CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Misi


__ADS_3

Tepat pukul tujuh pagi mereka semua berkumpul. Hari ini akan diadakan acara perjalanan kekompakan pasangan. Para panitia yang terdiri dari karyawan resort telah menyiapkan serangkaian jadwal yang akan diikuti peserta. Ayunda dan Guna hanya akan menjadi pengamat karena Guna yang khawatir dengan kondisi kehamilan istrinya, ia tidak ingin istrinya itu kelelahan jika harus mengikuti acara ini.


Ayunda dan Guna juga sudah menyiapkan cara agar undian Raka dan Adinda mendapatkan nomor yang sama hingga keduanya bisa menjadi pasangan. Tadinya Raka tidak ingin ikut, tapi karena Guna memohon dan membujuknya dengan berbagai alasan akhirnya Raka setuju menjadi peserta pada acara ini.


Saat pengambilan undian, semua nomor yang akan Adinnda ambil adalah nomor 3 seperti nomor milik Raka karena panitia yang diperintahkan Guna, telah mengganti semua nomor yang ada didalam tabung dengan nomor yang sama yang diambil Raka tadi ketika Adinda akan mengambil no undian.


Dengan demikian Raka dan Adinda menjadi pasangan pada acara ini. Alfa berpasangan dengan Tama, Riskan berpasangan dengan Ajeng, Tegar berpasangan dengan Meta. Karena Gemal dan Vivian adalah suami istri jadi keduanya tidak berhak mengambil undian karena telah otomasi menjadi peserta yang memiliki pasangan.


"Nggak bisa ditukar pasangannya? Dinda mau sama Kak Alfa aja!" ucap Adinda.


"Nggak bisa mbak sudah menjadi aturan acara ini kecuali mbak dan Pak Alfa itu suami istri!" ucap salah satu panitia penyelenggara.


Astaga Kakak gue itu woy...


"Kamu jangan banyak protes, kenapa kalau saya jadi pasangan kamu? harusnya kamu itu bersyukur dapat pasangan secerdas saya!" ucap Raka membuat Adinda memutar bola matanya.


"Aduh Om, Om itu kepedean banget. Kita bukan lagi ikut cerdas cermat Om, disini pasti yang dibutuhkan itu otot bukan hanya otak!" jelas Adinda.


"Kamu nggak percaya kalau saya punya otot? wah kamu mau meremehkan saya" ucap Raka membuat Guna tersenyum karena Raka sebelumnya adalah seseorang yang sangat pendiam dan tidak banyak omong apalagi peduli dengan pendapat orang lain tentang dirinya. Tapi karena Adinda, Raka seolah berubah menjadi sosok yang agak berbeda.


"Awas ya kalau kita kalah ya Om!" ancam Adinda.


"Kalau kita kalah itu semua karena kamu!" ucap Raka menatap Adinda dengan tatapan datar.


"Udah kalian pasti kalah sama kita!" ucap Gemal.


"Nggak" teriak Raka dan Adinda bersamaan membuat Gemal melototkan matanya karena terkejut.


"Busyet giliran teriak kalian kompak banget" goda Gemal.


"Gem, lo pasti kalah sama kita soalnya, lo itu hanya bisanya ngancem bini lo" ucap Adinda.

__ADS_1


"Ngancem gimana? dia suka loh gue apa-apain" ucap Gemal membuat Adinda melototkan matanya. Susah memang jika berdebat dengan Gemal dan Raka. Ia harus punya stok kesabaran yang banyak.


"Kalian jangan sombong, Tim saya yang paling kuat!" ucap Alfa membuat Gemal dan Adinda menganggukan kepalanya karena Alfa dan Tama adalah tim terkuat. Selain keduanya adalah sahabat, keduanya adalah para lelaki berotot dan berdada bidang yang suka menembak para penjahat.


"Harusnya mereka itu nggak satu team!" kesal Adinda menunjuk Alfa dan Tama yang saat ini berpose dengan kedua tangannya seolah ingin menembak.


Acara pun segera dimulai, kali ini mereka harus menaiki sepeda bersama dan mencari tanda disekitar taman. Tanda yang merupakan petunjuk untuk melakukan misi berikutnya. Semuanya telah berbaris bersama dengan sepeda yang menggonceng pasangannya. Bunyi pluit menandakan mereka harus segera bergegas dengan sepeda menuju ke taman.


Pritttttt.....


Mereka bergegas menyelesaikan misi, Adinda dan Guna tertawa melihat mereka yang berusaha mengayuh sepeda dengan cepat menuju Taman. Raka mengayuh sepedanya dengan cepat agar tidak kalah ceat dengan pasangan Gemal dan Vivian.


