CEO Bastard Yang Bucin

CEO Bastard Yang Bucin
Otw W.O


__ADS_3

"Mommy, aku dan Bella mau pergi dulu," ucap Netta mengakhiri segalanya.


"Oke, bentar lagi pasti Jenie datang," jawab sang mommy.


"Oke siap!"


Belum berhenti berbicara, bel sudah berbunyi.


Bella langsung mengajak sang calon kakak ipar pergi dari kamar apartemen itu.


Mereka berdua tak lupa pamit terlebih dahulu pada mommy Laras.


Selanjutnya, dua orang itu, terlihat saling bertatapan, "Aku merasa jika terlalu menjadi orang lain, akan menyulitkan keluarga Tuan Fernando, tapi jika aku terlalu sok akrab, salah juga, Hm ... aku harus bagaimana bersikap ya?"


Sang gadis bergumam dalam hatinya, dia tidak tahu apa yang harus di lakukan, sehingga sangat mudah baginya pening.


"Owh, kau melamun karena gugup ya?" Kata-kata Bella membuat sang gadis terbangun dari lamunannya.


"Oh tidak, hanya saja besok ada banyak pekerjaan, aku tidak bisa jika harus melakukan ini terlalu lama, bos Aarav pasti akan marah padaku nanti."


"Haha, kau tidak perlu takut padanya, karena dia adalah orang yang sangat patuh pada mommy dan Daddy, kau adalah putri paman Gerald, ada hak istimewa yang kau miliki, jadi kau tidak usah merasa menjadi orang yang berbeda! Aku akan membantu setiap kesulitan!"


Sang calon adik ipar, merasa harus membantu Netta, karena sejatinya sang gadis merupakan orang yang tak bisa mengambil sikap saat sang bos begitu marah.


Dia lebih memilih untuk mengalah dan menuruti apa yang dikatakan oleh bosnya.


Seperti saat ini, dia sebenarnya tidak mau melakukan tindakan yang membuat sang bos kesakitan, hanya saja gadis itu tak cukup lihai memberikan pelajaran bagi Aarav sang pria kurang kerjaan itu.


"Net, kau tak perlu merasa takut, karena aku akan membuat kakak jera dengan perbuatannya. Aku tak bisa lihat gadis baik kau diperlakukan tidak baik, tenang saja kita akan memberikannya pelajaran!"


Sang adik lalu merangkul kakak iparnya kemudian membuka pintu, di sana dia mendapati bibi Jenie.


"Hai bi!" sapa Bella.


"Hai juga, wah ini calonnya Aarav ya?" tanya bibi Jenie.


"Iya bi, dia cantik kan?"

__ADS_1


"Sangat cantik."


"Dia putri paman Gerald."


"Apa? putra Ge? Haha... apa bos Alex menerima semua ini?"


Jenie ragu, karena Ge memang mantan kekasih Laras, dan Alex adalah pria pencemburu.


"Haha, tenang saja,dia tak akan marah, kami bisa menyelesaikan dengan baik semua ini demi kebaikan."


Bella, lalu mengajak Jenie dan Netta segera pergi dari apartemen itu.


Dia lalu mendorong tubuh dua orang yang menyebalkan karena tak kunjung masuk ke dalam lift, agar mereka bisa turun ke bawah lalu tancap gas menuju tempat W.O terbaik.


Di dalam Lift ...


"Kau putra Gerald ya?"


"Iya bibi, memangnya kenapa?"


"Laras-Gerald itu adalah orang yang saling mencintai dulu, Alex-Livy juga sama. Kebetulan yang aneh."


"Ya, tapi aku riskan dengan bos Alex, dia kan orangnya cukup cemburu saat Ge ada di dekat Laras."


"Tenang saja, mommy aman, Daddy juga aman."


"Oh okelah, Jika semua itu baik-baik saja! aku hanya merasa khawatir jika pernikahan mereka ditentang oleh kedua orang tua masing-masing, harus menjalani kehidupan yang sulit tanpa restu."


"Iya, aku paham apa yang bibi rasakan, hanya saja bibi terlalu berlebihan dalam berpikir."


