
Mereka semua keluar dari Rumah mewah ini. Raka memegang tangan Adinda dengan erat seolah takut kehilangan Adinda. Raka bisa bernafas legah karena Adinda bisa kembali kedalam pelukannya. Bagi Adinda pengalamanya tinggal di Rumah ini menjadi berkesan. Ia akhirnya tahu permasalahan yang terjadi antara Radina dan Brian. Adinda hanya bisa berharap keduanya agar bisa saling terbuka dan akhirnya bisa saling menerima. Mencari tahu hubungan Radina dan Brian tidaklah mudah, Adinda mendekati para pekerja dirumah itu dan mulai banyak bertanya kepada mereka. Satu hal yang Adinda tahu dari mereka, Brian memang tegas dan kejam tapi sebenarnya memiliki hati yang baik.
Asisten Brian mengantarkan mereka ke gerbang utama. Terlihat beberapa para bodyguard Brian babak belur akibat ulah Tama, Alfa, Gemal dan Riskan yang melewati gerbang lain dirumah ini. Mereka masuk kedalam mobil dan Gemal memilih pindah ke dalam mobil Guna. Adinda duduk disamping Raka di bagian belakang Guna dan Gemal sedangkan Adam duduk di bagian paling belakang karena Raka menolak Adam duduk bertiga dibagian tengah bersama dirinya dan Adinda.
"Kak Alfa nggak bisa ikut pulang karena ada urusan yang harus mereka lakukan!" jelas Gemal.
"Saya lupa berterimakasih kepada teman-teman Alfa" ucap Raka dan kemudian mencium dahi Adinda dengan lembut.
Adinda memeluk Raka membuat Gemal tersenyum melihat kemesraan keduanya "Din kamu ngapain aja di rumah seram itu?" tanya Gemal.
"Nah... ternyata bukan aku saja yang sadar kalau rumah si Brian itu seram banget. Rumah gede kayak kastil dan mirip istana gitu tapi auranya bikin merinding Gem. Tiap malam aku nggak bisa tidur horor benget" ucap Adinda membuat Raka mengelus rambut Adinda.
"Kalian tahu nggak, si Brian itu kayak orang yang punya kepribadiaan aneh. Gosip di kalangan penghuni rumah mengatakan kalau Brian itu suka banget mainin pisau didalam kamarnya dan katanya sih dia suka menyakiti orang apalagi kalau ngeliat darah gitu. Makanya kalau ada rekan bisnisnya yang buat salah katanya bisa dibunuh sama Brian!" ucap Adinda membuat Guna tersedak dan kemudian tertawa diikuti Adam dan Gemal yang ikut tertawa terbahak-bahak.
"Om istrimu kebanyakan ngehalu jadinya begini nih hehehe" kekeh Guna.
"Din kalau dia pembunuh rekan bisnisnya sama karyawanya yang korupsi udah pada mati semua hahaha. Din apa kamu diperlakukan kasar sama Brian?" tanya Gemal.
"Enggak dia baik sama Dinda asalkan Dinda tidak kabur dari sana. Dia bilang apa aja yang Dinda mau agar tidak bosan di rumah seramnya itu dia perbolehkan, walaU Dinda sebenarnya sedikit memaksa sih tapi dia nggak marah banget sama Dinda hehehe... " kekeh Dinda.
"Gue curiga pasti lo membuat Brian kesal setengah mati?" ucap Gemal.
"Hehehe... lumayan membuatnya kesal mungkin. Jadi saat disekap disana Dinda minta disediakan Tv yang besar sama Tuan Brian dan dibeliin sama dia. Dinda bosan banget jadi kalau ada Tv gede Dinda bisa puas nonton drama korea dan film romance hehehe" kekekh Adinda. Ia ingat bagaimana Adil asistenya Brian kesal padanya.
"Jadi Din lo nggak rindu sama si Om?" goda Gemal.
__ADS_1
Adinda mengangkat wajahnya dan menatap Raka, ia bisa melihat raut kesal dari wajah tampan suaminya. "Rindu banget Gem, tiap malam Dinda nggak bisa tidur nyenyak. Kadang-kadang takut dan curiga juga kalau bodyguard seramnya Brian masuk kamar Dinda" jujur Dinda. "Kalau ngadepin Brian nggak boleh terlihat ketakutan karena dia itu suka melihat orang yang dia tatap ketakutan. Kalau kita takut, dia semakin mencari cara agar kita semakin tunduk sama dia!" jelas Adinda.
