CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Kediaman Candrama


__ADS_3

S**elamat membaca**...


Hari ini semua keluarga berkumpul dikediaman utama yaitu kediaman Candrama. Rumah mewah ini sangat besar dan luas. Farhan memiliki dua puluh lima karyawan yang bekerja didalam rumahnya. Bangunan rumah ini pun bergaya Eropa ditengah-tengah rumah yang memiliki lantai tiga dan dua disekelilingnya terdapat kolam remang yang sangat inidah. Rumah yang dulunya akan diwariskan Farhan kepada putra sulungnya, namun ditolak karena putrannya tidak ingin menjadi pewaris keluarga dan memilih menjadi dokter. Sejak itu Rumah ini disudah diatas namakan menjadi Rumah Raka Candrama putra bungsu Farhan Candrama.


Baru pertama kali Ayunda menginjakan kakinya ke rumah ini. Sungguh keluarga suaminya ini sangat kaya raya. Ayunda takjub dengan luasnya rumah ini yang seperti Hotel. Baginya rumah ini tidak cocok untuk dijadikan rumah pribadi tapi sebuah hotel berbintang.


"Ayo kita temui kakek didalam!" ucap Guna.


"Mas... rumah kakek bagus banget tapi Ayu susah Mas kalau ngebersihin rumah segede ini," ucap Ayunda. Jujur ia memimpikan rumah sederhana dan bukan rumah mewah seperti negeri dongeng ini.


"Rumah ini akan jadi milik Om Raka nantinya. Papi yang minta kepada Kakek karena Papi tidak bisa mengurus rumah ini nantinya. Setelah pensiun Papi mau pindah ke daerah yang sejuk di pedesaan," jelas Guna.


"Kita juga Mas kalau punya rumah nanti jangan segede ini!" ucap Ayunda.

__ADS_1


"Oke," Guna mengelus kepala istrinya itu dengan lembut.


"Kenapa kakek meminta kita kemari Mas?" tanya Ayunda penasaran.


"Ada yang ingin dia bicarakan, semua keluarga juga akan menginap disini!" ucap Guna. Ayunda terkejut saat melihat makhluk genit yang sayangnya makhluk genit yang cantik itu adalah adik kandungnya. Sejak kapan Adik kandungnya ini dekat dengan Farhan Candrama. Apalagi Adinda membawa koper bewarna pink itu disampingnya.


"Mbak... " teriak Adinda hebo. Ayunda menghela napasnya melihat penampilan adiknya itu yang terlihat seperti turis kesasar dengan pakaian ala pantai dan topi besarnya.


"Kamu kenapa ke sini?" tanya Ayunda.


"Dinda... " panggil Ayunda.


"Mbak nggak boleh pelit ya... mentang-mentang dapat suami kaya dan Kakek mertua kaya adik sendiri dilupakan. Kalau kakek nggak ngajakin Dinda kemari, Mbak mana ada inisiatif ngajakin Dinda," ucap Dinda.

__ADS_1


"Kek, maafin kelakuan Dinda ya Kek!" ucap Ayunda menatap Farhan dengan tatapan tidak enak karena sikap adiknya itu.


"Nggak apa-apa, ini hadia dari Kakek karena katanya Raka akan menemui Kakek hari ini," ucap Farhan membuat Adinda menatap Ayunda dengan tatapan penuh kemenangan.


"Guna ajak istri kamu ke kamarmu, kasihan dia pasti lelah!" ucap Farhan.


"Kakek... ayo kek sini!" ajak Adinda mengajak Farhan menuju dapur.


"Kakek kesana dulu ya!" ucap Farhan tersenyum senang dan ia melangkahkan kakinya mendekati Adinda.


Farhan tidak memiliki anak perempuan dan ia hanya memiliki cucu angkat perempuan yang sangat manjanya, berbeda dengan Adinda yang terlihat sangat ceria yang tidak akan malu menceritakan apapun padanya. Ayunda tidak tahu sejak kapan Adinda dekat dengan Farhan. Adiknya itu memang suka sekali berbicara dan terkadang membuat orang kesal karena sikapnya tapi sebenarnya dia adalah pribadi yang sangat baik.


Guna membawa Ayunda menuju kamarnya dilantai atas. "Dulu setiap hari liburan kita semua mengujungi Kakek. Aku dan Gemal memang punya kamar pribadi disini," jelas Guna. Ayunda memperhatikan semua foto-foto yang ada disepanjang koridor rumah ini.

__ADS_1


"Kalau di bagian rumah yang disebelah sana apa Mas?" tanya Ayunda menujuk bagian rumah sebelah kiri.


"Disana ada fasilitas olahraga dan juga musium tempat benda-benda koleksi Kakek dan mendiang nenek," jelas Guna.


__ADS_2