
Mobil masuk kedalam gerbang kediaman Candrama. Raka menghentikan mobilnya tepat didepan rumah dan Adinda segera turun dari mobil. Raka keluar dari mobil dan memegang tangan Adinda, keduanya segera masuk kedalam rumah sambil bergandengan tangan. Adinda dan Raka melihat didekat kolam renang ada Farhan yang sedang memangku Felisa sambil membacakan sebuah cerita.
"Kek, Kapan Bunda Feli pulang?" tanya Felisa.
"Sebentar lagi Bunda pulang" ucap Farhan.
"Feli kangen sama Bunda Kek, Bunda perginya lama sekali" ucap Felisa.
"Bunda pergi kerja buat Feli, katanya Feli mau beli mainan?" ucap Farhan.
"Feli nggak mau beli mainan kalau Bunda pulangnya lama!" ucap Feli membuat Adinda dan Raka tersenyum mendengarnya.
"Assalamualikum" ucap Adinda membuat Felisa turun dari pangkuan Farhan dan ia berlari mendekati suara yang sangat ia kenal. Adinda tersenyum lembut saat Felisa berlari lalu memeluk kakinya membuatnya segera menggendong Felisa dan kemudian mencium pipi kanan dan pipi kiri Felisa.
"Bunda kalau pergi jangan lama-lama hiks...hiks..." tangis Felisa pecah membuat Adinda terharu karena Felisa telah benar-benar menganggapnya penting. Raka mengelus kepala Felisa dengan lembut.
"Feli kangen sama Bunda?" tanya Adinda.
"Kangen, Feli kan anaknya Bunda hiks...hiks... Papa Alfa bilang kalau Bunda sibuk kerja. Ayah juga bilang Bunda sedang sibuk cari uang buat belilin Feli mainan. Feli nggak mau mainan Bunda, Feli mau Bunda sama Ayah saja!" ucap Felisa.
Adinda lagi-lagi tersenyum bahagia "Kalau Bunda perginya lama banget, Feli bisa dapat Bunda baru nanti dari Ayah!" goda Adinda membuat Raka kesal dan tiba-tiba tangis Felisa terdengar keras membuat Adinda terkejut.
"Felisa maunya Bunda nggak mau yang lain hiks...hiks... " teriak Felisa membuat Raka mengambil Felisa dari gendongan Adinda lalu ia menggendong Felisa dan memeluk Felisa sambil menepuk-nepuk punggung Felisa mencoba menenangkan Felisa.
"Feli, Bunda udah pulang dan Feli janji apa sama Ayah?" tanya Raka dingin membuat isakan Felisa semakin kecil tapi itu membuat Adinda kesal karena Felisa terlihat ketakutan karena ucapan Raka.
"Feli nggak boleh nyusahin Bunda, Feli nggak boleh cengeng Ayah...Kalau Feli cengeng Feli..." ucap Felisa.
__ADS_1
"Ayah Felinya Bunda nggak cengeng!" ucap Adinda membuat Felisa menghentikan tangisnnya dan menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Adinda. Felisa terlihat sangat menggemaskan, pantas saja Alfa dan Karina ingin mengambil Felisa darinya. Apalagi sekarang Vivian yang dingin dan tidak terlalu suka dengan anak kecil terlihat berbeda dengan Felisa. Bahkan Vivian sangat dekat dengan Felisa dan juga Ghavin.
Adinda merentangkan tangannya dan membuat Felisa segera merentangkan tangannya meminta Adinda segera menggendongnya. "Bunda dan Ayah sayang Felisa" ucap Adinda mencium leher Felisa membuat Felisa merasa geli dan kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha... ampun Bunda... "teriak Felisa sambil tertawa.
Raka mendekati Farhan dan mencium punggung tangan Farhan. Keduanya duduk sambil menatap kolam renang yang terlihat tenang. Adinda tersenyum melihat Raka dan Farhan, ia kemudian segera menunju dapur bersama Felisa.
"Raka" panggil Farhan.
"Iya Pi" ucap Farhan.
"Rumah ini untuk kamu jadi kamu segera pindah ke sini bersama Adinda. Semua pekerja kita dirumah ini adalah keluarga kita dan Papi ingin mereka tetap bekerja disini selama mereka mau!" ucap Farhan.
"Iya Pi" Raka melihat Papinya sekarang terlihat lebih segar dan bugar.
"Sudah Pi, dia sungguh menyebalkan" ucap Raka mengingat sosok Brian.
