
Raka menyingkirkan tangan Luna yang memegang lengannya. Ia kemudian menatap Luna dengan tatapan datarnya. Luna tersenyum manis berusaha mendapatkan simpati dari Raka.
"Mas bisa kita bicara?" tanya Luna.
"Mau bicara apa lagi?" tanya Raka dingin membuat Luna menyebibikan bibirnya.
Jika saat ini yang ada dihadapannya adalah Adindanya tentu saja Raka akan segera memeluk Adinda dengan erat. Namun saat ini yang ada dihapannya adalah perempuan yang tidak ia sukai membuatnya kesal. Apalagi Luna telah menyakiti Adinda.
"Kita bicara diruangan Mas aja ya Mas!" pinta Luna. Raka menghela napasnya. Ia merasa sepertinya ada rencana jahat yang disiapkan Luna untuknya.
"Kalau kamu ingin bicara silahkan bicara disini!" ucap Raka karena didepan ruangannya ini terdapat cctv dan kemungkinan besar jika Luna berencana menjebaknnya wanita ini akan mempermalukan dirinya sendiri.
Luna kesal namun ia tidak menunjukkan raut wajah kesalnya. Dugaan Raka memang benar, tadinya Luna ingin menjebak Raka ketika mereka berada berdua saja dengan Raka didalam ruangan Raka. Luna berecana ingin mefitnah Raka karena Raka telah mengganggu perusahan Papanya hingga membuat Papanya murka. Tapi sepertinya rencana itu telah gagal jangankan untuk membuat Raka seolah melakukan pelecehan padanya tapi Raka berusaha menjaga jarak denganya.
"Kenapa Mas mengganggu perusahan Papaku?" tanya Luna.
"Apa kau tidak tahu jawaban dari pertanyaanmu?" singgung Raka.
"Mas, Papa marah besar padaku. Mas mempengaruhi klien dan akhirnya membuat perjanjian perusahan batal hingga perusahaan Papa menanggung kerugian yang cukup besar!" ucap Luna.
__ADS_1
Raka tersenyum sinis. Pembalasan yang ia lakukan karena tingkah laku Luna yang membuat pipi perempuan cantiknya yang ia cintai itu lebam, membuat pihak Luna harus kehilangan puluhan miliyar.
"Itu pantas kau dapatkan karena kau melawan saya Luna!" ucap Raka dingin membuat Luna menatap Raka dengan tatapan mengerikan. Berurusan dengan seorang Raka Candrama memang tidaklah muda. Laki-laki ini menyiapkan jebakan lebih besar hingga perusahan besar yang dimiliki Papanya mengalami kerugian besar dan goyah.
"Harusnya Mas tidak mencampur adukan masalah pribadi dengan masalah perusahaan Mas. Papa tidak bersalah dengan apa yang aku lakukan Mas!" ucap Luna sendu.
"Kau mengatakan kepada Gio jika kau tidak akan menyerah untuk mengusik Adinda. Kau tahu dengan jelas, jika saya tidak tertarik padamu. Yang kau banggakan selama ini adalah menjadi Putri seorang pengusaha kaya raya dan saya bisa mengambil apa yang selama ini kau banggakan itu dengan mudah!" ucap Raka membuat Luna merasa jika Raka yang ada dihadapannya ini benar-benar sosok kejam yang mengerikan.
"Kenapa Mas? kenapa kau tidak memberikanku kesempatan untuk memasuki hatimu?" ucap Luna menahan air matanya karena sebenarnya baru kali ini ia tertarik dengan laki-laki hebat yang sangat mengagumkan seperti Raka.
"Jika yang meminta kesempatan itu perempuan lain sekalipun, saya juga akan melakukan hal yang sama. Saya sudah menutup segala kemungkinan untuk siapapun memasuki hati saya, karena hati saya sudah menggenggam satu nama didalamnya!" ucap Raka.
Raka menghela napasnya "Tidak jika kau masih mengganggu Adinda. Itu hukuman untukmu!" ucap Raka.
"Itu tidak adil Mas. Hmm... oke aku janji tidak akan mengganggu Adinda ataupun Mas lagi!" ucap Luna.
"Tanda tangani perjanjian dengan pengacara saya dan kau temui Gio Handoyo. Gio bisa membantumu. Seorang cucu Alexsander yang memiliki banyak perusahan bisa saja dengan mudah membantumu karena saya tidak ingin berurusan lagi denganmu!" ucap Raka tegas.
Raka terpaksa melibatkan Gio bermain bersama mengancurkan perusahaan keluarga Luna. Setelah berhasil Raka mundur karena tidak ingin berurusan lagi dengan Luna. Hanya dengan sebuah kata berikan investasi kepada perusahaan Papa Luna dari mulut Gio, maka perusahaan itu akan terbantu dan tidak akan mengalami banyak kerugian.
__ADS_1
Raka melangkahkan kakinya meninggalkan Luna yang masih menatap punggungnya dengan tatapan sendu. Air mata Luna menetes dengan derasnya. Raka berhasil mencari cela untuk menghancurkan Luna dengan sangat mudah. Jika Luna tidak menandatangin surat perjajian itu bom... perusahaan itu akan mendapatkan hantaman yang cukup serius.
Raka memasuki mobilnya dan kembali mencoba menghubungi Adinda. Namun lagi-lagi ponsel Adinda tidak dapat dihubungi. Raka segera menuju ke kediaman Candrama, Adinda membuatnya khawatir dan ia ingin Ayunda menghubungi Adinda agar meminta Adinda segera menghubunginya.
Beberapa menit kemudian Raka sampai kedalam kediaman Candrma. Ia melihat sosok Ayunda yang saat ini sedang memakan cemilan bersama Farhan. Terlihat Gemal yang berlutut memohon kepada Farhan dengan tampilan khusutnya.
"Kek, tolong Gemal hubungi Vian dimana dong Kek! kalau Kakek telepon pasti Vian langsung jawab Kek!" ucap Gemal membuat Raka menggaruk tengkuknya karena ia juga menginginkan Ayunda atau Papinya menghubungi Adinda.
"Makanya jadi orang jangan nakal Gem. Istri baik begitu dijahatin mulu. Vian punya hati Gem, lo dikasih hati mintanya jantung. Jangan mau Kek!" ucap Ayunda menjadi kompor yang menyebalkan bagi Gemal saat ini.
"Mbak tega banget sama adik ipar sendiri, Gemal lagi pusing cari istri Gemal Mbak!" kesal Gemal.
"Makanya mulut itu dijaga, Vian udah berusaha berubah buat kamu terus kamu nyakitin dia!" ucap Ayunda
"Raka sudah pulang nak?" tanya Farhan melihat kedatangan Raka.
"Iya Pi" ucap Raka mencium punggung tangan Farhan.
Raka sepertinya memutuskan untuk tidak meminta Ayunda menghubungi Adinda jika ia tidak ingin dimarahi ibu hamil yang saat ini memiliki level judes tingkat tinggi. Diomelin Ayunda adalah hal yang harus Raka hindari karena ketika suara dinginnya keluar si Ibu hamil akan tersinggung dan membuatnya akan dimarahi keponakannya Gunadarma.
__ADS_1