CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
siap-siap berangkat.


__ADS_3

Ayunda dan Guna telah siap untuk berangkat ke Bali. Mereka sekarang sedang menunggu yang lainnya di teras kediaman Candrama dan akan berangkat bersama ke Bandara Soekarno hatta. Guna melihat jam di pergelangan tangannya membuat Ayunda tersenyum karena melihat kekahwatiran suaminya.


"Mereka semua pasti ikut Mas, Ayu yakin" ucap Ayunda.


"Mas hanya khawatir mereka tidak menuruti permintaan Kakek. Mas nggak mau Kakek kecewa karena Kakek telah menyiapkan semuanya disana" jelas Guna.


"Mereka semua pasti ikut Mas, karena ini pertama kalinya Mas Guna meminta secara langsung kepada mereka. lagian kedua teman Ayu dan temannya Kak Alfa sekarang telah menunggu di Bandara. jadi acara kita pasti bakalan seru disana Mas" jelas Ayunda.


Tak lama kemudian Adinda datang bersama Alfa dan membawa kopernya. keduanya kemarin memang pulang ke rumah orang tuanya untuk meminta izin pergi ke Bali bersama Ayunda dan Guna. Adinda mempercepat langkahnya mendekati Ayunda dan membiarkan Alfa membawa kopernya.


"Vian mana Mbak?" tanya Adinda mencari keberadaan Vivian.


"Masih didalam" ucap Ayunda.

__ADS_1


Adinda memutar tubuhnya didepan Guna dan Ayunda "Gimana penampilan Ayu Mbak, Mas?" tanya Adinda memperlihatkan topi lebar dengan pita lebar yang ada diatas kepalanya dan gaun bewarna hijau yang ia kenakan.


Guna tersenyum melihat adik iparnya yang sepertinya sangat bersemangat dengan perjalanan mereka. "Dapat dari mana itu gaun sepertinya sering lihat?" goda Ayunda.


"Ya ampun Mbak nggak usah pura-pura nggak tahu deh, ini kan gaun punya Mbak hasil aku ngubek-ngubek lemarinya mbak!" jujur Adinda membuat Guna dan Ayunda terkekeh.


"Hehehe, Mbak lupa dek kalau kamu nggak punya modal buat beli baju" goda Ayunda membuat Adinda mengkerucutkan bibirnya.


"Namanya juga mahasiswa Mbak" ucap Adinda.


"Vian" teriak Adinda mendekati Vivian lalu memeluknya. Adinda sengaja menarik Vivian dan menatap Gemal dengan tatapan kesal. ia kemudian mengambil koper Vivian dan menyeranhkan koper itu kepada Gemal.


"Bawa ya Gem, masa lo tega sih suruh Vian bawa barangnya sendiri! lihat Kak Guna mana ngebolehin Mbak Ayu bawa barangnya sendirian!" ucap Adinda membuat Vivian menghela napasnya.

__ADS_1


"Biarin nggak apa-apa!" ucap Vivian.


"Nah lo lihat kan dia nggak keberatan bawa barangnya sendiri lagian dia sekarang mau belajar mandiri biar tidak terbiasa dengan sifatnya yang sering memperbudak orang lain!" ucap Gemal membuat mata Vivian berkaca-kaca mendengar ucapan Gemal yang selalu membuatnya terluka. Gemal memang mendidiknya dengan sangat keras dan terkadang membuat Vivian ingin menangis namun ia tahan karena tidak ingin terlihat lemah didepan Gemal. apalagi ia tidak enak dengan seisi rumah jika sering mengeluh dengan Sikap Gemal padanya.


"Hei Klepon kamu nggak usah ikut campur urusan rumah tangga orang, urus urusanmu sendiri. judul paper kamu jelek dan banyak kata-kata yang typo dan nggak nyambung!" ejek Raka membuat Ayunda menyebikkan bibirnya.


"Sebagai Om yang baik, tolong perbaiki ya Om dan kasih nilai ponakannya ini yang bagus!" pinta Adinda.


"Jangan harap saya akan mempermudah urusan kamu dikampus. saya bakalan mendidik kamu lebih keras karena kamu masih keponakan saya!" ucap Raka menatap Adinda dengan dingin.


"Untung aja asisten Om baik ke Dinda. mana ganteng nggak pelit ilmu, rajin sholat, punya senyum ramah. Dinda hanya perlu berurusan sama dia wekkk" ucap Adinda sambil. menjulurkan lidahnya membuat Raka mendesis tak suka.


"Ayo kita berangkat!" ucap Guna.

__ADS_1


"Siap Kak!" teriak Adinda seraya memberikan penghormatannya dengan mengangkat sebelah tangannya dan meletakan ke dahinya.


Tanpa Adinda sadari Raka mempercepat langkahnya dan menarik topi Adinda hingga mata Adinda tak bisa melihat apa-apa. "Om rese!" teriak Adinda membuat Ayunda dan Guna saling bertatapan lalu keduanya menghembuskan napas panjangnya seolah merasakan hal yang sama karena sepertinya akan sulit membuat Adinda dan Raka menjadi sepasang kekasih seperti mereka.


__ADS_2