
Maira melihat Malvin marah besar dia segera mencegahnya karena maira tidak ingin Vara tau bahwa dia sudah menikah.
"Malvin udah aku enggak papa kok!!"
"Lo bilang enggak papa?? lo dihina kayak tadi tapi lo hanya diem aja??" Malvin benar-benar murka dengan apa yang terjadi terhadap istrinya.
"Maaf tuan, apakah tuan mengenal gadis itu??" tanya Vara sambil menunjuk ke arah Maira.
"Dia adalah??" Malvin berfikir sejenak sedangkan Maira terkejut saat Malvin ingin mengatakan yang sebenarnya."Dia adalah tunangan ku, jadi jangan coba-coba menghinanya PAHAM??" Malvin menekankan kata paham agar mereka tidak mengganggu Maira lagi. Sedangkan Vara mendengar ucapan itu kaget bukan main kerena selama ini Maira terkenal dengan keluarga tak mampu.
"Maaf tuan bukannya tidak percaya dengan perkataan anda tapi asalkan tuan tau kalau Maira adalah orang yang tidak punya!!!" mendengar ucapannya Malvin semakin emosi akan gadis yang telah menghina Maira.
"Apa kamu tuli?? tadi saya sudah mengatakan kalau dia adalah tunangan ku, jadi siapapun yang menghinanya akan berurusan denganku!!!" tanpa basa basi lagi Malvin langsung menarik tangan Maira supaya mereka tidak menghina Maira lagi. Sedangkan Maira mendapat perlakuan itu dari Malvin terkejut, karena Maira tau kalau Malvin membencinya tapi di mata Malvin Maira adalah orang yang paling spesial baginya. Setelah masuk dalam mobil Malvin langsung melajukan mobilnya mereka pulang dengan tangan kosong.
Disisi lain Lina dengan Devan sedang bercanda gurau, sedangkan mama papanya Malvin sedang berada di taman belakang. Devan dan Lina sedang duduk berdua bermesraan sambil menonton TV yang ada di ruang tamu.
"Sayang apa kamu tau kalau Malvin menyukai Maira??"
"Tentu saja sayang, mungkin Malvin bisa membohongi yang lain tapi tidak dengan ku!!" mendengar ucapan suaminya Lina hanya mengangguk tanda mengerti akan ucapannya.
"Tetapi kenapa Malvin harus cuek saat di depan semua orang??"
"Malvin sama seperti ku dia mementingkan egonya makanya dia tidak menunjukkan kalau dia mencintai Maira!!" Saat Devan dan Lina sedang asik membicarakan Maira dan Malvin tiba-tiba mereka datang. Malvin masuk dengan wajah penuh emosi sedangkan Maira tertunduk sambil mengikuti langkah Malvin, Lina dan Devan keheranan melihat sikap mereka berdua yang sangat aneh.
"Kalian berdua kenapa??" Tanya Lina tetapi tidak ada jawaban dari mereka berdua.
"Bro lo kenapa?? kayaknya lagi emosi??"
"Gimana gue enggak emosi coba?? tadi dia dikira pencuri tapi dia malah diam aja. Sampek-sampek security mau membawanya ke kantor sedangkan dia malah diam aja!!" saat Malvin mengatakan itu tiba-tiba mama dan papanya datang dari arah taman belakang.
__ADS_1
"Apa tafi kamu bilang?? Maira dikira pencuri??" mereka berempat sontak melihat ke arah suara.
"Mama!!" Malvin kaget dengan kedatangan ora g tuanya.
"Malvin jawab mama dengan jujur, apa benar yang mama dengar tadi??"
"Iya mam!!" bukan hanya Malvin yang emosi tetapi juga mama dan papanya yang mendengar akan hinaan kepada Mairapun ikut terbawa emosi, apa lagi Maira adalah menantu kesayangannya bagi mereka.
"Malvin apa kamu kenal dengan orang yang menghina Maira??" Malvin hanya menggeleng-gelengkan kepala karena tidak mengenal gadis itu siapa.
"Maaf tante aku rasa orang yang melakukan itu pasti mengenal Maira!!!" Maira terkejut saat namanya di sebut, dan Maira takut jika mamanya Malvin akan marah karena dihina seperti itu.
"Maira jawab pertanyaan mama, apa benar kamu mengenalnya???" Maira mendengar perkataan mama mertuanya hanya mengangguk, Malvin yang sedang memerhatikan Maira akan jawaban untuk pertanyaan dari sang mama.
"Siapa dia??" ucap Malvin sehingga mebuat Maira menunduk kembali karena dia takut saat melihat Malvin memoerlihatkan wajah datarnya. Devan yang melihat Maira ketakutan akan suara Malvin jadi Devan angkay bicara.
