
Raka ternyata sangat marah pada Adinda karena Adinda tidak menceritakan padanya jika Adinda mengenal Indra. Apalagi Indra ternyata pernah menyukai Adinda, tentu saja Raka sangat kesal karena jika ia tahu, ia pasti akan membuat Indra babak belur saat itu. Setelah menyusui Rayhan dan menidurkan Felisa. Adinda segera menemui Raka didalam kamar mereka.
Raka sengaja mengacuhkan Adinda membuat Adinda tersenyum. Adinda duduk disebelah Raka dan memeluk lengan Raka namun Raka tidak bereaksi seperti biasanya. Raka biasanya akan mengelus kepalanya dengan lembut. "Kakak marah?" tanya Adinda. Raka melirik Adinda sesaat dan ia kembali fokus pada ipadnya.
"Kak..." panggil Adinda. "Dinda bisa jelasin kenapa Dinda nggak cerita sama Kakak!" ucap Adinda.
Raka mengangkat wajahnya dan menatap wajah cantik Adinda. Ia mengamati wajah Adinda yang memang semenjak melahirkan Rayhan, Adinda bertambah cantik dan seksi. Namun Raka tidak bisa begitu saja luluh karena istrinya ini merahasikan tentang Indra padanya. Karena rasa cemburunya dengan sosok Rifki yang pernah menjadi pahlawan bagi Adinda, membuat Raka benar-benar kesal.
"Kakak jangan marah dulu!" pinta Adinda dan ia mengambil ipad Raka dan kemudian segera melangkahkan kakinya menuju bufet untuk meletakan ipad Raka disana. Adinda kembali naik keatas ranjang sambil tersenyum manis pada Raka.
Adinda mengingat nasehat Mamanya jika Papanya sedang kesal pada Mamanya, Mamanya akan memberikan pelayanan ekstra kepada Papanya dengan memijat bahu Papanya. Adinda menarik Raka agar tidak bersandar pada kepala ranjang dan ia segera memijid bahu Raka sambil tersenyum. Raka mengerutkan dahinya dan ia membiarkan saja, Adinda memijit bahunya.
"Enak nggak pijitan Dinda?" tanya Adinda yang mencoba metode Mamanya untuk meluluhkan hati Papanya.
"Dari angka satu sampai sepuluh nilainya lima," ucap Raka akhirnya membuka suaranya membuat Adinda kesal dan ia memijit Raka dengan kencang.
__ADS_1
Mulai nyebelin ini Om-om...
"Kamu pasti sedang membicarakan Kakak kan Dinda? kamu ngaku!" ucap Raka yang bisa menebak jika saat ini Adinda sendang mengumpatnya dalam hati.
"Kakak ini kebiasaan berprasangka buruk terus sama Dinda," ucap Adinda.
Hehehe... pada hal emang iya, sayangku...
"Kamu kenapa baik gini sama Kakak Dinda?" tanya Raka penasaran kenapa Dinda memijitnya dan Raka akhirnya mengerti jika Adinda saat ini mencoba merayunya agar ia berbicara padanya.
"Dinda kan nggak suka di diemin," ucap Dinda menyebikkan bibirnya. "Kakak jangan marah sama Dinda, Dinda nggak suka kalau marahan ambekan terus nggak mau negur Dinda berhari-hari. Dinda jadi kesal dan akhirnya Dinda minggat dari rumah, terus datang orang ketiga di dalam rumah tangga kita karena Kakak kesepian. Lalu jadilah kisah kita kayak cerita ku menangis yang di Tv Kak," ucap Adinda panjang lebar.
"Kamu mau masalah ini segera selesai?" tanya Raka.
"Iya, nggak ada drama panjang dalam keributan di rumah tangga kita. Kalau ngambek cukup tiga jam aja!" ucap Adinda.
__ADS_1
"Kamu kira Kakak sedang ngambek?" tanya Raka lagi, membuat Adinda kesal.
"Kakak gimana sih, dari tadi Kakak diamin Dinda Kakak kenapa? nggak ngambek? Kakak sedang sakit ya?" kesal Adinda membuat Raka menatap Adinda dengan senyum yang Adinda tahu senyum Raka yang memiliki maksud dan tujuan yang sangat Adinda kenal.
"Iya Sakit," ucap Raka.
"Sakit apa?" tanya Dinda menatap Raka dengan tatapan menyelidik.
"Sakit yang butuh pertanggung jawaban kamu!" ucap Raka membuat Adinda menelan ludahnya saat menatap Raka yang saat ini menatapnya dengan tatapan dalam yang penuh gairah.
"Dinda kamu harus dihukum!" ucap Raka yang kemudian berdiri dan mengunci pintu kamarnya. Raka mengedarkan pandangannya dan memeriksa disekitarnya.
"Feli sudah tidur," ucap Adinda.
Raka membuka bajunya membuat Adinda menghembuskan napasnya karena malam ini ia pasti akan kelelahan menghadapi hukuman dari suaminya. "Tadi kamu yang menidurkan anak-anak?" tanya Raka.
__ADS_1
"Iya," ucap Adinda.
"Jadi malam ini saya yang akan meniduri kamu Dinda!" ucap Raka sambil menyunggikan senyumannya.