CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Arisan


__ADS_3

Siang ini Adinda akan datang ke acara arisan perkumpulan wali murid. Ia menatap penampilannya dan tersenyum karena ia sudah tidak sabar bertemu para ibu-ibu teman sekelas putrinya itu. Adinda memakai gaun berwarna kuningnya dan memakai makeup tipis. Ia telah belajar banyak soal makeup kepada seorang ahli makeup yaitu Vivian. Vivian juga membantunya memilih pakaian bermerek yang cocok untuk ia pakai di acara formal. Apalagi jika ia ikut Raka, kesebuah pertemuan yang melibatkan istri para pengusaha, mau tidak mau Adinda harus berpenampilan wah agar tidak membuat malu suaminya.


Adinda mendekati pengasuh putranya. Ia kemudian mencium pipi Rayhan dengan lembut. "Rayhan jangan nakal, Bunda mau pergi arisan sebentar ya nak!" ucap Adinda dan Rayhan tersenyum. "Mbak tadi asinya Dinda udah ada didalam kulkas. Kalau nanti Rayhan rewel Mbak telepon Dinda ya Mbak!" pinta Adinda.


"Iya Non," ucapnya. Adinda tersenyum dan ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar bermain anak dan menuju mobil.


Adinda memiliki supir seorang perempuan dan juga ada satu mobil yang berisi beberapa pengawal yang akan mengikuti Adinda. Semenjak kejadian penculikan yang dilakukan Brian padanya, Raka menjadi lebih overproktetif dan ia memperkerjakan banyak pengawal untuk menjaga keluarganya khususnya Adinda dan Felisa. Mereka berangkat menuju sekolah Felisa dengan kecepatan sedang. Sekolah Felisa ini memang dikhususkan untuk keluarga yang kaya karena keselamatan anak-anak mereka terjamin disini.


Mereka sampai disekolah dan seorang bodyguard membuka pintu mobil untuk Adinda. "Terimakasih Pak," ucap Adinda ramah.


Penampilan Adinda dengan warna favoritenya memang menarik perhatian orang-orang. Warna yang mencolok dengan penampilan cantiknya membuat orang-orang kagum padanya Dress yang dipakai Adinda tidak terlihat mewah, namun aura kecantikan Adinda dengan kulit putihnya itu membuat penampilannya terlihat mempesona.

__ADS_1


Adinda melihat Felisa tersenyum dan mendekatinya. "Bunda..." teriak Felisa melambaikan tangannya dan mempercepat langkahnya. Adinda tersenyum dan ia merentangkan tangannya lalu segera memeluk putrinya itu.


"Bekalnya habis nggak?" tanya Adinda.


"Habis Bunda," ucap Felisa.


"Alhamdulilah," ucap Adinda.


"Nda jadi pergi arisanya? ibu guru Feli nanyain Bunda tadi. Katanga arisanya di cafe itu!" tunjuk Felisa pada Cafe mewah yang berada didepan sekolah ini. Beberapa mobil mewah telah terlihat disana dan Adinda mengajak Felisa masuk mobil bersamanya. Mobil kemudian memutar dan segera parkir didepan Cafe. Beberapa murid dan ibunya terlihat masuk kedalam cafe itu.


"Nanti kita coba ya nak, kamu mau pesan apa aja Bunda belikan asalkan habis. Ingat ya sayang Bunda nggak suka orang yang nggak meghabiskan makananya jika beli makanan lebih dari satu!" ucap Dinda.

__ADS_1


"Iya Bun," ucap Felisa tersenyum manis.


Dinda memang memiliki banyak uang dan bisa memanjakan anak-anaknya, tapi Dinda akan mengajarkan anak-anaknya menghargai uang dan tidak menghamburkannya untuk sesuatu yang tidak penting. Dinda tidak ingin sifat sombong, egois, rakus dan tamak menguasai kehidupan anak-anaknya nanti. Ia dan suaminya sedapat mungkin mengajarkan anak-anaknya arti kehidupan dan mengharagi serta menghormati orang lain.


Adinda dan Felisa bergandengan tangan dan keduanya masuk kedalam cafe. Suasana Cafe yang telah ramai membuat suara gaduh namun ketika melihat kehadiran Adinda, semua mata tertuju pada sosok Adinda yang cantik. Apalagi saat ini Adinda sedang memegang tangan Felisa dan membuat mereka akhirnya bertemu dengan Adinda Bundanya Felisa yang sering menjadi bahan pembicaraan mereka.


Adinda melihat seorang wanita cantik mengangkat tangannya dan meminta Adinda mendekati mereka. Adinda melangkahkan kakinya mendekati mereka. "Assalamualikum, salam kenal semua," ucap Adinda membuat semua mata tertuju padanya.


Adinda bisa melihat ada beberapa dari mereka terlihat menyukainya dan ada juga yang teihat tidak menyukai kehadirannya. Felisa melihat teman-temannya bermain di tempat bermain anak membuat Adinda melepaskan tangan Felisa. "Boleh main tapi nggak boleh pergi jauh dari Bunda!" ucap Adinda memperingatkan Felisa agar tidak jauh darinya.


"Iya Bunda," ucap Felisa melangkahkan kakinya mendekati beberapa teman kelasnya.

__ADS_1


"Kamu Adinda, ibunya Felisa?" tanya salah seorang wanita yang saat ini menatap penampilan Adinda dari atas hingga kebawah.


"Iya saya Adinda, Bundanya Felisa," ucap Adinda tersenyum ramah.


__ADS_2