CEO Bastard Yang Bucin

CEO Bastard Yang Bucin
Hanya simbiosis mutualisme


__ADS_3

Sang putra menelpon daddynya untuk segera ke rumah Netta, namun saat ini sang daddy masih berada di luar kota bersama Willy karena urusan Death Angel yang sangat genting, namun Aarav berusaha keras untuk meminta tolong kepada mommy nya, karena ada teman sang daddy yang ingin bertemu dengannya.


Sang teman sedang dalam masalah dan memiliki penyakit yang cukup meresahkan.


"Siapa orang itu?" tanya Laras di sambungan telepon.


"Gerald, dia mantan kekasih Mommy kan?" tegas Aarav.


"Ge-Gerald? astaga bagaimana keadaannya? setahuku dia ada di geng Scorpion, meskipun Liviy Garcia sudah meninggal dunia, dia tetap setia dengan putri kecilnya bersama di geng tersebut, tapi aku tidak pernah mengetahui keberadaannya setelah beberapa tahun. Ini kabar yang mengejutkan, aku akan meminta Alex untuk datang ke sana karena ini pasti hal yang penting! aku tidak akan membiarkan Gerald menderita terlalu lama!" ucap sang mommy.


"Siap mommy, tolong kerjasama!" pinta Aarav.


"Oke, nanti kalau suamiku sudah menyetujui hal ini pasti aku akan memberikan kabar kepadamu!" jelas sang mommy.


Panggilan telepon itu, sudah berakhir dan Gerald tersenyum saat mendengar suara Laras.


"Laras, sudah lama aku tidak melihatnya. Apakah dia masih secantik dulu?" tanya Ge tiba-tiba.


"Iya Paman, mommy ku tetap masih cantik karena daddyku memberi pelayanan yang luar biasa kepadanya, aku mengatakan hal yang sebenarnya!" cakap Aarav mengatakan hal yang tidak seharusnya Dan langsung mendapat teguran dari Netta.


Dia berdehem agar sang ayah tidak terlalu memperhatikan apa yang dikatakan oleh putra mantan mafia itu.


"Hehe ... kau itu sama persis dengan daddymu, selain suka bercanda juga sangat tampan! aku kagum kepadamu, aku merestui pernikahan kalian berdua. Menikahlah, semoga kalian bahagia!"


Doa terbaik untuk pasangan muda itu membuat keduanya terkejut dan tidak percaya.


...


Semudah itu Ge memberikan restunya padahal ada banyak pria yang melamarnya, termasuk Bos Noland, tapi dia tidak akan memberikan restu.


"Ayah, apa ini benar? ayah memberikan kami restu?" tanya Netta yang heran dengan pernyataan sang ayah.


"Iya, aku percaya dengan Alex, dia akan jadi mertua terbaik untukmu. Selain itu, aku juga bisa bertemu dengan Laras dan berbicara banyak hal dengannya. Aku sudah tidak memiliki rasa dengannya tapi rasa nyaman saat bersamanya lebih dari segalanya, di sisa umurku ini aku ingin mencurahkan isi hatiku kepadanya." Sang ayah, terlihat menyedihkan.


Netta sangat sedih saat mendengar sang ayah mengatakan hal yang menyedihkan.


"Ayah, Nyonya Laras sangat baik. Dia akan mengabulkan semua permintaan Ayah, iya kan Aarav?" ungkap Netta.


Dia duduk di samping ranjang ayahnya dan memijat kakinya.


"Dia adalah harta paling berharga di dunia ini, aku harap kau akan menjaga anakku dengan baik," pinta Gerald.


"Aku akan menjaga Netta, paman. Paman tenang saja," ujar sang bocah tengik.


.


.

__ADS_1


.


Tiga orang itu terlibat perbincangan yang cukup hangat, Netta sepertinya lebih menyukai kepribadian Aarav yang sangat menghormati ayahnya.


Dia memiliki pandangan lain terhadap pria itu.


'Tuan Bos Aarav, ternyata baik juga, Hm ... tidak masalah untuk menjalani pernikahan kontrak dengan orang yang baik, setelah itu aku akan meninggalkannya dan hidup bahagia bersama ayahku. Aku sudah membantunya dan, dia juga membantuku. Pada akhirnya, hubungan ini hanyalah, hubungan saling menguntungkan yang tidak terlalu membebaniku!' batin Netta.


Dia terlihat memandangi wajah calon suaminya dengan senyum yang merekah.


Gerald yang dari tadi memandang kedua wajah pria dan gadis muda yang salah tingkah itu, tidak tahan untuk tidak menggoda keduanya.


"Hm, cinta pada pandangan yang pertama," ucap Gerald.


"Haha, mana ada paman?" jawab Aarav menyangkal.


"Iya, mana ada. Kami baru saja akrab, masa iya langsung jatuh cinta? ini tidak mungkin, aku tidak percaya ada jatuh cinta pada pandangan pertama, karena Tuan bos Aarav memiliki banyak gadis!" Sang putri keceplosan.