"Raka kamu lihat air itu!" ucap Farhan menunjuk air kolam renang yang tenang. "Brian itu ibarat air. Dulu dia tenang dan anak yang sangat baik tapi ketika musibah menimpah keluarganya. Dia menjadi rapuh dan terlihat seperti ombak yang meledak-ledak. Menjadi pewaris utama menggantikan Ayahnya dan Brian menjadi saksi ketika melihat Kakak sulungnya mati didepannya. Satu orang adik perempuanya hilang. Hanya dia ada adik yang masih bayi yang tersisa. Brian kabur membawa adik kecilnya itu bersembunyi dan akhirnya ia nenemukan cara agar bisa menemui kakeknya" Jelas Farhan
Raka sangat tertarik mendengar cerita Farhan karena sikap Brian menentukan bagaimana adiknya Radina akan bahagia atau tidak. "Perebutan harta hanya akan membuat sebuah keluarga utuh hancur Raka. Kamu tahu kenapa Papi meminta semua keluarga sering berkumpul bahkan jalan-jalan bersama? pasti kamu bisa menebak kenapa Papi melakukan itu semua. Karena Papi ingin kalian memiliki rasa kekeluargaan yang besar hingga memiliki keterkaitan hati satu sama lainya Nak" jelas Farhan.
Mata tua itu menatap Raka dengan tatapan penuh kasih sayang "Papi sengaja membagi harta kepemilikian Papi kepada kalian bertiga kecuali perusahaan. Jika kalian kalian tidak bertanggung jawab kepada perusahaan dan tidak bahu-membahu menjaga Candrama grup, Papi pasti akan memberikan semua jerih payah Papi kebadan amal. Tapi Papi sekarang percaya kalian bertiga akan menjadi keturunan Candrama yang saling menyangi jika Papi tidak ada lagi kelak. Raka, Guna dan Gemal adalah pondasi kuat keluarga kita" jelas Farhan tersenyum bangga.
"Setelah Ayunda pulang dari rumah sakit, kita akan berkumpul membahas yayasan yang akan dipegang Ayunda. Vivian dan Adinda tidak tertarik. Keduanya hanya ingin membantu Ayunda dan bukan menjadi pemilik" jelas Farhan.
"Raka memang ingin Adinda membantu Raka mengembang bisnis perhotelan Pi, karena Raka juga tidak meninggalkan univeristas. Raka mengabdi di Universitas untuk membantu memberikan Ilmu yang Raka dapatkan kepada mahasiswa Raka Pi" ucap Raka karena menjadi pengusaha sebenarnya bukan menjadi hal utama yang dulu ia inginkan.
__ADS_1
Adinda mendekati Raka dan Farhan. Ia membawa nampan yang berisi cemilan dan dua buah jus segar. Ia meletakannya diatas meja "Tadinya mau buatin kopi tapi ingat kalau Papi lebih baik minum jus segar dibandingkan kopi!" ucap Adinda.
"Felisa mana?" tanya Raka.
"Tadi dia Dinda dudukkan di kursi agar bisa melihat Dinda membuat jus tapi sepertinya dia kelelahan, Dia tertidur dikursi" ucap Adinda
"Tadi Karina dan Vivian mau ngajakin Feli ke Mall, tapi Feli nggak mau dan mau menunggu Bundanya pulang! Udah seminggu ini dia selalu nangis kalau nanyani kamu Din" jelas Farhan.
"Iya Pi, Dinda sekarang akan lebih memperhatikan Feli, Pi" jelas Adinda.
"Feli kamu pindahin ke kamar?" tanya Raka.
"Iya Kak, Dinda juga udah minta Mbak Hanum jagain Feli diatas!" ucap Adinda. Saat Feli tertidur ia segera memindahkan Felisa ke dalam kamar dan memanggil salah seorang pembantu untuk menemani Feli didalam kamar.
"Pi, Raka dan Dinda keatas dulu ya Pi!" ucap Raka.
"Nanti aja Kan Dinda mau cerita sama Papi!" ucap Adinda membuat Farhan tersenyum.
"Udah ke atas aja Din, Papi ngerti kok maunya Raka apa!" goda Farhan membuat Adinda menatap Raka dengan kesal.
Raka segera menarik Adinda agar mengikutinya. Saat ini keduanya berhenti didepan sebuah kamar membuat Adinda menghentikan langakahnya saat Raka mendorong pintu kamar itu "Kamar Dinda kan disana Kak!" ucap Adinda.
"Sekarang ini kamar kita!" ucap Raka membuat Adinda menelan ludahnya saat melihat senyum setan milik suaminya yang sepertinya telah merencanakan sesuatu padanya.
"Ini masih sore" ucap Adinda.
"Sore dan malam, pagi dan sore tidak ada bedanya" ucap Raka membuat Adinda pasrah saat Raka menariknya masuk kedalam kamar Raka yang belum pernah ia masuki selama ini.
__ADS_1
tbc....