ... Tut ....
Panggilan telepon itu, tiba-tiba terputus.
Aarav melihat di daftar panggilan keluar ada nama beruang manis, sang kakak curiga jika beruang manis adalah kekasih adiknya.
"Cie, apakah sekarang mudah sekali jatuh cinta?"
"Bukan urusanmu! kembalikan ponselku!"
"Iya, galak amat sih!"
__ADS_1
Aarav menyerahkan ponsel milik sang adik kemudian masih heran dengan siapa sang adik melakukan panggilan telepon.
Aarav yang seperti jaelangkung itu tiba-tiba keluar dari kamar sang adik, dia tidak memperdulikan perasaan adiknya yang kini sedang berbunga-bunga tetapi dirinya langsung membenamkannya di dalam lautan lumpur yang sangat menyakitkan.
"Astaga! mengapa aku memiliki kakak yang setega itu, dia kakakku tetapi tidak pernah membiarkanku hidup bahagia saat mencintai seseorang gadis."
Adya merasa jika pilihannya selalu sama dengan sang kakak, saat sang kakak bersama mantan kekasihnya yang membuat dirinya syok berat, Adya juga memiliki perasaan yang sama.
Setelah beberapa waktu berlalu, Netta mendapatkan giliran yang menyedihkan itu.
Dia diperebutkan oleh Adya dan Aarav.
Adya boleh menghubungi nomor sang gadis, namun sudah tidak aktif lagi.
"Shiitt! ini semua karena kakak, dia terus saja menyukai apa yang aku sukai!"
Adya merasa kesal dengan apa yang selalu kakaknya inginkan, hal yang sama, semuanya sama.
Sampai keduanya sering bertengkar gara-gara pasangan hidup atau sesuatu yang membuatnya tidak nyaman karena selera yang sama dengan sang kakak.
"Adya terus terus berjuang jika ingin mendapatkan Netta, sebelum pendeta datang, aku masih memiliki kesempatan! maju terus!!!
Adya masih sangat percaya diri untuk mendapatkan sang gadis dan bisa berkompetisi secara sehat.
...
Adya masih memiliki semangat yang menggebu-gebu, sedangkan Aarav masih penasaran dengan siapa sang adik berbicara di sambungan telepon.
Dia ingin sekali menghubungi Netta, dan memastikan jika sang gadis tidak berhubungan dengan Adya, ataupun berbicara dengan sang adik di sambungan telepon.
"Setahuku, aku memiliki nomor ponselnya saat bertanya dengan Silvi," ucap Aarav.
Dia segera melakukan panggilan telepon terhadap sang gadis namun tidak kunjung mendapat jawaban yang pasti.
Sampai panggilan telepon yang kesepuluh pun tidak ada jawaban sama sekali.
Dia mulai kesal.
Aarav segera menelpon Silvi, orang yang sangat dekat dengan gadis udik.
"Silvi? pergi ke rumah Netta dan lihatlah apa yang terjadi di sana?" perintah sang bos.
"Tapi bos, aku sedang bekerja dengan kekasihku?" jawab Silvi.
"Kau mau berkencan dengan kekasihmu, mau berkencan dengan kambing, mau berkencan dengan sepatu hak tinggi, aku tidak peduli! apapun yang aku katakan padamu, lakukan dan segera laporkan kepadaku jika ada apa-apa dengan Netta, kau mengerti?" Sang bos terlihat sangat marah karena dia curiga Netta sengaja tidak menjawab panggilan teleponnya karena sedang dekat dengan pria lain.
"O-ke b-os!"
__ADS_1
..
Sang bos mematikan panggilan telepon itu kemudian menunggu laporan dari salah satu karyawannya yang sedang menyusul ke rumah Netta.
Beberapa menit kemudian nomor Netta tiba-tiba membuat panggilan, senyum manis mengembang di bibir pria kurang ajar itu.
"Hey! gadis bodoh! mengapa tidak menjawab panggilan teleponku?" tanya Aarav yang terlihat senyum-senyum sendiri dan berlagak sok marah.
"Maaf Aarav, aku sedang mencuci dan ponsel milikku habis baterainya, jadi sedang aku charge. Maaf Tuan bos," ujar Netta memberikan alasannya.
"Bagus, jangan pernah menjawab panggilan telepon dari pria selain aku! jika kau melakukannya, akan aku buat menderita hidupmu!"
"Ma-af Aarav, aku tidak akan melakukannya, semua yang katakan pasti aku akan menurutinya, tapi kau berjanji jangan memarahi bos Adya, dia orangnya baik. Aku tidak ada hubungan apapun dengannya jadi berhenti untuk marah-marah," ungkap Netta.
Dia sebenarnya tidak terlalu mempedulikan Adya, tapi karena sang adik selalu dekat dengan Netta, rasanya panas, dia tidak rela jika pilihannya menjadi pilihan Adya juga.
"Bagus, dimana rumahmu? aku akan menjemputmu besok pagi," ujar Aarav.
"Di jalan xxx Tuan Bos," jawab Netta.
"Oke, tunggu kedatanganku besok! selamat malam."
"Ya bos, selamat malam juga!"
Bos Aarav menutup panggilan telepon itu kemudian tersenyum bangga.
"Adya, besok adalah hari patah hati internasional untukmu! jangan pernah berharap untuk bersaing dengan kakakmu, kau harus memilih gadis lain!" cakap Aarav.
...
Aarav puas, kini dia hanya menunggu waktu untuk sang adik bertindak.
"Kita lihat, seberapa banyak cinta yang Adya berikan untuk gadis udik itu!"
Senyum menyeringai mengembang sempurna di bibirnya.
Dia akan menjadi pria pertama yang akan menemui Netta di rumahnya langsung, si Aarav tidak mau kalah dengan Adya yang juga terus saja mendekati Netta.
Entah dia sadar atau tidak, sikapnya yang demikian justru akan membuat Aarav semakin kesulitan dikemudian hari.
Tidak seperti awal rencananya yang hanya meminta bantuan Netta agar mau menjadi gadis yang akan Aarav nikahi secara kontrak, justru lebih dari itu.
Aarav memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan rasa cemburunya yang terkesan tidak masuk akal.
Sebuah sikap yang akan membuat Aarav terjebak.
"Apa aku menyukai gadis itu? ah ... tidak mungkin! dia hanya barang mainan, mana ada karyawan menikah dengan bos? ini hanya terjadi di televisi saja!"
__ADS_1
Sang pria begitu percaya diri tidak akan menyukai Netta, padahal sikapnya tidak menunjukkan hal yang demikian.
*****