
Adinda berjalan dikoridor rumah sakit menuju ruang perawatan Ayunda. Sepanjang perjalanan melewati koridor, Raka selalu memegang erat tangan Adinda. Keduanya pun sampai didepan ruangan Ayunda. Guna yang berjalan didepan mereka segera membuka pintu dan masuk kedalam bersama diikuti yang lainya yang juga masuk kedalam. Ratna melihat Adinda, ia segera berdiri dari duduknya dan mendekati Adinda lalu memeluknya dengan erat.
"Dinda akhirnya kamu pulang nak hiks...hiks... " tangis Ratna pecah membuat Adinda dan juga Ayunda menangis. Ayunda sama seperti Ratna terkejut melihat sosok Adinda ya g berada disamping Raka. Ayunda ingin sekali memeluk adik bungsunya itu yang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan keselamatan Adinda. Ratna mencium kedua pipi Adinda berulang kali dan kemudian kembali memeluk Ayunda dengan erat.
"Dinda hiks...hiks..." panggil Ayunda membuat Adinda melepaskan pelukannya pada sang Mama dan mendekati Ayunda dengan cepat lalu memeluknya dengan erat.
"Kenapa bisa sakit begini, Dinda kan udah bilang sama Mbak kalau Dinda pasti akan baik-baik saja! Kalau sakit begini gimana Ghavin kan kasihan Mbak!" ucap Adinda terharu.
"Nah pasti berantem tuh!" ucap Gemal membuat Guna menghela napasnya.
"Udah biasa seperti itu" ucap Guna.
"Kamu jahat banget sama Mbak Din, kamu membuat Mbak khawatir sama kamu!" kesal Ayunda.
"Dinda hanya ingin yang terbaik untuk kita berdua saat itu Mbak!" ucap Adinda.
"Kamu beneran nggak apa-apa dek?" tanya Ayunda membuat Adinda menghela napasnya.
"Nggak apa-apa Mbak, yang menculik Dinda itu adik iparnya Kak Raka. Jadi sebenarnya ini semacam masalah keluarga gitu. Suami yang menuntut Kakak iparnya agar mengembalikan istrinya, Mbak" jelas Adinda. Ia menghapus air mata Kakak perempuanya itu dengan lembut.
Adinda menghela napasnya "Anak Dinda dimana?" tanya Adinda mengedarkan pandangannya mencari Felisa.
"Felisa sama Vivian dan Karina. Kita bilang kamu sedang bekerja pergi diluar kota nak. Kemarin aja nangis telepon Raka dan bilang mau ketemu Bundanya" ucap Ratna.
Ayunda memegang tangan Ayunda dan juga Ratna "Dinda disana diperlakukan dengan baik Kok Ma, Mbak. Brian nggak sejahat yang Mbak pikirkan dan dia hanya menggertak kita waktu itu agar kita mengikuti mereka" jelas Adinda karena melihat raut wajah sendu Ayunda.
"Tetap saja Mbak takut Yu, mereka mau menusuk Mbak dengan pisau dan apalagi saat mereka membawa kamu pergi. Mbak takut kamu diapa-apain sama mereka. Mbak sangat takut nggak bisa lihat kamu lagi dek hiks... " jelas Ayunda.
Guna mendekati istrinya itu dan memeluk Ayunda "Mas janji itu terkahir kalinya kamu merasa terancam dan ketakutan seperti ini Ayu. Mulai sekarang kamu jangan menolak jika Mas memerintahkan orang untuk mengawasimu dan menjagamu!" ucap Guna.
"Iya Mas" ucap Ayunda.
"Ini resiko menjadi keluarga Candrama Ayu, kebebasan akan terbatas dan itu berlaku kepada semua keluarga kita mulai saat ini!" ucap Guna tegas dan disetujui Raka yang menganggukkan kepalanya ketika Adinda menatapnya.
Tentu saja kejadian penculikan Ayunda dan Adinda membuat seluruh keluarga mereka terpukul termasuk para keluarga Candrama yang lainya yang merupakan saudara persepupuan Farhan Candrama. "Kali ini saya akan menambah para bodyguard untuk masing-masing anggota keluarga minimal dua" jelas Guna.
__ADS_1
"Mama tidak perlu Guna, nama belakang Mama kan bukan Candrama lagian Mama hanya mertua kalian!" ucap Ratna menolak diberikan pengawal.
"Mama bagian dari kita dan Mama harus dijaga!" ucap Guna tegas membuat Ratna menelan ludahnya. Ia tidak bisa membayangkan jika saat arisan bersama teman-temannya ia harus dijaga ketat. Apalagi pembicaraan para ibu-ibu terkadang membicarakan para menantunya.
"Mama tenang aja punya pengawal nggak semenakutkan itu kok Ma, Mama diawasi dari jauh!" jelas Raka membuat Ratna sedikit legah.
Ayunda mengamati wajah Adinda dan kemudian tersenyum "Dek, lain kali kamu tidak boleh mengorbankan diri kamu untuk mbak ya!" pinta Ayunda.
