
Guna kesal, ingin sekali ia memukul wajah tampan Brian yang sangat menyebalkan itu. Apalagi hatinya saat ini sangat kacau dan ditambah lagi dengan ocehan Brian yang membuatnya menjadi bahan tertawaan. Raka merangkul bahu Guna sambil tersenyum.
"Nggak usah marah, solusi Brian ada benarnya juga. Yang penting sekarang bagaimana cara memberi pengertian kepada Ayunda jika kamu menerima berita bahagia tentang kehamilannya!" ucap Raka.
"Sebenarnya Kak, kehamilan Ayunda memang berbahaya tapi bisa dihindari jika mengikuti saran dari Dokter. Untuk menjaga segala kemungkinan Ayunda harus rutin memeriksakan diri ke dokter kandungan setiap bulan. Jadi pemeriksaan adalah cara yang paling efektif untuk mendekteksi resiko dan memantau kesehatan ibu dan janin, " jelas Gemal.
"Jadi Gem, apa yang harus Kakak lakukan Gem?" tanya Guna.
"Memperhatikan istri Kakak itu sangat diperlukan. Asupan nutrisi yang sangat penting tapi hindari makanan yang berlebihan. Kebanyakan orang beranggapan wanita hamil harus makan dengan banyak dan porsi dua kali lipat itu semua salah. Berikan nutrisi atau makanan yang berkualitas. Untungnya Ayunda saat ini kondisinya cukup stabil dan normal, nanti aku jelaskan Kak kalau kalian periksa," jelas Gemal.
"Jadi istri dan anak Kakak nggak akan apa-apa kan, Gem?" tanya Guna.
"Insyallah Kak nggak kenapa-napa, asal kita pantau terus perkembangannya!" ucap Gemal membuat Guna menghembuskan napas leganya.
"Jangan panik gitu dong Gun, sebaiknya kamu harus mulai memperhatikan dan menjaga kelemahan kamu itu Gun, berlaku juga untuk kalian beruda. Dunia bisnis ini tak seindah yang kalian bayangakan!" ucap Brian mencoba mengingatkan Guna dan juga yang lainnya. Bahwa apa yang ia alami dulu semuanya hanya karena uang dan kekuasaan. "Saya hanya tidak ingin kalian lengah, coba waktu itu yang menculik istri kalian bukan saya, bagiamana?" tanya Brian.
Raka, Guna dan Gemal setuju dengan ucapan Brian. Keselamatan keluarga mereka yang paling utama saat ini. Bisnis kadang kala tidaklah semulus dan selurus yang mereka pikirkan. Banyak intrik yang terjadi karena persaingan bisnis. Seperti Brian yang kehilangan keluarganya.
"Tentu saja Brian, kalau itu tidak perlu kamu ingatkan lagi karena kita semua sudah memiliki orang-orang yang berkeja untuk menjaga keselamatan keluarga kita," jelas Raka karena kejadian itu ia menambah orang-orang yang bekerja untuk menjaga keselamatan keluarganya.
Mereka semua saat ini makan bersama-sama sambil bercerita tentang bisnis baru yang digeluti Brian. "Kalau kita langsung pulang kayaknya kurang seru. Kita kumpul sesekali seperti ini dan gimana kalau kita bertanding!" ucap Gemal.
__ADS_1
"Bertanding apa?" tanya Raka mengerutkan dahinya menatap Gemal yang saat ini tersenyum.
"Kalau bermain bola atau perlombahan yang mudah itu tidak menarik," ucap Brian membuat Adil menelan ludahnya jangan sampai bosnya ini mengusulkan permainan berbahaya yang sering ia lakukan.
"Tinju atau menembak bagaimana?" tanya Gemal membuat Adil melototkan matanya dan Brian tersenyum solah setuju dengan pertandingan yang diusulkan Gemal, sedangkan Guna dan Raka menganggukkan kepalanya karena juga menyetujui usulan Gemal.
"Maaf tuan-tuan, kenapa tidak memainkan permainan yang normal saja!" ucap Adil membuat Brian tertawa terbahak-bahak.