Netta langsung mengubah topik pembicaraan.


"Hahaha pasti ayah bingung dengan apa yang aku katakan tadi, maksudku adalah wajah calon suami bukan sangat tampan, pasti banyak orang yang mau dengannya terutama para gadis cantik di luar sana, benarkan Aarav?" ucap Netta sambil menatap wajah Aarav, dia memberikan kode agar Aarav mengiyakan apa yang dia katakan.


"Benar sekali paman! Netta benar."


Saat Netta dan Aarav saling menutupi apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba ponsel Aarav kembali berdering.


Dia segera menjawab panggilan telepon itu.


"Halo Daddy, Daddy bisa datang ke rumah paman Gerald?" tanya Aarav memastikan.


"Tidak bisa, biar mommymu saja yang datang. Hm, aku ingin berbicara dengan Ge sebentar," pinta mantan bos mafia.


Aarav menyerahkan ponsel miliknya kepada Gerald yang sedang terbaring lemah di atas ranjang, dia menerima ponsel itu.


"Lex? apa kabar?"


"Baik, kau?"


"Aku juga baik, aku kira kau masih menjadi bos Death Angel, tapi sepertinya dirimu sudah pensiun?"


"Iya Ge, aku memang sudah tidak menjadi bos Death Angel, rasanya sangat lelah, jadi aku menjalani hidup seperti layaknya orang biasa."


"Kalau aku lihat penampilan anakmu, dia bukan dari kalangan orang biasa, kau pasti kaya raya kan? ini fasilitas dari Willy?"


"Bukan, ini hasil kerja kerasku bersama Laras. Oh ya, mengenai Laras, kau jangan dekat-dekat dengannya jarak antara tubuhmu dan istriku harus lebih dari dua meter, ingat itu! lalu, kau jangan menampilkan wajah memelas karena istriku wanita yang tidak tahan melihat kesedihan orang lain," ucap Alex benar-benar budak cinta setengah mati.


"Astaga Daddy, kenapa kau seperti guru TK ku dulu, berdiri harus ada jarak saat senam pagi agar tidak kena pukul teman sendiri, astaga! daddy, kau ternyata sangat bucin dengan mommy! Haha ... baru tahu aku!" ujar Aarav dengan tawa mengejeknya.

__ADS_1


"Lex, hentikan semua ini sebelum kau menjadi bahan tertawaan anak-anak," pinta Gerald.


"Aarav itu memang bocah tengil sepertiku, jadi biarkan saja. Cukup aku ambil dompet dan kunci mobil serta fasilitas hidup lain, dia pasti akan menurut! Haha ...."


Alex mengetahui kelemahan Aarav, jadi dia akan selalu menang.


Netta tersenyum saat mendengar calon mertuanya yang sama kocaknya dengan Aarav, dia bersyukur akan menjadi menantu keluarga Fernando yang notabene adalah teman ayahnya.


Saat suasana santai tercipta, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


Netta bergerak cepat, dia segera beranjak dari kamar ayah Ge dan membuka pintu utama.


...


Saat Netta berada di pintu utama lalu membuka pintu itu, dia terkejut saat melihat Nyonya bos datang ke rumahnya.


"N-nyonya b-bos?" ucap Netta terkejut.


"Jangan menyebut aku Nyonya, ibu mertua saja, oke? Hm ... dimana Ge?" tanya Laras.


"O-oke N-nyonya, eh ... ibu mertua," jawab Netta agak canggung.


Netta mempersilakan calon ibu mertuanya untuk masuk ke dalam rumahnya dan langsung menuju kamar sang ayah.


Tap ... tap ... tap ....


Langkah Laras sedikit pelan karena netranya mengamati foto yang ada di sepanjang langkahnya menuju kamar Gerald.


"Netta, tunggu," pinta Laras sambil mencekal tangan Netta.


"Ada apa ibu mertua?" tanya Netta.


"Ini foto Gerald kapan? dia gemuk, subur dan makmur," sahut Laras penasaran.


"Itu waktu ayah bersama kakek di HongKong bertemu dengan ... siapa ya, Paman Mike dan Liu Earl kalau tidak salah, ayah sering menyebut dua nama itu, karena hanya mereka yang tahu rasa sakit ayah ketika ibu harus tiada karena melahirkan aku," ucap Netta sedih.


Laras merasa bersalah saat melihat raut wajah Netta, apalagi saat Netta meneteskan air matanya.


Laras langsung memeluk tubuh sang calon menantu.


"Tenang, kau akan baik-baik saja, ada aku di sini," jawab Laras.


Dia memahami kesedihan Anetta, dia cukup tahu jika menjadi bagian dari klan mafia, kehidupan memang tidak mudah.


Masih untung Netta berada dalam perlindungan Gerald, jika sang kakek yang merawatnya, akan lebih gawat.


*****

__ADS_1


__ADS_2