CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
kecelakaan atau berkah


__ADS_3

Mendengar suara putra bungsunya itu membuat pertahanan seorang Farhan runtuh ia menangis dipelukan Raka dan tangisannya terdengar memilukan. Tanpa sadar Adinda ikut meneteskan air mata karena haru melihat Raka dan Farhan. Adinda mengacungkan jari jempolnya kepada Raka membuat seulas senyum terpancar dari bibir Raka yang tidak pernah Adinda lihat sebelumnya.


"Maafkan Papi nak, Papi yang salah!" ucap Farhan ia bersyukur anaknya kembali dan telah terlihat dewasa dari pada sebelumnya. "Kamu sudah besar bahkan kamu lebih tampan dari Aditya" ucap Farhan mengingat putra sulungnya.


"Raka juga lebih tampan dari Guna" ucap Raka membuat Farhan terkekeh karena Raka memiliki tubuh yang agak lebih tinggi dari Guna yang tungginya 184 cm dan kulit Raka lebih purih dari Guna.


"Kamu belum bertemu Gemal dipasti tidak reka jika kamu lebih tampan dari dia" ucap Farhan menepuk lengan Raka.


"Iya Pi, Raka hanya pernah bertemu Guna" jelas Raka.


"Kek, ajak Om Raka ke ruang keluarg saja Kek. kakek pasti capek kalau berdiri terus!" pinta Adinda.


"Ayo Pi" aja Raka.


Adinda tersenyum melihat keduanya dan mengikuti keduanya ke ruang keluarga sambjl membawa beberapa cemilan dan minuman. Adinda meletakan makanan itu di mejan dan ia segera melangkahkan kakinya keluar dari ruang keluarga hingga suara. Farhan menghentikan langkahnya.


"Adinda duduk disini sama Papi!" ucap Farhan membuat Adinda bingung karena sejak kapan ka menjadi anak angkat Farhan hingga ia harus menganggap Farhan Papinya.


Farhan memberi isyarat agar Adinda duduk disamping Raka membuat Adinda bingung tapi memilih untuk mengikuti permintaan Farhan. "Raka, kamu pulang kembali ke rumah ini ya nak! rumah ini punya kamu nak dan Papi sudah tua untuk merawat rumah sebesar ini sendirian!" ucap Farhan.

__ADS_1


"Iya Om, tinggal disini aja enak loh ada kolam renang, kolam ikan, ada lapangan bola basket, lapangan tenis. Pokoknya lengkap deh Om. kalau saya jadi Om saya nggak bakal nolak Om tinggal di rumah kayak istana ini. Saya berasa jadi Ratu lo Om hehehe" kekeh Adinda membuat Farhan tersenyum.


"Raka kamu punya pacar?" tanya Farhan.


Raka menatap Farhan dengan dingin lalu ia menggelengkan kepalanya "Tidak ada Pi" ucap Raka membuat Farhan tersenyum.


"Kamu tenang saja kali ini Papi tidak akan ikut campur urusan pribadi kamu. siapapun wanita yang kamu inginkan Papi akan menyetujuinya. jika wanita yang kamu sukai menolakmu Papi akan bantu kamu mendapatkannya!" ucap Farhan. sebenarnya ia ingin Adinda yang menjadi menantunya tapi ia tidak ingin memkasakan hubungan mereka terlebih lagi memaksa Raka. Farhan tidak ingin Raka pergi lagi dan membuatnya harus tinggal terpisah dari putra bungsunya.


"Raka kamu mau kan tinggal sama Papi disini?" pinta Farhan.


"Raka mau asalkan Papi mau dioperasi!" ucap Raka membuat Farhan terkejut karena putra bungsunya memgetahui kondisi kesehatannya.


"Tidak apa-apa Dinda" ucap Farhan tersenyum menatap Dinda yang saat ini merasa bersalah karena telah lancang memberitahukan Raka.


"Bagaimana Pi? Raka hanya ingin Papi mengganti waktu tiga belas tahun kita dengan sepuluh tahun atau dua puluh tahun lagi Pi. Papi mau kan melihat Raka punya anak dan Raka memimpin perusahan Papi yang lain?. Raka janji Pi akan mengembangkan usaha Papi seperti Raka. kita berdua tidak akan mengecewakan Papi!" ucap Raka membuat Farhan kembali menangis haru dan menganggukkan kepalanya.


"Asal kau kembali ke Rumah ini Papi berjanji akan kuat dan siap untuk di operasi!" ucap Farhan. "Kalau begitu Papi telepon Adit dulu biar mereka cepat kemari dan juga Papi mau minta Adit jadwalkan operasi Papi" jelas Farhan bersemangant.


Farhan melangkahkan kakinya masuk kedal ruang kerjanya. sementara itu saat ini Raka menatap wanita cantik yang ada disampingnya dengan kesal. apalagi melihat penampilan Adinda yang norak membuat Raka menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Om ngapain lihat-lihat Dinda? naksir ya?" tanya Dinda menatap Raka dengan sinis.


Raka melototkan matanya "Lihat penampilanmu dikaca, apa pantas kamu memakai pakaian norak warna-warni kayak gini. kamu pikir ini pantai?" tanya Raka sinis.


"O...jadi Om mau ngajakin Dinda ke pantai ya Om?" goda Dinda.


"Dasar b-e-g-o" ejek Raka.


"Hua... gemesin banget si Om. jadi pengen..." Dinda mencubit pipi Raka membuat Raka terkejut dan ia mendorong tubuh Dinda. Dinda merasa keseimbangannya hilang hingga ia menarik tangan Raka dan brak...keduanya jatuh dikursi dengan Raka berada diatas Dinda dan bibir Raka menempel di bibir Dinda.


"Arghhh.... mesum... " teriak Dinda membuat Raka menutup mulut Dinda dengan telapak tangannya.


*Bibir gue... ini hanya kecelakaan Din, tenang Dinda. Om om sok cakep ini telah merenggut kesucian bibir lo yang bahkan Rifki saja tidak lo beri kesempatan untuk menyentuh bibir suci lo.


batin Dinda*.


"Diam... harusnya kamu bersyukur karena bibir saya nangkring di bibir kamu. ini namanya berkah dan jangan teriak-teriak dan memanggil seisi rumah agar tahu kecelakan bodoh ini!" kesal Raka.


tbc...

__ADS_1


__ADS_2