
Adinda memikirkan ucapan Raka dan
ia akhirnya bisa mengerti, mungkin Raka belum percaya jika ia tidak akan berpaling dari Raka. Rasa saling percaya diantara keduanya memang belum ada atau bisa dibilang hubungan keduanya belum sampai tahap saling mengerti. Raka terlihat over proktetif padanya, membuat Adinda menganggap mungkin karena Raka terlalu mencintainya. Adinda mengalihkan pandangannya, agar Raka tidak melihat ekspresi wajahnya yang ingin tersenyum bahagia mendengar ucapan Raka.
Kayaknya Om Raka takut banget kehilangan gue. Tapi kalau dipikir gue nggak secantik si Mak Lampir, kok si Om bisa suka sama gue. Secara pisik dan materi gue kalah jauh dari si Luna.
"Ayo turun!" ucap Raka membuat Adinda memutar tubuhnya dan melihat Raka membuka pintu mobilnya.
Adinda keluar dari mobil dan Raka segera mengunci pintu mobilnya dengan menekan tombol kunci pada kunci mobilnya. Adinda melangkahkan kakinya bersama Raka masuk kedalam Alexsander mall. Keduanya berjalan beriringan, tiba-tiba Adinda merasakan kehangatan disela-sela jarinya yang kemudian melingkupi seluruh telapak tangannya. Tangan Raka yang saat ini memegang tangannya membuat wajah Adinda memerah.
Laki-laki tampan disampingnya ini mungkin memiliki kekurangan dibalik kesempurnaan yang terlihat dari wujud fisik dan otak cerdasnya. Sungguh Adinda merasa sangat beruntung menjadi orang yang istimewa bagi Raka. Apalagi statusnya saat ini adalah tunangan Raka.
"Mau langsung nonton atau minum dulu?" tanya Raka.
"Minum" ucap Adinda membuat Raka mengangkat sudut bibirnya karena Adinda telah memaafkannya. Ia mengelus rambut Adinda dan kemudian mengajak Adinda memasuki sebuah cefe yang menyajikan kenikmatan kopi dan minuman lainnya dengan cake serta roti-roti yang terlihat lezat.
Raka dan Adinda memilih duduk di sudut ruangan. Seorang pelayan mendekati mereka, ia memberikan menu yang berisi makanan dan minuman kepada Raka dan Adinda.
"Mau pesan apa?" tanya Raka. "Jangan terserah saya Dinda, saya nggak suka jawaban seperti itu!" ucap Raka sambil melipat kedua tangannya dan menatap datar kepada Dinda.
__ADS_1
"Ya ampun Om mesra dikit kenapa? dan nggak usah pakek ngacem segala. Sayang kamu mau pesan apa? gitu Om!" ucap Adinda membuat karyawan itu tersenyum melihat tingkah keduanya. "Saya pesan milkshake stawberry mbak sama cake red velvetnya satu, Donat coklatnya minta tiga ya mbak, Om mau pesan apa?" tanya Adinda membuat Karyawan itu tersenyum mendengar Adinda memanggip Raka Om padahal Raka masih terlihat muda dan tampan.
"Cappuccino" ucap Raka.
"Es krim satu ya mbak" ucap Adinda lagi.
"Perut kamu kayak gentong ya Din!" ucap Raka sambil memberikan menu kepada Karyawan cafe membuat karyawan itu menahan tawanya mendengar ucapan Raka.
"Baru tahu ya Om?" ucap Adinda kesal.
"Dinda, berhenti panggil saya Om. Kamu panggil saya Mas kayak Ayunda panggil Guna!" pinta Raka.
"Uhuk...".
"Nah keselek kan Om, Om nggak suka Dinda panggil begitu?" tanya Adinda.
"Panggilannya yang normal aja Dinda!" ucap Raka.
"Nggak bisa Om, Dinda nggak mau sama kayak Mbak Ayunda. Kita harus beda Om!" ucap Adinda terseyum penuh kemenangan saat Raka penasaran dengan kata apa yang telah dipersiapkan Adinda untuk memanggilnya.
__ADS_1
"Saya rasa Mas sudah yang paling bagus atau Abang juga boleh!" ucap Raka.
"No, Dinda mau panggilnya yang wah buat Om Raka yang paling tampan dan keren yang bakal jadi suami seorang Adinda" ucap Adinda membuat Raka menghela napasnya.
Karyawan cafe mengantarkan pesanan mereka dan meletakkannya diatas meja. "Silahkan dinikmati Mbak dan Mas!" ucapnya.
"Makasi Mbak" ucap Adinda.
"Om, bilang makasi juga dong, diam aja!" ejek Dinda.
"Jadi kamu mau panggil saya apa? Saya nggak mau kamu panggil saya Om terus Dinda!" ucap Raka.
Adinda tersenyum manis dan ia kemudian memikirkan satu panggilan lucu dan menggemaskan untuk Raka si dingin yang sialnya sangat tampan dan sempurna bagi para perempuan atau bahkan laki-laki yang memiliki orientasi jeruk makan jeruk yang mengagumi ketampanan Raka.
"Penasaran ya Om hehehe... ?" goda Adinda terkekeh. Ia kemudian meminum minumannya dan menujukkan senyum yang menampakan semua gigi putihnya kepada Raka. "Kakanda, Dinda bakal panggil Om Kakanda!" ucap Adinda membuat Raka terkejut dan menggelengkan kepalanya. "Om tinggal pilih Kakanda atau Om!" ucap Adinda tersenyum penuh kemenangan melihat ekspersi Raka yang kesal.
"Aduh Kakandaku jangan cemberut gitu dong!" goda Adinda sambil mengedipkan kedua mata genitnya.
tbc...
__ADS_1