
Adinda mendapatkan pesan dari nomor yang tidak ia kenal dan mengatakan jika ia tidak mengumpulkan tugas mata kuliah yang diajarkan Raka haru ini, ia akan mendapatkan nilai D. Adinda tidak ingin beasiswanya dicabut karena syarat agar beasiswa terus ia dapatkan yaitu nilainya harus memuaskan, jika tidak ia akan mendapatkan peringatan. Adinda sebenarnya telah memblok nomor Raka sejak kejadian itu karena perlakuan Raka padanya membuatnya takut, kesal dan juga marah.
Adinda bergegas berpamitan kepada kedua orang tuanya namun baru saja ia menghidupkan mesin motornya, sebuah mobil berhenti tepar didepan rumahnya. Adinda menghembuskan napasnya karena yang datang ke rumahnya saat ini adalah orang yang tidak ingin ia temui saat ini. Ia masih butuh waktu untuk memikirkan permintaan laki-laki itu.
Laki-laki itu adalah Rifki mantan tunangan Adinda. Rifki yang pernah berjanji akan memberikan kebahagian padanya namun yang terjadi Rifki membuatnya merasakan kecewa yang teramat dalam. Bagi Adinda perselingkuhan yang dilakukan Rifki sungguh membuatnya terluka. Apalagi hubunganya bersama Rifki bukanlah waktu yang singkat dan mudah untuk dilupakan.
"Mau apa lo kesini?" tanya Adinda.
"Mau ketemu kamu, aku libur Din" ucap Rifki.
"Ooo... tapi gue mau pergi ke kampus, kapan-kapan aja ya kita ketemu lagi!" ucap Adinda mengegas motornya namun tiba-tiba Rifki menghalangi jalanya.
"Aku antar ya, hari ini semua waktuku untuk kamu Din!" ucap Rifki.
__ADS_1
"Nggak perlu, lo pergi saja sama pacar lo yang satunya lagi. Kalau gue nggak usah lo pikirin lagi karena gue bukan pacar lo apalagi tunangan lo lagi!" ucap Adinda namun Rifki menatap Adinda dengan tatapan memohon.
"Please beri aku satu kesempatan Din, aku mencintaimu dan itu tidak pernah berubah!" ucap Rifki.
Adinda menghela napasnya jika ia tidak menuruti keinginan Rifki, dapat dipastikan ia akan telat masuk ke kelas dan si Raka yang sombong itu akan memarahinya atau bahkan mengusirnya dari kelas. Rifki tidak akan mudah menyerah dan akan menghabiskan waktu satu jam lebih karena perdebatan mereka.
"Oke, lo antar gue ke kampus sekarang juga. Jangan telat!" ucap Adinda.
"Oke sayang!" ucap Rifki segera membuka pintu mobilnya dan Adinda kembali memasukkan motornya kedalam garasi lalu menguncinya lalu ia segera masuk kedalam mobil Rifki.
Mobil sampai didepan Universitas Alexsander "Berhenti disini saja!" ucap Adinda membuat Rifki segera menghentikan mobilnya.
"Saya akan menunggu kamu pulang!" ucap Rifki.
__ADS_1
"Tidak usah, gue bisa pulang sendiri!" ucap Adinda segera membuka pintu mobil dan keluar dari mobil Rifki. "Terimakasih!" ucap Adinda membuat Rifki menatap punggung Adinda dengan sendu. Rifki sangat menyesal menghianati Adinda perempuan yang sangat ia cintai. Dulu hati Adinda sangat sulit ia raih dan satu kesalahan bodohnya membuatnya akan kehilangan Adinda selama-lamanya. Ia tidak akan menyerah begitu saja dan akan berusaha mendekati Adinda walaupun Adinda pasti akan mengacuhkannya.
Sementara itu Adinda mempercepat langkahnya menuju kelas dan ia bernapas legah saat melihat Raka belum berada di dalam kelas. Adinda segera duduk dan mengeluarkan tugas miliknya. Beberapa menit kemudian Raka datang dan segera menjelaskan materi yang ia sampaikan. Adinda sengaja memilih duduk dibelakang agar ia tidak harus menatap Raka dan memilih hanya mendengar suara Raka saja. Ia mencatat materi yang disampaikan Raka hingga suara Raka terdengar memanggil namanya.
"Adinda kumpulkan semua tugas teman-teman kamu dan temui saya di Ruangan saya!" ucap Raka melangkahkan kakinya keluar dari kelas dan menuju ruangnya membuat Adinda kesal.
"Gue bukan komti ngapain si Bapak songong minta gue temuin dia!" kesal Adinda membuat Acil yang duduk disebelahnya tertawa.
"Lo nggak masuk minggu kemarin mungkin Dosen ganteng kita mau kasih tugas tambahan ke lo Din!" jelas Acil.
"Yaudah sini kumpul!" teriak Adinda membuat teman-temannya segera mendekati Adinda dan mengumpulkan tugas mereka.
Setelah semua tugas teman sekelasnya terkumpul Adinda segera melangkahkan kakinya menuju ruangan Raka namun saat ia telah berada di depan pintu Raka ia menghentikan langkahnya.
__ADS_1
*K*alau dia berani cium gue lagi, gue nggak akan maafin dia. Emang bibir gue apaan main nyosor aja tanpa permisi...