CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Curhatan Felisa


__ADS_3

Mendengar kelahiran keponakannya membuat Adinda sangat bahagia. Saat ini ia sedang sibuk mengasuh Ghavin dan Rayhan. Adinda memang dibantu pengasuh tapi ia tidak lepas tangan untuk menjaga keponakannya dan buah hatinya itu. Saat ini Adinda sedang bersantai dikamar bersama Felisa karena Ghavin dan Rayhan telah tertidur pulas.


"Bun, kita nggak ke rumah sakit melihat Mama Ayu?" tanya Felisa.


"Besok, soalnya Mama sibuk jagain kalian," ucap Adinda mencium pipi Felisa.


"Bunda kapan lahiran lagi kayak Mama Ayu? perut Bunda gede lagi isinya adik cowok aja tapi Bun!" ucap Felisa membuat Adinda tersenyum.


"Kalau Adik perempuan kenapa nak?" tanya Adinda.


"Nggak mau nanti Bunda sayangnya sama adek baru soalnya adek baru pasti lebih cantik dari Feli. Nanti Bunda balikin Feli ke Panti," ucap Felisa membuat Adinda melototkan matanya.


"Loh kok Feli ngomong gitu nak, Feli dengar dari siapa?" tanya Adinda sendu. Ia kemudian berlutut menyamakan tingginya dan memeluk Felisa dengan erat lalau menudukan Felisa di atas ranjang agar duduk bersamanya.


"Maminya Nisa Bun," ucap Felisa membuat Adinda memejamkan matanya dan mengelus kepala Felisa.


Adinda menghela napasnya, pernikahannya dan Raka memang telah terekspos. Orang-orang yang mengenal keluarga Candrama, pasti banyak yang mengetahui jika Felisa adalah anak adopsi. Rasanya ingin sekali ia marah kepada Maminya Nisa yang telah membuat putrinya itu sedih dan berpikir seperti itu. "Feli, walaupun nanti Bunda melahirkan adek perempuan Feli tetap akan jadi anak Bunda dan Ayah. Feli kan anak sulung Bunda," ucap Adinda.


"Bunda janji ya Bun, Feli tetap jadi anak Bunda!" pinta Felisa membuat Adinda tersenyum.


"Janji," ucap Adinda. Ia bisa melihat betapa putrinya itu terlihat ketakutan jika kehilangan kasih sayangnya dan dikembalikan ke Panti.


"Feli takut Nda, Feli maunya tinggal sama Ayah, sama Bunda dan sama Adek Reyhan" ucap Felisa.


"Iya Feli akan selalu tinggal sama Bunda!" ucap Adinda.


"Bunda, katanya kalau Feli nggak lahir dari perut Bunda. Bunda nggak akan sayang sama Feli lagi," ucap Felisa.

__ADS_1


"Kata siapa?" tanya Adinda.


"Kata Maminya Nisa," jelas Felisa membuat Adinda benar-benar murka.


"Besok Bunda yang jemput Feli ke Sekolah, Bunda mau kenalan sama Maminya Nisa!" ucap Adinda.


"Maminya Nisa galak Bun, Bunda nanti nangis. Soalnya kemarin Mamanya Danis dimarahin sama Maminya Nisa karena Nisa nangis jatuh dan Nisa bilang sama Maminya kalau Danis yang salah. Jadi Mamanya Danis dimarahin!" ucap Felisa.


Pintu terbuka dan sosok Raka melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar. Ia membaringkan tubuhnya di ranjang. "Ayah pulang ye..." ucap Felisa ikut berbaring diranjang dan berguling disebelah Raka.


Felisa mencium pipi Raka, "Feli sayang Ayah," ucap Felisa.


"Bunda nggak cium Ayah?" goda Raka membuat Adinda terkekeh karena suaminya ini sengaja mengambil kesempatan.


"Iya Bun cium Ayah. Kalau khusus Bunda kalau cium Aya ciumnya dibibir!" ucap Felisa.


Raka tersenyum "Gini loh Bun, Feli kan bilang Ayah makan bibir Bunda makanya Ayah bilang kalau Ayah itu lagi cium bibir Bunda. Kalau Ayah makan bibir Bunda, Bibir Bunda pasti hilang," ucap Raka.


