
"Bunda kenapa nangis?" tanya Zyan yang melihat sang bunda tiba-tiba menangis hingga se segukan, Malvin yang baru saja lewat melihat istrinya menangis langsung lari dan menghampiri istrinya.
"Bun, bunda kenapa?" ucap Malvin langsung membawa ke dalam pelukannya, Maira semakin se segukan saat berada alam pelukan sang suami, dan menatap putra sulungnya itu yang sedang kebingungan. Zyan yang merasa di tatap oleh ayahnya semakin bingung.
"Zyan juga enggak tau yah, tadi selama perjalanan bunda baik-baik aja, pas tiba di ruang tamu bunda langsung menangis sampek se segukan yah!!" Zyan menjelaskan kronologi yang baru saja terjadi, Malvin keheranan saat mendengar penuturan putranya.
"Ya sudah kamu balik ke kamar sana!!"
"I, Iya yah!!" Zyan ragu saat akan meninggalkan kedua orang tua angkatnya, Zyan terus memandang sang bunda yang masih menangis.
Mau tidak mau Zyan harus meninggalkan sang bunda yang masih menangis, Zyan terus berfikir apakah dirinya telah membuat kesalahan? Sampai bundanya menangis seperti itu?.
Sedangkan Malvin terus berusaha menenangkan istrinya yang masih belum berhenti menangis, Malvin benar-benar keheranan karena istrinya yang tiba-tiba menangis, dia mengira putranya telah melakukan kesalahan namun nyatanya salah, justru putranya tidak tahu akan penyebab bundanya menangis.
Zyan saat berada di kamarnya merasa bingung akan yang terjadi hari ini mulai dari gerak gerik teman kampusnys hingga ke bundanya yaang tiba-tiba menangis.
Zyan menghela nafas akibat yang terjadi hari ini sangat melelahkan baginya. Zyan merebahkan badannya menatap langit-langit kamar begitu cantik saat ia tersenyum, dan begitu menggemaskan saat ia cemberut.
"Astaga kenapa gue jadi mikirin tu cewek sih?" Zyan langsung bangun dan pergi ke kamar mandi untuk segera menjernihkan pikirannya dengan cara menyiram kepalanya dengan air.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Sedangkan Naura yang baru sadar langsung di peluk oleh mama Dina.
"Sayang kamu enggak papa?" Naura mendapat pertanyaan hal itu hanya diam saja karena kepalanya masih terasa nyeri.
"Dina jangan terlalu banyak memberi pertanyaan kepada Naura, Naura baru saja sadar!!" mama Dina yang mendengar hal itu langsung mengangguk mengerti.
Ia membiarkan Naura sendiri dan istirahat,mama Dina keluar juga dengan om Baron.
"Biarkan Naura istirahat, tadi kan kamu sudah dengar sendiri kalau Naura itu butuh istirahat yang cukup!!" lagi-lagi mama Dina tidak menjawab hanya menganggukkan kepalanya tandanya ia mengerti akan perkataan Baron.
Naura yang di tinggal sendiri di kaar merasa ingin menangis akan semua yang ia hadapi saat ini.
"Jika salah satu dari mereka ada yang tahu kebenarannya ini maka akan ada yang terluka salah satunya!!" Naura merebahkan tubuhnya kembali setelah memikirkan semuanya.
maaf untuk semuannya karena author jarang update karena kesibukan author yang masih full padatnya, ini nyempetin update nya agar kalian tidak semakin terlalu lama menunggu.
Ayo dukung author agar lebih semangat lagi π€π
__ADS_1
Jangan lupa VOTE............VOTE.......VOTE.......
DAN LIKE..........LIKE.........LIKE.............LIKE.....
Agar author semangat untuk up
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.... karena saran dan masukan dari kalian sangat pentingππ
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like di bawah agar author lebih semangat update cerita ini.
Dan jangan lupa β€β€ lovenya ya π
Mohon di maklumi jika ada kesalahan kata atau kekurangan kata karena author masih pemula π€
terima kasih untuk semuanya yang sudah ngasih semangat buat author
semoga kalian tidak bosan dengan ceritanya π
maaf juga ya kalau ceritanya tidak se menarik novel lainnya ππ»ππ»
__ADS_1
Love you buat kalian semuanya ππππππππ
Jangan lupa jaga kesehatan ikuti peraturan protokol kesehatan π€π€