CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Terluka


__ADS_3

Raka memilih untuk tidak mendekati wanita itu, sejak kecil ia hanya hidup bersama sang Papi dan juga Vivian. Ia sangat tidak berharap untuk bertemu wanita itu lagi. Dulu Raka sempat sangat marah karena ternyata ia masih memiliki ibu tetapi ibunya hanya memerlukan uang Papinya dan setelah itu meninggalkan dirinya dan Papinya demi laki-laki lain. Raka selalu mengatakan jika ibunya telah mati jika orang-orang disekitarnya menanyakannya.


"Om jangan sedih, Kakek itu orangnya kuat kok!" ucap Adinda. Raka segera berdiri dan melepaskan tangan Adinda. ia kemudian melihat Gemal dan Vivian keluar. Vivian mendekati Raka dan memeluk Raka dengan erat.


"Jangan marah sama Kakek lagi, Om! Kakek terlihat bergitu lemah Vian takut Om!" ucap Vivian membuat Raka menggenggam tangannya. Raka melepaskan pelukannya dan ia kemudian masuk kedalam ICU bersama Guna.


Raka menatap sosok Papinya yang dulu terlihat gagah, tampan dan sekarang terlihat begitu lemah tak berdaya. Ditubuh Farhan terdapat alat-alat medis yang membuat Guna dan Raka semakin khawatir. Tanpa sadar Guna meneteskan air matanya tapi tidak dengan Raka yang menatap Farhan dengan serius dan Raka kemudian menghembuskan napasnya.


"Katanya Papi akan menebus waktu yang hilang ketika Raka diusir Pi! kata Papi, Papi ingin melihat Raka bahagia Pi" ucap Raka membuat Guna memegang bahu Raka.


"Kakek kita masih ingin menghabiskan waktu bersama-sama lebih banyak lagi. Kakek bilang ingin melihat cicit pertama Kakek lahir" ucap Guna dan air matanyap pun kembali menetes.


"Sadar Pi, Raka mohon. Raka akan melakukan apapun kalau Papi sadar, Raka janji Pi!" ucap Raka.


Tidak ada yang terdengar dari bibir dingin Farhan seolah ia terlelap dengan sangat nyenyaknya dan tidak peduli dengan keributan yang ada disekitarnya. Keadaan Farhan terlihat begitu memilukan bagi Raka dan Guna. Laki-Laki parubaya ini sejak muda berhasil membangun bisnisnya sendiri.


Dulu Farhan menjual apa saja untuk keluarga kecilnya agar tidak kelaparan dan hidup berkecukupan. Namun dengan kegigihan, keberanian dan kerja kerasnya usaha yang ia miliki semakin berkembang tapi sifat Farhan berubah. Farhan membuat keluarganya kecewa karena terlalu sibuk saat itu. Apalagi tangis Aditiya ketika kehilangan ibu kandungnya tidak membuat Farhan memperhatikan keluarganya dan memilih menenggelamkan dirinya kedalam bisnis. Farhan menyesal karena terlalu sibuk hingga ia harus kehilangan wanita yang sangat ia cintai.


Farhan mulai merasa kesepian ketika Aditya menikah tanpa seizinya dengan Elin dan memilih untuk pergi dari Rumah. Adit yang keras kepala memilih menjadi Dokter alih-alih menjadi pewarisnya membuat Farhan memutuskan untuk menikah dengan asistennya secara diam-diam tanpa sepengetahuan Aditya dan lahirlah Raka dari istri keduanya itu.

__ADS_1


"Bangun Pi, Raka salah karena tetap pergi meninggalkan Papi saat Papi mengusir Raka!" ucap Raka. Seharusnya ketika Farhan mengusirnya dulu ia tidak mengikuti keingginan Farhan yang sangat emosi waktu itu.


"Om, jam besuk sudah habis!" ucap Guna membuat Raka membalik tubuhnya dengan cepat dan segera keluar dari ruangan ICU.


Raka tidak memperdulikan wanita parubaya yang saat ini sedang memanggilnya. "Raka... tunggu nak!" ucap wanita itu namun Raka tidak mengehentikan langkahnya apalagi menoleh. Ia sangat membenci wanita parubaya itu.