"Jadi selama ini lo jadi super women ya Din, kayak pemberani gitu?" tanya Gemal. Sebenarnya ia sangat mengenal Adinda, Adinda memilih untuk menyembunyikan rasa takutnya kepada orang yang tidak ia kenal dan menampilkan karakternya yang terlihat kuat.
"Ya..." ucap Adinda pelan. "Dinda memilih menangis sendiri disana kalau malam hari ingat keluarga dan ingat suami. Siapa yang nggak takut berada dirumah mewah yang mengerikan dan dijaga ketat oleh para bodyguard yang menyeramkan!" lirih Adinda.
"Apa Radina akan diperlakukan dengan baik oleh Brian?" tanya Adam sendu. Ia meremas rambutnya dengan kesal karena ia tidak bisa melindungi adik perempuannya satu-satunya.
"Tenanglah Dam, Brian tidak akan menyakitinya!" ucap Raka.
"Kenapa Om bisa seyakin itu?" tanya Guna yang sedang fokus menyetir. Ia sebenarnya juga tertarik mendengar sosok Brian yang pernah menjadi saingannya dalam perebutan penghargaan dalam bidang ekonomi bisnis.
Raka mengeluarkan ponselnya dan menujukkan pesan dari Brian. Adinda membaca pesan itu dan kemudian menyunggingkan senyumannya.
"Sekejam apa pun ucapan saya kepada Radina saya tidak akan menyakiti fisiknya. Ucapan saya hanya menyinggung agar dia bisa belajar menjadi pribadi yang
"Saya mungkin bukan suami yang baik untuknya, tapi yang saya lakukan adalah bentuk tanggung jawab saya sebagai seorang suami yang ingin memberi pelajaran kepada istrinya". Adinda kesal membaca pesan dari Brian.
"Katakan kepada Mamimu agar menjauhi Radina karena Radina tidak butuh dia. Istriku hanya membutuhkanku!" Adinda memasukkan ponsel Raka kedalam kantung celananya.
"Egois bangat si Brian" kesal Adinda.
"Dia punya alasan kenapa bersikap seperti itu kepada Radina!" jelas Raka. "Dam, bagaimana kalau kamu bantu kakak menangani hotel Kakak yang ada di Bali!" tawar Raka.
"Oke Kak" ucap Brian.
__ADS_1
"Dam, itu Om Raka lakukan agar lo nggak suka lagi sama Adinda. Lo bisa cari cewek bule cantik disana dan melupakan kakak ipar lo Dam hehehehe... !" kekeh Gemal membuat Raka menaikkan sudut bibirnya dan Adinda bisa menduga jika apa yang dikatakan Gemal itu benar.
"Kak, Dinda kan cintanya sama Kakak, kok jahat banget, ngebuang Kak Adam kesana!" kesal Adinda.
"Saya nggak dibuang Din, apa yang dilakukan Kak Raka adalah sebagai bentuk kasih sayangnya kepada saya!" ucap Adam tersenyum.
"Ya udah terserah, asal jangan ngeluh aja disana ya Kak. Nanti kangen sama jakarta dan seisinya" ucap Adinda.
"Adam boleh kangen sama apapun asalkan jangan kangen sama istri saya!" ucap Raka membuat Gemal, Guna dan Raka tertawa terbahak-bahak
"Hahaha... "
"Loh...kok di kita ke rumah sakit?" tanya Adinda bingung.
"Ayu pengen ketemu kamu!" ucap Guna.
"Mbak Ayu masuk rumah sakit?" tanya Adinda.
"Mbak Ayu terkena tifus baru saja mama kirim pesan kasih tahu kalau Mbak Ayu harus rawat inap" jelas Gemal.
Adinda menatap sendu Raka dan ia kemudian kembali memeluk Raka "Mbak Ayu pasti kecapean dan juga khawatir dengan keadaan Dinda makanya bisa kambuh gitu" ucap Adinda.
"Dia kepikiran terus sama kamu Din" jelas Guna mengingat istrinya yang sering melamun saat memikirkan Adinda.
"Nanti kalau ketemu Mbak Ayu jangan diajak berantem ya Din, ternyata dia sangat sayang sama lo Din!" ucap Gemal.
__ADS_1
"Ya" lirih Adinda dan tanpa sadar ia menteskan air matanya.