CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Gemas


__ADS_3

Hari ini Adinda dan Rayhan akan segera pulang ke Kediaman mereka. Ratna memohon kepada Adinda agar tinggal bersamanya sampai umur Rayhan menginjak empat puluh hari dan akhirnya Adinda menyetujuinya. Apalagi saat ini rumah orang tuanya telah dibangun dengan megah dan sangat besar hingga bisa menampung semua keluarga besarnya. Para suster tersenyum melihat Raka yang menggendong Rayhan. Putra Adinda itu sangat tampan, hingga para dokter dan suster memanggilnya bayi tampan. Ratna mendorong kursi roda Adinda sedangkan Raka yang menggendong Rayhan dan ia berjalan dibelakang Adinda dan Ratna.


"Pokoknya kalian tinggal sama Mama sampai umur Rayhan empat puluh hari!" ucap Ratna sambil mendorong kursi roda Adinda.


"Iya Ma," ucap Adinda. Ia tidak ingin membuat Ratna kecewa.


Malam tadi Raka menyampaikan keinginan Ratna dan Bagas. Mertuanya itu memohon kepada Raka agar keluaga kecilnya itu tinggal bersama mereka sampai umur Rayhan empat puluh hari. Raka membujuk Adinda dan mengatakan kedua orang tuan Adinda pasti akan bersedih jika Adinda menolak permintaan mereka. Gemal dan Vivian untuk sementara tinggal di kediaman utama Candrma untuk menjaga Farhan.


"Kamu akan berdosa jika menyakiti hati Mama Din, lagian kalau kita tinggal disana ada Mama yang akan memperhatikan kamu, Felisa dan Rayhan jika Kakak kembali bekerja" ucap Raka.


"Sebagai orang tua Mama ingin kamu merasa jika kamu membutuhkan Mama. Mama ingin berada didekat kamu Din"

__ADS_1


Mendengar ucapan Raka membuat Adinda akhirnya mengerti dan akhirnya bersedia tinggal di Rumah orang tuanya untuk sementara. Mereka menuju parkiran mobil dan saat berada didepan pintu mobil Raka menyerahkan Rayhan kepada mertuanya. Tadi sebenarnya ia meminta mertuanya untuk menggendong Rayhan dan ia yang mendorong Adinda tapi, Ratna menolaknya. Adinda kesal karena sebenarnya ia masih bisa berjalan dan Raka tidak perlu menggendongnya untuk masuk kedalam mobil.


"Kak Dinda kan bisa jalan, nggak malu apa diliatin mertua?" bisik Adinda.


"Mama juga pernah muda kan Ma?" tanya Raka sambil menghidupkan mesin mobilnya.


"Nggak usah malu gitu Dinda, dulu Mama bahkan sangat manja sama Papa, kamu aja yang kurang manja sama Raka," ucap Ratna.


"Kakak cinta sama kamu setiap waktu Dinda," ucap Raka membuat Ratna tertawa.


"Hahaha... Raka kamu belajar gombal dari Papa ya?" tanya Ratna membuat Raka menyunggingkan senyumannya.

__ADS_1


"Iya Ma, kok Mama tahu?" tanya Raka.


"Hahaha... gombalan Papa itu Mama tahu semua, dulu Papa gitu sama Mama ngerayunya itu memang lebay tapi Mama suka. Sayangnya sifa Papa turunya hanya ke Dinda, kalau Alfa itu yang aneh sama sekali nggak mirop sifarnya sama Mama dan Papa. Alfa serius banget orangnya dan anak itu paling bisa diandalakan. Dewasa banget sejak kecil, walau kadang jahil juga sama adik-adiknya," ucap Ratna.


Adinda tersenyum mendengar ucapan Ratna. Rayhan yang berada dipelukan Ratna masih tertidur lelap, seolah tidak terganggu dengan tawa Ratna yang saat ini mengingat masalalu.


"Mama dulu kalau kecil yang Mama khawatirkan itu Ayu karena dia itu orangnya pengen diperhatiin terus. Kalau Mama cuekin dia, dia bisa nangis dan bikin kita semua kesal apalagi kalau Mama lebih perhatian ke Dinda. Makanya dulu Ayu sering pergi main ke rumah Elin," jelas Ratna mengingat masa lalu. "Kalian kan udah jadi orang tua nanti kalian pasti ngerti apa yang Mama maksud, apalagi kalau Rayhan udah punya adek nanti. Jika nanti Dinda perhatiannya ke adiknya Rayhan dan Raka harus bisa memberi perhatian lebih ke Rayhan biar nggak cemburuan," ucap Ratna.


"Hahaha iya Ma soalnya suami Dinda ini orangnya cemburuan banget Ma pasti anaknya nanti juga akan cemburuan. Dinda curiga nanti ya Ma, dia kesal karena Dinda lebih perhatian ke Rayhan," ucap Adinda mencoba menebak apa yang nanti akan terjadi.


"Kalau siang Dinda milik Rayhan Ma, kalau malam ya punyanya Raka," ucap Raka membuat Ratna tersenyum. Apalagi melihat Adinda mencubit pipi Raka karena gemas dan Raka membalasnya dengan cubitan yang sama.

__ADS_1


__ADS_2