"Maira siapa dia??"mendengar suara Devan Maira langsung mengangkat wajahnya dan Maira menarik nafas untuk membuang rasa takutnya yang sudah terjadi padanya.
"Pantas saja dia begitu sombong!!!" ucap Malvin yang mengingat kejadian tadi di mini market.
"Malvin apa kamu tau harus apa???" tanya sang papa kepada Malvin.
"Iya pah, papa tenang aja nanti akan aku lakuin sesuai perlakuannya kepada Maira!!" ucap Malvin dengan senyum jahatnya yang hanya bisa di artikan oleh Devan dan papanya.
"Ya udah Malvin kamu sebaiknya bawa Maira ke kamar untuk istirahat setelah itu kita lanjutkan nanti acaranya!!" sang mama menyuruh Malvin membawa Maira ke kamarnya.
"Baik mah!!!" merekapun masuk ke dalam kamar yang biasa Malvin tempati saat liburan ke Villa milik sang papa. Setelah berada di kamar Malvin duduk di sofa yang di ikuti oleh Maira.
"Lo kenapa sih??"
__ADS_1
"Kenapa emang???" tanya Maira karena Malvin tiba-tiba sepertk itu padanya.
"Kenapa tadi saat di mini market enggak melawan??" Maira terlihat sangat bosan karena yang Malvin bahas itu-itu terus.
"Tau ah bosen!!" ucap Maira sambil melewati Malvin yang hanya diam saja karena lagi-lagi Maira tidak menjawab pertaannya.
"Untung cantik kalau enggak udah gue tendang lo!!" batin Malvin, karena tingkah laku Maira lah yang membuat Malvin menyukainya karena apa adanya. Tak lama kemudian Maira keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang masih terlilit handuk Maira langsung duduk di depan cermin dan mengeringkan rambutnya. Sedangkan Malvin yang meilihat Maira berusaha untuk menahan hasratnya agar tidak melakukan kesalahan karena Malvin tau kalau Maira belum siap akan semuanya apa lagi Maira harus sekolah. Karena Malvin tidak ingin tergoda akan Maira Malvin memutuskan untuk pergi ke kamar mandi dan melepaskan hasratnya di kamar mandi Maira melihat sikap Malvin hanya menggeleng-geleng kepala.
"Sebenarnya dia baik, perhatian hanya saja dia tidak mau menampakkan di depan kedua orang tuanya!!" batin Maira, mereka berdua tanpa sadar kalau dalam hubungan mereka sudah tumbuh yang namanya cinta. Tak lama kemudian Malvin keluar dari kamar mandi sedangkan Maira mulai terlelap dalam tidurnya di ranjang setelah selesai mengeringkan rambutnya. Malvin melihat Maira yang tertidur hanya tersenyum sehingga tanpa sadar Malvin mengucapkan.
"Istriku memang cantik!!(cup)" Malvin mencium kening istrinya sambil tersenyum karena dia bisa memiliki Maira seutuhnya, setelah selesai Malvin langsung turun menemui keluarganya yang sedang di ruang keluarga.
"Malvin sepertinya papa sama mama harus pulang!!!"
"Kenapa pah?? apa ada masalah??"
"Tidak ada papa hanya ingin memastikan orang yang menghina menantuku segera mendapat hukuman!!" mendengar ucapan sang papa Malvin langsung tersenyum.
"Terima kasih pah!!"
"Sudahlah kalian bersenang-senanglah di sini, papa sama mama pergi dulu!!" setelah kepergian sang papa dan mama, kini di villa hanya ada Devan, Lina, Malvin dan Maira.
"Vin lo tidak berencana untuk memperbaiki hubungan lo sama Maira??" tanya Devan yang tau akan perasaan saudara sepupunya.
"Entahlah gue enggak yakin kalau dia memiliki perasaan yang sama ke gue!!" Malvin tak begitu yakin dengan perasaan Maira kepada dirinya.
"Vin, seorang cewek akan menyukai cowoknya jika si cowok selalu perhatian bahkan si cowok selaku romantis maka si cewek akan luluh seiring waktu!!" ucap Lina, dia mengatakan itu karena sudah mengalami apa yang di alami Malvin sama Maira saat ini.
"Gue setuju sama ucapan istri gue!!" Malvin terdiam setelah mendengar perkataan dari Devan dan Lina.
__ADS_1
"Kalian tenang aja cepat atau lambat perasaan ini akan terungkap!!" ucap Malvin sambil merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di ruang keluarga. Devan dan Lina hanya saling memandang mendengar ucapan dari Malvin.
"Terserah lo dah, yang paling penting lo harus segera mengungkapkan perasaan lo ke Maira!!" ucap Devan tapi tidak mendapat balasan apapun dari perkataannya itu.