CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
mukahdima yang kepanjangan.


__ADS_3

"Kamu ikut saya!" ucap Raka.


"Ke Kafe ya Pak... haus Pak haus banget!" pinta Andinda membuat Raka menganggukkan kepalanya. "Makasi Pak, ayo Pak!" ucap Adinda melangkahkan kakinya dengan riang.


Raka melangkahkan kakinya menuju ruangannya membuat Adinda membuka mulutnya. Namun ia bisa apa karena sepertinya berurusan dengan seorang Raka tidaklah mudah.


"Pak... " panggil Adinda.


"Masuk kalau kamu mau bicara dengan saya!" ucap Raka dingin.


ya ampun pak beliin gue es lima belas ribu aja pelit bener pak. Beda banget sama keponakan Bapak. Kak Guna dan Gemal nggak pelit kayak Bapak.


Adinda tidak ada pilihan jika ia ingin semua rencananya lancar. karena berurusan dengan Raka sepertinya harus membuatnya menguras tenaga dan pikirannya. jangankan untuk memberikannya minuman, untuk berbicara saja dengannya sangat sulit. Adinda membuka pintu ruangan Raka dan segera masuk. ia menatap keseliling ruangan Raka yang ternyata sangat rapi.


gila rapi bener ruangannya...

__ADS_1


"Silahkan duduk!" ucap Raka meminta Adinda untuk duduk dihadapannya.


Adinda duduk sambil tersenyum, ia memang merasa sangat haus saat ini dan juga kepanasan. keringatnya bercucuran membuatnya segera menyeka keringatnya dengan tisu yang ada didalam tasnya. "Pak hidupkan Acnya Pak, panas banget" ucap Adinda mengibaskan tangannya.


Raka mengambil remote Ac dan melemparnya kearah Adinda membuat Adinda tersenyum malu-malu. Adinda menghidupak. Aca dan kemudian meletakan remote Aca dengan pelan di atas meja. "Nah... kan adem kalau gini Pak" ucap Adinda. "Tapi Pak saya haus Pak!".


Raka menghela napasnya perempuan cantik dihadalannya saat ini benar-benar menyebalkan. "Baru kali ini saya bertemu perempuan cerewet dan tidak tahu malu seperti kamu" ucap Raka dingin membuat Adinda memutar bola matanya.


dia pikir gue dengan suka rela nguber dia? no... kalau bukan karena uang yang dijanjikan Kak Guna gue ogah ngomong sama setan berwujud dosen kaya lo. pinter tapi sombong...


"Kalau jelek kenapa memangnya?" tanya Raka kesal.


"Coba bapak pikirkan kalau bapak jadi mahasiswa kayak kita, ketemu dosen yang galak, senyum mahal, sombong dan jelek. pasti dongkol banget kan" ucap Adinda namun ketika ia sadar saat ini yang dihadapanya itu bukan teman sebayanya tapi dosennya yang memiliki sikap apa yang ia katakan kecuali jelek, membuatnya menelan ludahnya.


m-a-m-p-u-s lo Din, benar-benar **** lo... lo niat nggak sih...jadi sarajana S2?

__ADS_1


"Dari dulu saya tidak pernah berpikir apa yang dilakukan dosen saya salah. kalau ketegasan saya dalam mengajar itu disalah artikan berarti kalian mahasiswa lebih suka tidak kuliah dan sebaikanya kalian mundur dari mata kuliah saya" ucap Raka membuat Adinda membuka mulutnya.


"Astagfirullah Pak, maksud saya nemuin bapak sebenarnya bukan ingin mengkritik sikap bapak, tapi ini untuk kepentingan rumah tangga bapak" ucap Adinda. "Maaf kalau mukadimahnya kepanjangan Pak" ucap Adinda pelan membuat Raka menyunggingkan senyumnya karena perempuan yang ada dihadapannya ini benar-benat konyol.


"Ok, mau kamu apa ketemu saya?" tanya Raka ia kemuidan memberikan sebotol air putih yang berada didalam tasnya. "Kalau memang kamu haus kamu bisa meminumnya!" ucap Raka.


"Ya ampun pak baik banget, rezeki nggak boleh ditolak. tenggorakan saya kering Pak kayak padang pasir" ucap Adinda segera membuka tutup botol dan ia melihat diminuman itu hanya tinggal setengah. "Boleh saya habisin pak?" tanya Adinda.


"Silahkan!" ucap Raka membuat Adinda tersenyum.


"Makasi Pak" ucap Adinda segera meminum-minumannya itu dengan sekali tandas. "Lega rasanya".


"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Raka lagi.


"Gini Pak tujuan saya menemui bapak karena permintaan Kakak ipar saya" ucap Adinda membuat Raka mengerutkan dahinya.

__ADS_1


tbc....


__ADS_2