CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
kepulangan Raka


__ADS_3

Seorang laki-laki tampan yang memiliki tinggi 1,87 m memiliki mata tajam, hidung yang mancung, berkulit putih, beralis tebal dan memiliki rahang yang tegas. siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona dalam hitungan detik namun tidak dengan sikapnya yang tidak ramah dan terihat angkuh. Raka Candrama putra bungsu Farhan Candrama. Ia merupakan adik dari Aditya Candrma orang tua Gunadrama. tapi Raka berbeda ibu dari Aditya.


Sebenarnya Raka ragu menginjakkan kakinya dirumah mewah dan megah ini. Rumah ini pernah membuatnya terkurung dengan berbagai aturan yang ditetapkan sang Papi. Papinya mengatur segalanya dari bangun tidur hingga apa yang harus Raka lakukan dan apa yang tidak boleh Raka lakukan. walaupun begitu Raka sangat menyayangi Papinya namun niatnya yang ingin pulang ke rumah ini hanya sebatas niat, buktinya beberapa tahun yang lalu Raka hanya mampu berhenti didepan rumah ini dengan mobilnya dan hanya menatap rumah ini dari dalam mobilnya dengan tatapan kerinduan.


Semua yang ia alami menjadikannya seorang Raka kuat dan mandiri. Raka yang selalu berusaha hingga ia mendapatkan apa yang ia inginkan yaitu menamatkan kuliahnya hingga jenjang S3. Raka pernah berharap agar Papinya itu datang ke Wisudanya dan memeluknya tapi ia selalu ragu apakah sang Papi masih mengaggapnya anak setelah Ia membantah permintaan Papinya dan akhirnya terusir dari rumah ini.


Raka membuka pintu mobilnya dan melangkahkan kakinya keseberang jalan menuju pintu gerbang kediaman Candrama. seorang satpam membuka pintu pagar dan menatap Raka dengan tatapan penasaran.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.


"Saya ingin bertemu pemilik rumah ini" ucap Raka.

__ADS_1


"Apakah anda sudah janji dengan tuan Farhan?" tanya satpam itu.


"Iya saya sudah berjanji dengan Papi saya!" ucap Raka membuat satpam itu terkejut.


"Maaf kalau boleh saya tahu nama anda siapa?" tanya Satpam itu lagi.


"Raka Candrama" ucap Raka membuat wajah satpam itu memucat karena tidak mengenal putra bungsu pemilik rumah ini.


"Naik mobil taman aja Den, biar nanti mamang yang masukin mobil aden!" ucap salah satu pekerja yang segera melangkahkan kakinya dengan cepat ketika melihat Raka.


"Mang Ujang apa kabar?" tanya Raka mengangkat sudut bibirnya saat melihat Mang Ujang yang dulu selalu menemaninya dikala ia sepi di rumah ini.

__ADS_1


"Alhamdulilah baik den, Aden apa kabar? kenapa Aden jaran pulang? kasihan Tuan Den" ucap Ujang membuat Raka menahan rasa harunya karena ternyata sang Papi sepertinya juga merindukannya.


"Papi apa kabar?" tanya Raka membuat Ujang menghela napasnya.


"Papi Aden sedang sakit Den, Tuan Aditya sudah membujuk Papi Aden untuk operasi tapi Papi Aden menolaknya" ucap Ujang membuat Raka menghela napasnya.


Raka kembali mengingat ucapan Adinda mahasiswanya yang sangat menyebalkan itu tapi ucapan Adinda ternyata menyentuh hatinya hingga membuatnya ingin bertemu Papinya. Ada perasaan takut dihati Raka ketika ia tidak bisa lagi menatap wajah Papinya. Adinda benar, sudah cukup ia berusaha untuk menjauh dari keluarganya dan sudah saatnya ia melupakan masalalu.


Raka mengikuti Ujang naik kedalam mobil taman yang akan membawanya ke rumah utama. Halaman rumahnya ini sangat besar dan memiliki banyak fasilitas. Papinya berhasil mengelolah perusahaan dengan sangat baik, apalagi saat ini ada Guna yang membantunya. Guna bukan hanya keponakannya tapi juga sahabatnya. ia dan Guna hanya berbeda satu tahun hingga keduanya sering bermain bersama bahkan dulu keduanya sering sekali membuat Gemal menangis.


"Mang, saya ingat Mamang dulu yang selalu membuat kita berdamai kalau lagi bertengkar" ucap Raka tersenyum sambil mengingat masalalu.

__ADS_1


"Iya den dan Tuan besar selalu ingat bagaimana Aden menangis ketika Tuan akan pergi keluar negeri untuk bekerja dan meninggalkan Aden dirumah" jelas Mang Ujang membuat Raka menganggukkan kepalanya dan dulu ia memang selalu ingin ikut pergi bersama Papinya karena di rumah besar ini ketika Gemal dan Guna tidak disini, Raka sangat kesepian.


__ADS_2