"Berpikir apa ya?" tanya bibi Jenie.


"Aku rasa hubungan Netta dan Kak Aarav akan mendapatkan persetujuan, jadi kita akan lebih mudah melihat mereka berdua menjadi pasangan idaman," jawab Bella, dia sangat ingin kakaknya mendapatkan kebahagiaan, daripada terus saja bermain gadis seperti sebelumnya.


Bella sejatinya sangat ingin Aarav memiliki kisah yang sempurna bersama seorang gadis polos seperti Netta yang tak pernah melihat keluarganya dari sisi seorang pria kaya, tetapi sebagai layaknya manusia biasa yang juga sangat ingin di manusia kan, harta dan benda hanya sebuah simbol, akan lebih baik jika dianggap manusia oleh sesama manusia, mungkin itu yang di rasakan oleh Bella.


"Alex apa kabar ya?" tanya Bibi Jenie.

__ADS_1


"Wah Bibi Jenie rindu daddy ya? ingat dia hanya mantan bagi Bibi," goda Bella.


"Haha, mana ada hal seperti itu? bibi dan dia memang hanya teman," cetus Bibi Jenie gugup.


Dulu memang dia ada perasaan dengan Alex, namun Willy mampu mengalihkan dunianya, bahkan ancaman Mark pun bisa dibendung oleh Willy.


Kini semua anggota mafia itu telah memiliki kehidupan masing-masing, hanya bibi Jenie yang masih bernaung di Death Angel karena sang suami, adalah bos Death Angel menggantikan suaminya.


Seperti baru saja mereka berpisah, anak-anak sudah tumbuh besar.


"Daddy dan Mommy, pernah menceritakan padaku, dia sangat menyayangi bibi dan paman, meskipun ada cinta masa lalu," celetuk sang putri mantan mafia.


Bella yang sangat iseng dan jahil seperti Alex, sangat senang menggoda bibi Jenie, Netta yang tak paham obrolan mereka, hanya menatap wajah sang ayah dan ini di ponselnya.


"Net, maaf! kami terlalu asik mengobrol hingga melupakan kehadiranmu," ucap Bella merasa bersalah.


"Oh, tidak apa nona, aku senang mendengarkan cerita. Ayahku dulu juga pernah mengatakan bahwa tuan Alex orang yang kuat, ibu Livy sangat mencintai tuan Alex. Dia memang pria berkharisma, jadi aku tak merasa keberatan akan hal ini." Netta cukup memahami apa yang terjadi, sehingga tak mempersalahkan hal ini.


Dia hanya rindu ayah Gerald yang sangat baik padanya selama ini, merawatnya tanpa pamrih, makanya Netta sangat sayang dengan Gerald.


"Netta, kau jangan bersedih, karena ayah Gerald juga ayah kami berenam, jadi nanti kau bisa merawatnya setelah pulang dari rumah sakit, untuk saat ini memang ayah Ge, sedang dalam perawatan yang intensif, jadi tidak bisa di intervensi oleh keluarga, kau sabar dulu ya? tidak apa-apa kan?" Bella yang cukup dewasa, menyampaikan apa yang seharusnya, dia tak mau melihat Netta sedih hanya karena tak bisa menjenguk ayahnya untuk beberapa waktu.


"Maaf ya, aku telat memberikan info, mommy lebih fokus dengan Kak Aarav, jadi aku pun tak sempat mengingatkan mommy untuk mengatakan hal ini padamu," imbuh Bella.


"Ya nona, tak masalah, aku sangat berterima kasih bisa di terima dalam keluarga ini, jadi untuk selanjutnya, aku akan menjadikan kalian semua majikan ku," ujar Netta polos.


"Haha, mana ada majikan, kau adalah kakak iparku, kau santai saja ya?"


"Tapi nona?"


"Diamlah, aku tak mau mendengar apapun darimu."


"Baik, terima kasih ya?"


"Ya, sama-sama."


Obrolan di dalam lift, cukup panjang juga meskipun hanya beberapa menit.

__ADS_1


Tapi sangat membuat keduanya akrab, apalagi Netta yang polos, cukup menghibur Bibi Jenie.


*****


__ADS_2