"Dinda, kerjar Om Raka. Mbak tahu dia dekat denganmu dan dia membutuhkan orang terdekatnya untuk bersamanya!" ucap Ayunda.


Adinda mempercepat langkahnya melewati perempuan parubaya yang terlihat kecewa karena Raka mengabaikannya. Adinda berlari dan mendekati Raka yang masuk kedalam lift. "Om Dinda ikut ya!" ucap Adinda.


Lift terbuka dan Adinda mengikuti Raka yang keluar dari Rumah sakit menuju super market. Adinda mengekori Raka. "Rokok dan korek" ucap Raka kepada kasir super market membuat Adinda terkejut, karena setahunya Raka tidak merokok.


Beberapa menit kemudian taksi berhenti didepan gedung Apartemen. Adinda ikut turun bersama Raka dan ia mengikuti langkah kaki Raka tanpa bertanya sedikit pun. Mereka menuju lantai tempat dimana Apartemen Raka.


Raka membuka pintu Apartemennya dan masuk kedalam Apartemen itu bersama Adinda. Adinda kagum dengan apartemen Raka yang terlihat sangat rapi. Raka menarik kaosnya keatas dan membuangnya sembarangan membuat Adinda terkejut karena melihat dada bidang dan perut berotot milik Raka yang terlihat seksi. Raka membuka jendela Apartemen ini dan duduk sambil memandangi pemandangan langit yang tidak begitu terik. Ia mengambil kotak rokok dari dalam sakunya dan menghidupkan sebatang Rokok lalu menyesapnya dengan santai.


Adinda menghela napasnya dan ia mengedarkan pandangannya melihat isi Apartemen Raka. Adinda mendekati lemari besar yang berisi buku-buku milik Raka. Wajar saja Raka sangat pintar karena Raka sangat suka membaca buku dan buku yang Raka baca juga terlihat berat bagi Adinda karena sangat tebal halamanya.


Ainda sebenarnya penasaran dengan kamar Raka tapi tingkahnya ini sangatlah tidak sopan jika ia berani membuka pintu kamar Raka. Adinda memilih melangkahkan kakinya mendekati Raka. "Om..." panggil Adinda.

__ADS_1


Raka hanya melirik Adinda sekilas dan kemudian kembali menyesap sebatang rokok yang terselip di kedua jari tangannya. "Apa maumu?" tanya Raka dingin.


"Om jangan kayak gini Om. Om mandi dulu dan setelah itu makan lalu kita ke Rumah sakit lagi ya Om!" ucap Adinda.


"Kamu pulang saja!" ucap Raka tanpa menatap Adinda karena Raka memilih untuk menatap kearah jendela.


"Om Dinda hanya ingin menemani Om Raka!" jujur Adinda.


Raka tersenyum sinis ia kemudian mematikan rokok dengan cara menggegam rokok itu yang masih mengeluarkan asap. Adinda segera menarik telapak tangan Raka dan meniupnya. "Om ini gimana sih, kalau kulit Om melepuh gimana? Om kan bukan supermen" ucap Adinda.


"Kamu tidak perlu sebaik ini sama saya Dinda. Saya laki-laki dewasa dan saya bisa mengurus diri saya sendiri!" ucap Raka.


"Nggak Om nggak bisa, kalau Om bisa, Om nggak akan kayak gini merokok dan cara mematikan rokoknya ngeri banget" ucap Adinda.


Raka menarik lengan Adinda dengan kasar dan menempatkan Adinda pada dinding hingga mempersempit jarak keduanya. "Semua perempuan hanya suka uang, apa kau akan seperti perempuan itu? Meninggalkan suami dan anaknya hanya karena cintanya kepada suaminya telah hilang?" ucap Raka.


"Om Raka jangan begini!" ucap Adinda panik karena napas hangat Raka terasa Diwajahnya.


Raka mempersempit jaraknya dan kemudian menyentuh bibirnya dengan bibir Adinda membuat Adinda terkejut karena Raka menciumnya lalu melumatnya dengan kasar. Adinda terisak dan ia mendorong tubuh Raka lalu menampar pipi Raka. "Om keterlaluan hiks...hiks...!" teriak Adinda terisak.

__ADS_1


"Pergi!" usir Raka.


__ADS_2