
"Kemana kalian? dimana istri saya?" teriak Raka membuat beberapa karyawan yang mendengarnya terkejut. Apalagi wajah Raka dan Guna terlihat tidak biasa saat ini seperti ingin melenyapkan seseorang yang telah berani mengusik keluarganya.
"Maaf Pak Raka kita kehilangan jejak mereka. Tadi saat kita mengawasi Ibu Dinda dan Ibu Ayu tiba-tiba mereka menyerang kami Pak. Jumlah mereka cukup banyak dan kami hanya bisa mengamankan Ibu Vivian dan Ibu Karina" ucapnya.
"Bawa mereka pulang ke hotel!" ucap Raka menutup ponselnya. "Kite jemput Ayunda dulu saya yakin Ayunda bisa memberikan petunjuk. Om yakin ini ada kaitannya dengan urusan keluarga Om, Guna" jelas Raka.
"Harusnya Om tidak bertindak sendirian seperti ini. Jika Om memberitahukan Guna masalah apa yang sedang Om hadapi Guna pasti bisa membantu Om!" ucap Guna dingin membuat Raka menghembuskan napas kasarnya karena lalai dan membahayakan keluarganya yang lain. "Lebih baik sekarang kita menjemput istri Guna dulu Om baru kita bicarakan langkah yang harus kita ambil!" ucap Guna.
Guna mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Guna sangat khawatir dengan keadaan istrinya dan ketika melihat istrinya menangis sambil duduk ditrotoar membuat darah Guna seakan mendidih. Amarahnya memuncak saat melihat istrinya benar-benar terlihat hancur. Guna menghentikan mobilnya dan turun dari mobil. Ia mendekati istrinya dengan cepat dan segera menarik istrinya itu kedalam pelukannya.
"Mas hiks...hiks... Dinda Mas... " tangis Ayunda pecah saat melihat kehadiran suaminya. "Mereka membawa adikku Mas!" ucap Ayunda sesegukan membuat Raka yang baru saja mendekati Ayuda dan Guna mengepalkan kedua tangannya.
"Ayu takut Mas" jujur Ayunda. Saat mengingat ia hampir saja kehilangan nyawanya. Apalagi sebuah pisau tadi hampir saja membunuhnya hingga membuatnya sangat ketakutan.
"Sttt...jangan nangis hmm... kita akan segera menemukan Adinda!" ucap Guna mencium dahi Ayunda dengan lembut dan mencoba menenangkan istrinya itu dengan mengelus punggungnya.
"Ayo pulang!" ucap Raka dengan suara dinginnya membuat Ayunda kembali terisak namun ketika Raka mendekati Ayunda membuat Ayunda memeluk Raka dengan erat hingga hati Raka seakan benar-benat hancur saat ini.
"Maafin Ayu Om, Dinda menyelamatkan Ayu Om. Dia... hiks...hiks... " tangis Ayunda yang memilukan membuat Raka menghembuskan napasnya dan mencoba menenangkan hatinya yang saat ini sesak ketika mengingat wajah penuh senyuman milik istrinya.
Raka melepaskan pelukanya dan meletakan telapak tangannya keatas kepala Ayunda "Om pasti akan membawa Dinda kembali pulang Ayu, kamu jangan sedih!" ucap Raka.
Guna sangat mengenal Raka Candrama Omnya yang keras kepala ini. Kehilangan Adinda pasti akan membuatnya benar-benar murka. Raka tidak akan memperlihatkan wajah kekhawatirannya saat ini atau bahkan terlihat bodoh jika menujukkan amarahnya yang meledak-ledak itu.
__ADS_1
"Om, Adinda menyebut nama Brian" ucap Ayunda membuat Raka mengepalkan kedua tangannya karena sepertinya Brian mulai bertindak.
"Bukannya Kakek telah memperingatkan Om, jika Brian bukanlah lawan yang bisa dengan mudah kita hadapi. Dia tangguh Om... apa yang dialami Brian selama ini membuatnya begitu kuat dan sulit untuk dikalahkan!" ucap Guna.
Raka menganggukkan kepalanya. Ia dan keluarganya hanya seorang pembisnis tapi Brian adalah sosok berbahaya karena bukan hanya bisnis tapi dia mafia berkedok pengusaha. "Mau tidak mau, kita harus membeikan apa yang dia mau Om!" jelas Guna.
"Saya menyayangi keduanya Guna dan saya sulit untuk memilih. Saya mencintai istri saya tapi saya juga menyayangi adik bungsu saya Guna" jelas Raka.
