
Adinda sedang sibuk dengan rutinitasnya sebagai seorang ibu dan istri setelah beberapa hari yang lalu ia sibuk dikampus. Hari ini ia memasak makanan untuk suaminya dan Papi mertuanya. Adinda mengurangi garam dan memberikan Farhan makanan sehat, Farhan tidak menolak perhatian Adinda dengan memakan semua makanan yang disiapkan Adinda untuknya.
Kesibukan Adinda didapur membuat Raka penasaran dan ia mendekati Adinda, lalu memeluk Adinda dari belakang. Adinda bisa menebak siapa orang yang sering memeluknya seperti ini kalau bukan suaminya.
"Kok pulang cepat Kak?" tanya Adinda.
"Dikampus mahasiswa lagi UTS dan di hotel nggak ada rapat," ucap Raka. "Kakak kangen sama kamu! makanya pulang," gombal Raka membuat Adinda terkekeh.
"Hehehe.. gombal amat ya sekarang, ini nih udah termakan ajaran Papaku" ucap Adinda mengingat Bagas yang selalu menceritakan kisah cinta bersama Ratna dan juga caranya merayu Ratna.
"Tapi kamu suka kan?" tanya Raka mengecup pipi Adind dengn cepat.
"Dinda lebih suka Suami Dinda yang apa adanya," ucap Adinda.
"Beneran?" goda Raka.
"Nggak percaya?" kesal Dinda.
"Percaya Dinda."
__ADS_1
"Awas saja kalau nggak percaya!" kesal Dinda sambil mengaduk masakannya. "Kakak tahu ini apa?" ucap Adinda memperlihatkan centong kayu yang ada ditangannya. Raka mengerutkan dahinya membuat Adinda tersenyum "Ini senjata para ibu-ibu Kak, kalau suaminya berani melirik wanita lain tak pukul pake centong perkututnya!" ucap Adinda membuat Raka terkekeh.
"Hehehe tapi sayang Kakak bukan laki-laki yang suka permpuan lain. Kakak hanya suka sama mahasiswa s2 yang belum tamat kuliah yang bernama Adinda," goda Raka.
"Dinda udah sidang kalau Kakak lupa," ucap Adinda mematikan kompornya dan membalikan tubuhnya menatap Raka. "Dinda sidang tapi suami Dinda pura-pura nggak kenal, nggak ngucapin selamat. Masa Dinda sedang nangis gitu karena terharu di ruang sidang bukannya dipeluk tapi nyelonong aja keluar ninggalin Dinda," kesal Adinda mengingat saat ia sidang kemarin siang.
"Di kampus Kakak ini dosen, bukan suami kamu!" ucap Raka.
"Tapi Kakak sengajakan memberikan pertanyaan yang susah? Harusnya Kakak itu kasih tahu dong apa yang mau kakak tanyakan saat sidang sama Dinda biar Dinda bisa jawab!" kesal Adinda.
"Kamu akan lebih dihargai dan dihormati, jika bisa menjawab semua pertanyaan dosen termasuk pertanyaan yang susah dari Kakak!" jelas Raka.
"Kakak kan bukan lagi nungguin kamu tapi kakak hadir disana sebagai penguji," ucap Raka.
"Kakak ngeselin banget sih," kesal Adinda membuat Raka terkekeh dan para maid ikut terkekeh. "Astaga Dinda kira hanya kita aja yang ada didapur," ucap Adinda. Mereka semua tertawa terbahak-bahak melihat Adinda dan Raka yang sering meributkan suatu hal namun pertengkaran kedunya terlihat manis, lucu dan juga romantis.
"Nanti ya Din kakak ucapkan selamat kalau selesai perbaikan dan wisuda!" ucap Raka.
"Para Mbak-mbak ingatin anaknya yang belum nikah, kalau cari suami jangan dosen sendiri bisa makan hati kalau dicuekin di Kampus!" ucap Adinda membuat mereka semua kembali terkekeh.
__ADS_1
"Tapi kalau calon suaminya setampan, sepintar dan sekaya Tuan Raka. Jangankan anak Bibi non, Bibi rela ninggalin Kang Ujang demi Tuan Raka!" ucap mereka membuat Dinda dan Raka ikut tertawa.
"Ayo Ka kita mesra-mesraannya disana aja! kalau kita disini mereka jadi keenakan ngeliatin kemesraan kita Kak!" ucap Adinda menarik tangan Raka membuat mereka semua tersenyum.
Sikap Adinda dengan para pekerja di Rumah kediaman utama Candrama sangat ramah. Mereka semua memuji Adinda, karena Adinda memperlakukan mereka seperti keluarganya sendiri. Adinda bahkan memberikan uang lebih ketika awal semester dimulai agar bisa membantu mereka untuk memenuhi kebutuhan sekolah anak-anak mereka. Mereka pun menjadi sangat betah bekerja disini, bahkan para maid yang telah tua pun mengatakan jika Adinda sangat baik seperti mendiang istri pertama Farhan.
"Bentar lagi kita makan ya Kak, Dinda mau konsultasi perbaikan tesis Dinda!" ucap Adinda.
"Kerjakan sendiri Dinda!" ucap Raka.
"Dinda kan kosultasi bukan minta Kakak kerjain!" ucap Adinda.
"Kakak dapat apa?" tanya Raka membuat Adinda menatap Raka dengan kesal.
"Udah dilayani lahir dan batin masih juga nanya Kakak dapat apa?" kesal Adinda membuat Raka tersenyum. Menggoda istrinya memanglah sangat menyenangkan.
"Gimana kalau kamu pijatin Kakak nanti!" pinta Raka.
"Oke siap!" ucap Adinda memeluk Raka dengan erat. Setidaknya ia bisa melakukan perbaikan dengan segera. Jika Raka menjelaskan secara detail mengenai kesalahan yang ada ditesisya ia pasti akan mengerti dengan cepat.
__ADS_1
Teriakan Ayunda yang baru saja masuk membuat Adinda tersenyum. Dinda berharap mendapatkan ucapan selamat dari Ayunda dan Vivian.