
Mobil Raka memasuki perkarang rumah kediaman Bagas dan Ratna. Saat Ratna turun sambil menggendong Rayhan membuat Ayunda yang sedang menunggu kedatangan mereka segera mendekati Ratna. Ayunda tersenyum melihat ketampanan Rayhan.
"Ma, kemana wajah keluarga kita Ma, kok semuanya di borong keluarga Candrama semua. Rayhan mirip banget sama Om Raka," ucap Ayunda membuat Adinda yang saat ini digendong Raka dan didudukkan Raka dikursi roda tersenyum. Setiap orang yang melihat Rayhan pasti mengatakan jika Rayhan mirip dengan Raka bukan dirinya.
"Rayhan waktu dibentuk diperut Bundanya lebih milih mirip Ayahnya Mbak dibandingkan Mirip Bundanya," ucap Adinda membuat Raka tersenyum. Ia mengelus kepala Adinda dengan lembut.
Raka mendorong kursi roda masuk kedalam rumah, Vivian mendekati Adinda dan menyerahkan segelas jus kepasa Adinda. "Makasi Vian," ucap Adinda sambil meminum jus buatan Vivian. "Vian kok kamu gemukan?" tanya Adinda.
"Nggak Din, Vian ngerasa nggak gemuk," ucap Vivian.
Ayunda mendekati Vivian dan memegang bahu Vivian "Dimanja Mami mertua begini Din, bisa diperhatiin asupan gizinya. Vian makan makanan dengan gizinya yang berlimpah," ucap Ayunda membuat Vivian tersenyum.
Adinda melihat Felisa yang sedang berjalan kearahnya bersama Elin. Felisa yang menyadari kehadiran Adinda segera melepaskan tangannya dari tangan Elin yang memegangnya. Felisa belari dengan cepat dan ia segera memeluk Adinda sambil menangis.
"Hiks...hiks... Bunda nggak pulang karena sakit ya Bun? Feli mau ikut Bunda nginap di rumah sakit, tapi kata Ayah anak kecil nggak boleh nginap di Rumah sakit makanya Feli nggak nginap. Tapi kok adek Rayhan boleh nginap disana Bun hiks... hiks... ?" tanya Felisa membuat Adinda tersenyum.
Raka menggendong Felisa dan mencium dahi Felisa dengan lembut "Rayhan baru lahir dari perut Bunda, lihat perut Bunda udah nggak besar kayak kemarin, jadi Rayhan juga harus beristirahan di rumah sakit kayak Bunda," ucap Raka membuat Felisa menangis kencang.
"Bunda sakitnya lama sama kayak Kakek, Bunda nggak bisa jalan makanya Bunda duduk dikursi roda hiks...hiks..."
Adinda merentangkan tangannya agar Felisa duduk dipangkuanya. "Bunda nggak sakit hanya butuh istrirahat karena ngelahirin adeknya Feli, Bunda bisa jalan kok" ucap Adinda segera berdiri sambil menggendong Felisa membuat isak tangis Felisa reda.
"Duduk Bun!" ucap Raka.
"Nggak apa-apa Yah, Bunda kan lahiranya normal bukan operasi kayak Mbak Ayu jadi Dinda nggak perlu duduk dikursi roda!" jelas Adinda.
__ADS_1
Adinda melangkahkan kakinya duduk disofa dan ia mengahapus air mata Felisa dengan jemarinya. "Mbak Feli udah makan belum?" tanya Adinda. Ia sengaja memanggil Felisa dengan sebutan Mbak agar nanti Felisa dan Rayhan terbiasa.
"Udah Bunda, Mbak makan ayam goreng tadi disuapin sama Omanya Ghavin," ucap Felisa.
"Banyak nggak makanya?" tanyq Adinda.
"Banya Bunda, perut Feli gede isinya makanan semua," jelas Felisa membuat Adinda tersenyum.
Adinda melihat Bagas yang saat ini mengambil alih Rayhan dan Ratna. Bagas mencium pipi putranya membuat Adinda tersenyum.
"Raka nanti kita adakan syukuran kelahiran Rayhan," ucap Bagas.
"Iya Pa, nanti Raka diskusi sama Kak Alfa juga Pa biar semuanya bis kumpul disini," ucap Raka membuat Adinda tersenyum.
"Kalau gitu nanti Mama juga mau bujuk Karina biar nggak ikut Alfa, Mami mau Karina lahiran disini saja sama Mama!" ucap Ratna membuat mereka semua setuju.
"Guna setuju usulan Mama karena Rumah ini Guna sengaja bangun besar agar Kak Alfa dan istri bisa juga tinggal disini bersama kita" jelas Guna.
"Kita adakan acara keluarga yang seru ya, aduh kok Mami ikutan senang ya kalin tinggal disini semua. Mami bisa main disini tiap hari soalnya kalau dirumah sepi. Apa mau paksa mertua Mami tinggal sama Mami untuk sementara ya?" tanya Elin membuat Adinda tersenyum.
"Pasti Papi mau Mbak, soalnya dia bisa main sama cucu dan cicitnya!" ucap Adinda. "Biar Vian dan Gemal tinggal disana berdua saja Mi biar cucu baru mami cepat jadi!" ucap Adinda membuat mereka semua tersenyum dan setuju dengan gagasan Elin yang meminta Farhan untuk tinggal bersamanya di rumahnya.
Setelah berbincang Adinda dan Raka saat ini berada dikamar mereka yang terdapat tempat tidur bayi, lemari dan perlengkapan lainya yang terlihat masih baru.
"Ini Kakak yang beli?" tanya Adinda.
__ADS_1
"Iya," ucap Raka.
"Kapan? Kakak kan sama Dinda terus," ucap Adinda.
"Kakak beli online Dinda," ucap Raka.
"Kok nggak minta pendapat Dinda Kak?" tanya Adinda sambil menatap tempat tidur Rayhan.
"Nanti kamu beli yang warna kuning kan kasihan Rayhan kalau tidur ditempat tidur warnanya kuning," ucap Raka membuat Adinda terkekeh.
"Hehehe... iya juga ya Kak."
"Dinda kamu tahu nggak kenapa ranjangnya dipisah?" tanya Raka membuat Adinda menggelengkan kepalanya.
"Biar Rayhan belajar tidur sendiri dan nggak ganggu kamu sama Kakak disana!" tunjuk Raka pada tempat tidur ukuran kingsize milik mereka.
"Modus, Rayhan masih kecil aja udah gitu Kakak mikirnya. Emang anak kita pengganggu?" ucap Adinda membuat Raka terkekeh.
"Nggak sayang, Kakak hanya kangdn meluk kamu,soalnya udah dua hari nggak tidur sambil meluk kamu Din!" ucap Raka tersenyum malu membuat Adinda menghela napas dan kemudian ikut tersenyum karena Raka tiba-tiba Memeluknya.
"Marah?" tanya Raka.
"Nggak bisa marah kalau sama kamu Kak," ucap Adinda.
"Kamu kangen juga kan sama Kakak?" tanya Raka.
__ADS_1
"Kangen banget, tapi hanya bisa peluk loh Kak," ucap Adinda.
"Cukup dengan pelukan dari kamu itu sudah membuat Kakak tidur dengan nyaman," ucap Raka.