"Adil, kita ini keluarga. Aku tidak mungkin membuat aturan yang akan membuat istri mereka menangis!" ucap Brian sombong jika ia akan memenangkan pertandingan.
"Menembak lebih menarik saat ini!" ucap Raka membuat Brian menaikan sudut bibirnya sedangkan Gemal dan Guna tersenyum penuh arti.
"Pak Brian setelah ini kita ada jadwal penerbangan ke Singapura," ucap Adil.
Kesempatan untuk bertanding diarena menembak pun terjadi. Saat ini mereka telah sampai ditempat pelatihan menembak yang cukup terkenal didaerah ini. Tidak semua orang diizinkan masuk dan berlatih disini jika tidak memenuhi syarat. Raka, Gemal, Brian dan Guna tampak antusias dengan pertandingan ini. Untung saja Brian tidak memperlihatkan kekejamanya kepada para saudaranya karena mereka menembak dengan media sasaran berupa sasaran kayu atau orang-orangan. Tempat yang digunakan adalah tempat untuk berlatih menembak bukan ruang tempat Brian menyiksa orang-orang yang tidak patuh padanya.
"Ini tempak menembak milikmu?" tanya Brian kepada Gemal.
"Aku hanya berinvestasi disini. Ada sekitar empat puluh persen saham yang aku miliki di tempat pelatihan ini" jelas Gemal. "Kak Guna dan Om Raka mereka sangat jago dalam hal menembak," ucap Gemal.
"Tentu saja apalagi Guna, dalam dua tahun lebih tembakkannya bisa menghasilkan dua anak" ucap Brian membuat Raka dan Gemal terbatuk dan kemudian tertawa sedangkan Guna menatap Brian dengan tajam.
__ADS_1
"Udah... kalian berdua saingan dalam hal bisnis sekarang tunjukan kehebatan kalian berdua dalam kemampuan menembak!" ucap Gemal membuat Guna menganggukkan kepalanya dan dengan isyarat tangannya ia ingin menargetkan Brian.
Berhadapan dengan seorang Brian, benar-benar menguras hati. Siapapun yang mendengar ucapan Brian dan diremehkan oleh Brian pasti ingin selali membuat Brian terlihat ketakutan atau menangis. "Kau akan menerima kekalahanmu Bri!" ucap Guna. "Siapkan hatimu untuk menerima kekalahan!" ucap Guna
"Ouh... takut," ejek Brian.
"Ayo kita mulai!" ucap Gemal.
Guna dan Brian memakai alat pelengkapan menembak termasuk peredam suara ditelingannya dan juga kaca mata. Mereka bersiap di arena masing-masing dan keduanya fokus menatap lingkaran yang menjadi sasaran mereka. Sasaran mereka akan segera berubah-ubah bahkan bergerak dengan cepat.
"Skor akan dihitung setelah pertandingan selesai selama sepuluh menit. "Kita mulai sekarang!" ucap Brian. Ia meminta juri yang juga pelatih menembak yang bekerja disini untuk mengawal pertandingan.
Sasaran demi sasaran berhasil mereka tembak dan juri terlihat kagum dengan keduanya. Brian tersenyum sinis kearah Guna saat jedah pertandingan dan menunggu sasaran kembali muncul. Sasaran kembali muncul dan keduanya menggerakan pistolnya dan cepat dan Brian memang telihat unggul saat menggerakan senjatanya. Pertandingan selesai dan keduanya saling menatap dan kemudian tersenyum.
Gemal mendekati juri dan ia melihat penilaian yang dilakukan juri. Gemal tersenyum dan membawa kertas itu lalu memperlihatkannya kepada mereka semua. "Selamat kak kau menang!" ucap Gemal.
Guna tersenyum sinis "Dia hanya mengalah kepadaku!" ucap Guna menunjuk Brian dengan kesal.
"Aku hanya ingin memberikan hadia kemenangan untukmu!" ucap Brian membuat Raka menarik kedua tangan mereka agar berjabatan.
"Kalian berdua hebat" puji Raka.
__ADS_1
tbc...