
Suster membawa bayi Rayhan masuk kedalam ruangan tempat Adinda dirawat. Bayi kecil itu menangis dan suster membaringkan Rayhan disebelah Adinda. Ratna membuka kacing baju Adinda dan untuk pertama kalinya Adinda menyusui Rayhan. Raka memajukan kursinya agar bisa lebih dekat dengan Adina dan Rayhan. Raka terlihat takjub melihat Rayhan yang saat ini meminum susu ibunya dengan lahap. Bayi itu adalah buah hatinya bersama Adinda membuat Raka terpesona dengan sosok mungil yang menggemaskan itu.
"Kenapa Kak kok ngeliatin Rayhan kayak gitu?" goda Adinda. Ia tahu jika suaminya saat ini terlihat begitu takjub dengan bayi mereka.
"Nggak nyangka aja Din, dia kok bisa mirip banget sama Kakak, kamu nggak kebagian sedikitpun wajahnya," ucap Raka.
"Dinda kan pengennya gitu Kak, wajahnya tampan kayak Kakak," ucap Adinda.
"Dia haus banget ya Din," ucap Raka membuat Adinda tersenyum karena Raka terlihat ingin memegang Rayhan namun Raka menghentikan gerakannya. Tadi saat menggendong Rayhan dan mengazaninya, suara Raka tampak bergetar.
"Felisa mana Kak?" tanya Adinda.
"Di Rumah, nanti Mama bawa kemari!" ucap Ratna.
"Dia pasti senang banget adeknya udah lahir," ucap Adinda.
"Tadi Felisa telepon Kakak sambil nangis dan minta dijemput," jelas Raka.
__ADS_1
"Nanti bawa Feli nginap disini saja Kak!" ucap Adinda.
"Feli sama Mbak aja ya Din, kamu fokus sama pemulihan kamu. Lagian ada Vian dirumah bisa jagain Feli," ucap Elin.
"Iya Mbak," ucap Adinda karena mungkin Felisa memang lebih baik berada di Rumah dari pada ikut menginap di Rumah Sakit.
Rayhan tampak menggeliat dan kembali terlelap, Adinda tersenyum. "Udah kenyang anaknya Bunda," ucap Adinda sambil menutup kancing baju atasanya.
Guna dan Ayunda masuk kedalam sambil mendorong kursi roda Farhan. Farhan mendekati cucu bungsunya itu dan ia tersenyum karena wajah tampannya yang ternyata ikut diwariskan kepada Rayhan.
"Iya, mirip Raka saat masih bayi. Terimakasi ya Din!" ucap Farhan menatap Adinda dengan mata yang berkaca-kaca.
"Papi kenapa berterimakasih sama Dinda?" tanya Adinda.
Farhan menghela napasnya dan menatap Adinda dengan tatapan sayang "Terimakasih karena telah melahirkan cucu bungsu Papi dan menjadi istri Raka. Mungkin Raka kurang peka dan terlihat cuek karena andil Papi yang dulu juga bersikap begitu padanya. Papi mendidiknya terlalu keras dan dia itu keras kepala, tapi kamu itu yang bisa meluluhkan dia nak. Papi bahagia masih bisa melihat kebahagian Raka bersama kamu," ucap Farhan.
"Papi, Dinda yang harusnya berterimakasih sama Papi. Kalau Papi tidak nikah lagi dulu sama Mami Eli, Papi nggak bakal punya anak setampan ini" ucap Adinda mengundang tawa mereka semua. "Suami Dinda ternyata dosen galak Dinda dan CEO juga yang hebat. Mbak Ayu ingat nggak? Dinda pernah bilang pengen punya suami CEO kaya Raya dan akhirnya kesampaian deh, hehehe... " kekeh Adinda.
__ADS_1
"Iya Din gara-gara pengen ponsel baru kamu terima tawaran Mas Guna," ucap Ayunda.
"Iya Mbak sampai-sampai Dinda harus sabar banget ngadepin cowok tampan yang galak ini," tunjuk Adinda kepada Raka.
Raka hanya tersenyum menanggapi ucapan istrinya, ia memang galak dan suka semena-mena dan juga sombong. Tapi sosok Adinda yang lucu dan menggemaskan membuatnya tergoda ingin memiliki Adinda. Wanita cantik yang saat ini akhirnya menjadi istrinya dan juga ibu dari kedua anaknya.
"Ayu nggak kapok melahirkan?" tanya Ayunda.
"Nggak, rencananya mau satu lagi Mbak hehehe... Sakit sih tapi setelah melahirkan, Dinda bangga banget mbak," ucap Adinda menatap wajah Rayhan.
"Kamu nggak merasa ada tanda-tanda mau melahirkan ya Din? cepat banget langsung brojol gitu. Untung saja nggak lahir di mobil," ucap Ayunda.
"Dinda udah merasa mau lahiran Mbak dari kemarin. Dinda kayak mules gitu terus ada flek. Kata Gemal Dinda harus banyak gerak makanya Dinda banyakin jalan eh...diikutin terus sama Kak Raka," jelas Adinda membuat semuanya tertawa. "Rayhan kalau gede nanti jangan kayak Papa ya nak, galak banget kalau marah!" ucap Adinda.
"Kalau nggak galak bukan marah namanya Dinda," protes Raka membuat mereka semua tertawa.
"Hahahaha..."
__ADS_1