"Om nggak makan ya pagi ini? Kok lemes banget nggak semangat" kesal Adinda saat melihat Gemal yang sekarang berada didepan mereka.


"Badan kamu itu keberatan, makanya makan itu jangan rakus!" ucap Raka membuat Adinda ingin sekali memukul kepala Raka.


"Dinda nggak rakus, Om jangan asal ngomong! awas ya Om kalau kita kalah, Om harus ganti rugi!" ucap Adinda.


"Jahat... dasar dosen pelit. Kalau ada Dosen dilempar batu oleh mahasiswanya itu pasti kamu!" teriak Adinda kesal.


"Hey kamu diam, jangan banyak gerak!" teriak Raka.


Sementara itu Guna dan Ayunda tertawa terbahak-bahak saat melihat pasangan Alfa dan Tama. Tama yang berwajah oriental dan memiliki kulit yang sangat putih sengaja memakai wig berambut pajng dan Tama juga memakai daster perempuan lalu duduk menyamping seperti perempuan.


Mereka sampai diTaman dan Raka segera menghentikan sepedanya. "Pegang tangan saya cepat!" ucap Raka.


Ayunda menyebikkan bibirnya dan ia segera memegang tangan Raka. Keduanya masuk kedalam taman labirin dan mencari petunjuk sebagai peta perjalaan mereka untuk mengumpulkan kertas bercap yang akan dikumpulkan kepada panitia jika mereka telah menjalankan misi.


Raka dan Adinda mencari disekitar mereka dan Raka menjongkokkan tubuhnya. ia mengambil sesuatu dari dalam bonsai yang telah dibentuk seperti dinding pembatas labirin. Sebuah kotak persegi berada ditangannya dan Adinda segera mengambil kotak itu lalu membukanya. Ia mengambil kertas yang berada didalam kotak dan membacanya.


"Kertas stempel berada di pohon besar yang berada ditengah-tengah taman ini" ucap Adinda.

__ADS_1


"Ayo..." ucap Raka meminta Adinda mengikutinya.


"Emang Om tahu tempatnya?" tanya Adinda.


"Nggak tahu" ucap Raka.


"Kalau nggak tahu ngapain Dinda ikut Om!" kesal Dinda. "Kita harus cari petunjuk dulu dari pada jalan dilabirin dan kita bakalan tersesat!".


"Kamu percaya saja sama saya!" ucap Raka. sebenarnya Raka telah memperhitungkan segalanya. Kemarin ia telah mengamati Labirin itu dari atas resort dan ia berupaya mencari jalan dengan pengamatanya yang jeli. Raka yang cerdas akan mudah mendapatka jalan menuju ke tengah dan juga jalan keluar dari labirin.


"Nggak jauh kan Om, kaki Dinda sakit Om!" ucap Adinda.


"Kamu harusnya pakai sepatu bukan pakai sandal jelek kayak gini!" ejek Raka.


"Naik!" ucap Raka meminta Adinda naik ke punggungnya "Kalau menang nanti hadia saya tujuh puluh persen dan hadia punya kamu tiga puluh persen!" ucap Raka. "Cepetan Gemal pasti sudah sampai!" kesal Raka.


"Iya" ucap Adinda. ia segera naik ke punggung Raka.


Raka mempercepat langkahnya sambil menggendong tubuh Adinda dibelakangnya. Entah mengapa ia tidak tega melihat Adinda yang tidak memakai alas kaki berjalan di jalan tanah dan berbatu. Raka tahu jika kaki Adinda sakit karena sendal yang ia pakai putus. Tapi Andinda tidak mengatakannya karena telalu gengsi.


"Kamu percaya kan kalau saya berotot?" ucap Raka membuat Ayunda menyebikkan bibirnya. Ia menyandarkan kepalanya dileher Raka sebelah kiri.


"Iya Om terserah Om deh" ucap Adinda.


Mereka sampai di pohon besar dan melihat Vivian berusaha mengambil kertas yang tergantung diatas pohon dengan Gemal yang mengangkat tubuh Vivian agar Vivian bisa menggapainya.


"Om kita bakalan begitu juga ngambil kertasnya?" tanya Adinda merasakan sekujur tubuhnya merasa panas.


"Nggak ada pilihan, sepertinya hanya cara seperti itu untuk bisa mendapatkan kertasnya!" ucap Raka.


"Mereka kan suami istri nah kita Om?" ucap Adinda kesal karena apa yang dilakukan Vivian dan Gemal jika ia dan Raka mengikutinya, akan berpotensi penyakit baper.

__ADS_1


__ADS_2