***
Raka akhirnya meminta Vivian dan Gemal untik hadir di acara peresmian hotel mewakilinya karena ia dan juga keluarganya yang lainya segera pulang ke Jakarta saat kejadian itu.
Hari ini hari kelima ia kehilangan Adinda dan itu membuatnya sangat terpukul. Kondisi apartemen Raka benar-benar berantakan saat ini. Raka menghancurkan semuanya untuk meredam kemarahannya dan menujukkkan wajah palsu tenangnya itu dihadapan keluarganya yang lain untuk menutupi kelemahannya. Adinda adalah kelemahaannya, kehilangan Adinda membuatnya benar-benar menderita saat ini.
Saat ini Alfa meminta semua keluarga mereka berkumpul di apartemen ini termasuk adik tiri Raka, Akmal dan Adam. "Ini Apartemen apa kandang ayam" ejek Gemal. Gemal baru saja sampai dengan istrinya dari Bali. Saat menerima pesan dari Guna ia segera meluncur ke Apartemen Raka.
"Om kayak nggak mandi, bau kambing loh Om. rapian dikit dong siapa tahu nanti kita bisan langsung ketemu Adinda" ucap Gemal seakan tidak takut jika Raka memukulnya saat ini. Raka menunggu Akmal mengucapkan sesuatu tapi sejak tadi adiknya itu diam tidak berkutik.
Sosok Radina muncul bersama Adam membuat mereka semua tertuju pada sosok Radina yang saat ini ternyata memiliki badan yang berisi dan terlihat sedang mengandung. Raka tiba-tiba murka dan menatap Akmal dan Adam dengan tajam.
"Apa yang tidak kalian ceritakan padaku? kenapa dia...Radina kamu hamil?" tanya Raka.
Radina menteskan air matanya dan mengangangguk. "Gila...Kau hamil lagi bersama Brian dan kau tidak memberitahukan Kakak?" tanya Raka.
__ADS_1
"Radina hamil Kak dan ini semua karena Mami Kak, Radina..." penjelasan Adam terhenti saat Raka mendengar suara ponselnya dan nomor yang tidak di kenal. muncul di layar ponselnya.
"Halo... Tuan muda Raka Candrama" ucap suara berat diujung sana membuat Raka ingin sekali memukul wajah Brian saat ini juga.
"Dimana istri saya Brian?" tanya Raka dingin.
"Istri anda terlihat sangat baik bersama saya kakak ipar" ucap Brian.
"Sejak kapan saya menjadi kakak ipar kamu?" kesal Raka.
"Tidakkah kau tanyakan kepada istri saya sejak kapan kita menikah? Ingat Raka kau harusnya tidak ikut campur urusan saya. Saya menghormati Kakek kalian dan saya juga sudah memperingatkannya agar keluarganya tidak mengusik saya! kau adalah bagian dari keluarga Candrama harusnya kau tahu siapa saya dan ingat persahabatan keluarga kita selama ini" ucap Brian.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Raka.
"Kembalikan istri saya dan saya akan mengembalikan istrimu! ini adalah pertukaran yang sama-sama menguntungkan!" ucap Brian.
"Kau hanya akan menyakiti Radina Brian, jika kau mencintainya kau tidak akan bersikap seperti ini!" ucap Raka dingin.
"Saya melakukan semua ini demi dia, tidak ada laki-laki yang lebih baik dari saya untuk Radina. Harusnya adikmu itu merasa beruntung memiliki suami seperti saya!" ucap Brian membuat Raka menutup ponselnya dan menatap Radina, Akmal dan Adam dengan murka.
"Jelaskan semuanya, jika tidak kalian semua akan menerima akibatnya!" teriak Raka menatap ketiga adiknya itu dengan tajam.
Radina berlutut dikaki Raka dan menangis terseduh-seduh. Isak tangisnya membuat Raka memijit kepalanya karena ia benar-benar gila saat ini dan ingin sekali memukul Akmal dan Adam. Akmal dan Adam terlihat sangat ketakutan melihat kemarahan Raka.
__ADS_1
Raka mendekati Akmal dan memukul Akmal dengan keras membuat Radina tergugu. Raka juga mendekati Adam dan menerjang Adam membuat Radina menggelengkan kepalanya. Akmal dan Adam tidak berkutik dan menerima apa yang dilakukan kakak sulungnya itu dengan diam. Keduanya memilih untuk tidak membalasnya membuat Radina terpekik.
"Jangan Kak cukup, hiks...hiks... ampun... jangan sakiti Kak Adam dan Kak Akmal. Radina salah Kak... Radina mau pulang!" ucap Radina.