Adinda tersenyum lembut "Dinda nggak mau Mbak kenapa-napa, karena Ghavin masih sangat kecil Mbak dan butuh Mbak. Mulai sekarang jangan mengabaikan kesehatan Mbak ya!" pinta Adinda.
"Kejadian kali ini nggak akan terulang lagi dan tidak ada yang namanya berkorban demi siapa!" ucap Raka dingin.
"Iya Om..." ucap Ayunda.
"Mbak istrirahat yang banyak ya! Dinda mau ketemu Felisa dulu. Dinda juga belum ketemu Papa Mbak, Ma" ucap Adinda mengingat sosok Bagas papanya itu.
"Mereka semua ada di rumah Kakek, besok Mbak pulang dari rumah sakit kok dan kita bisa kumpul-kumpul lagi!" ucap Ayunda.
"Tidak, kamu masih akan berada di Rumah Sakit beberapa hari lagi!" ucap Guna menatap istrinya itu dengan kesal.
"Siapa suruh kamu sakit" ucap Guna.
"Memang Ayu mau sakit?" kesal Ayunda.
"Gem, nanti kamu antar Mama dan Adam pulang!" ucap Guna.
"Nggak usah Kak, saya sudah dijemput supirnya Kak Raka" ucap Adam.
"Mama kenapa pulang? Mama kan nginap disini!" ucap Ayunda.
"Saya yang akan menginap disini Ayu, Mama pulang untuk istirahat!" ucap Guna.
"Ya sudah kita pulang dulu!" ucap Raka.
Adinda kembali memeluk Ayunda dan ia kemudian mencium punggung tangan Ratna diikuti Raka "Asaalmualikum" ucap Raka dan kemudian diikuti Adinda dan Adam yang juga mengucapkan salam lalu mereka segera keluar dari ruang perawatan Adinda.
__ADS_1
Mereka bertiga lebih dulu pulang, Adinda kembali menggandeng lengan Raka membuat Adam tersenyum. Ia harus bisa terbiasa dengan apa yang ia lihat saat ini. Lagian Adam sudah ikhlas melepas Adinda untuk kakak tirinya yang ternyata memiliki cinta melebihi cintanya kepada Adinda.
Mereka sampai di parkiran rumah sakit. "Kak, Din saya pamit pulang!" ucap Adam.
"Iya hati-hati Kak Adam" ucap Adinda dan Raka menganggukkan kepalanya membuat Adam tersenyum.
" Assalamualaikum" ucap Adam.
"Waalaikumsalam" ucap Adinda dan Raka. Adam masuk kedalam mobil bersama dua orang supir yang membawakan mobil Raka dan mobil kantor.
Adinda dan Raka juga masuk kedalam mobilnya. Adinda menatap Raka yang saat ini sedang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. "Maaf membuat Kakak khawatir" ucap Adinda.
"Semua karena saya Dinda. Saya lalai menjaga kamu!" ucap Raka melirik Adinda sekilas dan ia segera kembali fokus menyetir mobilnya.
"Kakak tahu nggak apa yang dipikirkan Adinda saat Adinda terkurung disana?" tanya Adinda.
"Kamu berpikir pasti saya akan segera datang menjemput kamu!" ucap Raka.
"Ya Kak, Dinda yakin Kakak akan membawa Dinda keluar dari sana. Kak Dinda pernah bermimpi buruk saat disana. Dinda mimpi Kakak pergi membawa Felisa meninggalkan Dinda dan itu membuat Dinda menangis histeris" jelas Adinda.
Raka memegang tangan Adinda lalu mencium punggung tangan Adinda. "Itu hanya mimpi buruk dan saya tidak akan mewujudkan mimpi kamu itu!" ucap Raka.
"Kak, saat Dinda mimpi itu Dinda kan nangis gitu sampai teriak-teriak maki Brian agar Dinda dipulangi. Dinda mau ketawa kalau ingat Kak. Brian sangat kesal dan memilih diam sambil menerima kemarahan Dinda. Dinda lempar dia dengan bantal, sendal dan juga barang-barang dirumahnya termasuk hahaha patung-patung seram yang ada dirumahnya itu Dinda dorong hingga jatuh. Setelah mengamati sikap Brian Dinda yakin dia nggak akan menyatiki Dinda jadi Dinda sengaja menyingkirkan patung-patung jelek itu kak. kehadiran patung-patung itu yang membuat rumah Brian tambah seram Kak makanya Radina nggak betah" jelas Adinda.
"Din, Jika kamu berani menyebut nama Brian tanpa namanya saja saya akan menghukum kamu!" ucap Raka.
"Jadi Dinda harus panggil dia apa?" tanya Adinda.
"Adik ipar" ucap Raka.
"Hahaha dia mana mau Dinda panggil Adik ipar, kok Kakak jadi lebay kayak Dinda sih?" goda Adinda melihat wajah cemberut suaminya.
"Jangan marah ya sayang, kan malam ini kita bisa kangen-kangenan!" ucap Adinda membuat Raka menarik sudut bibirnya.
tbc...
__ADS_1