CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Malu


__ADS_3

Adinda segera mandi dan setelah itu ia mengganti pakaiannya. ia mengendap-endapkan langkahnya dan membuka pintu yang terhubung dengan kolam renang. Adinda menatap kamar yang ada disebelahnya yang merupakan kamar Raka. Adinda baru menyadari ternyata kolam renang ini bukan hanya kolam pribadi khusus kamarnya, tapi juga kamar Raka. Adinda memegang tengkuknya karena malu dengan tingkah noraknya tadi. Jika saja ia tahu Raka bisa melihat dirinya dari dalam kamarnya, ia tidak akan bertingkah seperti tadi bernyayi sambil menari hingga membuatnya terjatuh. Apalagi yang paling memalukan adalah ia hampir mati tenggelam.


Astaga gue malu banget....


Adinda terkejut saat pintu kamar Raka terbuka dan terlihat Raka melangkahkan kakinya mendekati kursi santai, lalu duduk dikursi santai itu sambil membaca bukunya dengan serius. Adinda kembali menyembulkan kepalanya dan mengintip namun sepertinya Raka menyadari jika ia saat ini seorang wanita diam-diam sedang melihatnya dari dalam kamarnya.


"Kenapa? nggak usah sembunyi?" teriak Raka membuat Adinda keluar dari persembunyiannya. Adinda melangkahkan kakinya dengan ragu namun ia akhirnya memilih mendekati Raka.


"Om seperinya lagi sibuk ya?" tanya Adinda.


"Kalau saya sedang membaca buku apa saya terlihat sibuk?" tanya Raka membuat Adinda mendesis tidak suka mendengar ucapan Raka.


Rencananya mau dibaikin, tapi kayaknya kok gue nggak rela ya, baikin dia.


"Om nanti pergi kan ke acara makan malam bersama di Restauran?" tanya Adinda.


"Kamu pikir saya tidak mau datang ke acara ulang tahun keponakan saya?" ucap Raka ketus.


Astaga gue kan basa-basi mau nanya sama dia. kok ketus banget ya nggak ada manis-manisnya.


"Ya Om, Dinda kan nanya Om nggak usah ngegas gitu Om!" ucap Dinda. "Om itu harus sabar Om. gimana kalau lagi bulan puasa, kan puasa om batal deh karena marah-marah terus!" ucap Adinda.


Raka menutup bukunya dan menatap Adinda dengat tatapan tajamnya yang membuat wajah Adinda memerah. Adinda menepuk kedua pipinya karena lagi-lagi ia merasa ada sesuatu yang menggila di hatinya hingga ia menganggap tatapan Raka itu tatapan yang terlihat menggemaskan.


Ternyata kalau di lihat-lihat Om Raka ini tampan banget ya, gue jadi pengen cubit pipinya. Astagfirullah.... ini pasti karena dia nolongin gue tadi, gue kayaknya kena penyakit bucin. Nggak boleh, ini nggak boleh terjadi. Raka adalah Om lo Dinda ingat itu jangan menuruti jebakan Kakek.


"Yaudah deh kalau Om galaknya level tiga belas kayak gini mending kita jaga jarak ya Om! satu atau dua meter gitu biar pedesnya nggak nyampe ke Dinda. kan gawat kalau Dinda jadi mudah marah, mudah tersinggung, sombong. Terus jodoh Dinda bakalan menjauh kayak Om yang sekarang masih jomblo. Makanya Om, Om harus menjadi sedikit lebih baik Om. Om harus berubah Om, penjahat aja bisa tobat Om kalau masuk penjara, masa Om enggak sih!" ucap Adinda membuat Raka melototkan matanya.

__ADS_1


"Berisik, pergi sana!" usir Raka membuat Adinda tersenyum senang karena berhasil membuat Raka marah.


Gue jahil banget ya, suka banget buat si Om hot level tiga belas marah hahaha....


Dinda masuk kedalam kamarnya dan segera mengambil gaunnya untuk acara pesta malam nanti. ia ingin mengajak Vivian pergi jalan bersamanya tapi apa daya suami Vivian Gemal pasti akan memarahi Vivian. Adinda tidak habis pikir kenapa Gemal begitu keras kepada Vivian, jika ia menjadi Vivian mungkin ia akan segera pergi meninggalkan Gemal.


Adinda membawa perlatan makeup dan gaunnya menuju kamar sahabat Ayunda yaitu Meta dan Ajeng. ia butuh sentuhan cantik tangan mereka agar memukau para laki-laki jomblo yang akan datang ke pesta itu. Adinda tersenyum saat Riskan mendekatinya.


"Mau kemana Dinda?" tanya Riskan.


"Mau ke tempat Mbak Meta sama Mbak Ajeng. Kakak mau kemana?" tanya Adinda.


"Cari angin tadi, ayo Kakak bantu bawain!" ucap Riskan menujuk barang bawaan Adinda.


"Wah oke kalau gitu kak, tolong ya Kak!" ucap Adinda membuat Riskan tersenyum. Mereka berjalan beriringan. Riskan terlihat sangat menyukai Adinda namun Adinda tidak menyadari tatapan kekaguman Riskan sejak tadi.


"Dulu Dinda kerja di Bank Kak, sekarang Dinda lagi lanjut kuliah lagi" jelas Dinda. "Kalau Kakak kerja dimana?" tanya Dinda.


"Kakak polisi sama kayak kakaknya Dinda. kami satu anggkatan dulu" jelas Riskan.


"Kak, Kalau Kak Alfa pacarnya siapa sih?" tanya Adinda.


"Dokter gitu lupa namanya. Ada fotonya di dompet Alfa" ucap Riskan.


"Soalnya Mama rencananya mau jodohin dia tapi dia bilang punya calonnya sendiri. Mama kasihan kalau dilangkahin Dinda" ucap Adinda.


"Memang Dinda sudah punya calon?" tanya Riskan.

__ADS_1


"Calon? Dinda nggak ikutan calon DPR Kak" canda Adinda.


"Kakak nanya serius Dinda jangan ajak becanda dong!" ucap Riskan.


"Ada tapi baru putus hehehe" jelas Adinda mengingat sosok Rifki. Saat ini Adinda sedang mempertimbangkan permintaan Rifki yang ingin kembali padanya.


"Kalau Kakak deketin kamu ada kesempatan nggak?" tanya Riskan membuat Adinda membulatkan matanya.


"Nah ini kamarnya, makasi ya Kak!" ucap Dinda segera mengetuk pintu kamar Ajeng dan Meta.


Ajeng membuka pintu dan terkejut saat melihat Adinda dengan cepat masuk kedalam kamar mereka dan ia kembali menyembulkan kepalanya lalu tersenyum ketika melihat Riskan telah melangkahkan kakinya menjauh.


"Lo kenapa dek?" tanya Meta.


"Gila nggak si Mbak, temannya Kak Alfa kayaknya mau deketin Dinda" ucap Adinda.


"Kasih kesempatan dong!" ucap Meta.


"Ogah Mbak, baru patah hati masa langsung pacaran lagi!" ucap Dinda membuat Ajeng dan Meta tersenyum.


"Itu Ayunda nggak pacaran langsung nikah karena mabuk hahaha... " ucap Ajeng mengingat masalalu Ayunda dan Guna.


"Adinda kan beda Mbak maunya cari-cari dulu yang pas buat kebutuhan hati mbak!" ucap Adinda membuat Meta dan Ajeng tertawa.


tbc...


**jangan lupa baca cerita tentang Kak Alfa ya judulnya : Karina dan Alfa

__ADS_1


novelku yang lain judulnya : Mr dingin vs Mrs Ceriwis**


__ADS_2