"Ih serem ya Bun, kalau bibir Bunda hilang" ucap Felisa membuat Raka terkikik geli.


"Hehehe... makanya Ayah bilang sama Feli. Kalau Ayah sama Bunda sudah menikah jadi boleh cium bibir," ucap Raka membuat Adinda melototkan matanya.


"Feli ambilin Ayah kue buatan kita tadi ya nak. Minta bibi Ija potongin kue buat Ayah!" pinta Adinda.


"Siap Bunda!" ucap Felisa segera bangun dan melangkahkan kakinya menuju dapur.


Saat ini Adinda menatap suaminya itu dengan kesal. "Kok bilang gitu sama Felisa Kak?" ucap Adinda.

__ADS_1


"Kalau kita kepergok lagi kan nggak masalah Din, tinggal bilang itu ciuman kasih sayang khusus dari Ayah untuk Bunda," ucap Raka menggaruk kepalanya.


"Jawaban macam apa itu Pak Dosen?" kesal Adinda. Ia memukul lengan Raka karena kesal. Raka terkekeh melihat kekesalan istrinya, ia kemudian menarik Adinda agar berbaring bersamanya lalu memeluk Adinda dengan erat.


"Capek ya Kak?" tanya Adinda mengelus pipi Raka dengan lembut. Rasa kesalnya pasti akan segera hilang jika Raka memeluknya seperti ini.


"Nggak, kalau lihat kamu pakai daster gini capeknya hilang," ucap Raka dan itu terlihat jujur saat Adinda menatap mata Raka yang menatapnya dengan dalam.


"Biasanya suami itu nggak suka lihat istrinya pakek daster dan jelek gini," ucap Adinda karena ia tidak memakai makeup apapun diwajahnya saat ini dan ia hanya memakai daster batik jika dirumah.


"Nggak, Kakak lebih suka lihat kamu di Rumah dan menjaga anak-anak. Ketika pulang Kakak melihat kalian Kakak akan merasa sangat puas dan bahagia karena pulang bisa melihat istri dan anak-anak Kakak. Kamu pakek daster kayak gini tambah seksi," ucap Raka.


"Dinda jelek Kak dan bau keringatan soalnya tadi main sama Ghavin dan Felisa. Seksi? mana ada?" ucap Adinda.


"Kan Kakak yang buat kamu kayak gini. Bikin perut kamu gendut karena lahiran anak kita dan Kamu nggak dandan juga karena jagain anak-anaknya kita," ucap Raka.


"Iya ya Kak, kalau dinda pakai maskara pakai eyeliner kalau keringatan ngejar anak malah nanti mereka nangis lihat Bundanya kayak hantu karena eyeliner Bundanya luntur hehehe..." kekeh Adinda.


"Tumben istri Raka pinter," ucap Raka mengacak rambut Adinda karena gemas.


"Pinter itu dari dulu suamiku. Hmm... tapi kalau ke Kantor Dinda harus kelihatan wah gitu. Mas istrinya Pak Raka dekil bisa-bisa Pak Raka direbut sama cewek lain!" ucap Adinda.


Raka menyentil dahi Adinda "Kamu itu kebanyakan nonton makanya begini, nanti Kakak mau protes dan minta film itu sekali-kali menceritakan Laki-laki yang tersakiti bukan hanya perempuan yang tersakiti," ucap Raka membuat Adinda tertawa.


"Hahaha... Kakak sekarang jadi cerewet banget!" ucap Adinda mencubit pipi Raka membuat Raka menggelitik tubuh Adinda.


Felisa masuk dan meletakan piring plastik yang ia bawa keatas meja dengan hati-hati. Ia kemudian segera naik keatas ranjang dan bergabung bersama Adinda dan Raka. Felisa membantu Adinda menggelitik Raka.

__ADS_1


"Curang aduh Ayah kalah," ucap Raka sambil menahan tawanya karena Adinda dan Felisa mengetahui titik lemahnya yang merasa sangat geli jika disentuh bagian lehernya.


__ADS_2