Ceo Yang Jatuh Cinta Kepada Gadis SMA

Ceo Yang Jatuh Cinta Kepada Gadis SMA
Bab 80


__ADS_3

Naura masih setia di tempatnya sambil memandangi orang yang berlalu lalang di taman itu.


"Apakah mereka masih sayang padaku?? Atau mereka sudah melupakan ku?? Aaakhhhhhh kenapa jadi kayak gini??" ucapnya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kamu kenapa??" mendengar suara itu Naura tau siapa yang berbicara saat ini, Naura pun mendongak untuk melihat ke pemilik suara.


"Tante!!" entah dorongan darimana setelah membuka kedua tangannya itu Naura langsung memeluk Maira.


Zyan yang melihat kejadian itu bingung dan kaget karena gadis yang baru dia kenal begitu akrabnya dengan bundanya.


"Ada apa cantik?? Kenapa kamu menangis??" mendengar pertanyaan itu Naura pun langsung melepas pelukannya karena dia telah lancang melakukan itu, seharusnya dia menahan agar tidak memeluk Maira.


"Maaf tante, tadi a.....Aku enggak bermaksud bu......Buat meluk tante!!" ucapnya sambil tertunduk.


"Jangan panggil tante, panggil bunda aja. Kalau memang ada masalah dan ingin memeluk seseorang agar perasaan mu lega, sini peluk bunda!!" ucap Maira sambil merentangkan kedua tangannya agar Naura memeluknya.


Naura yang tadinya diam saja mendapatkan persetujuan dari Maira langsung memeluknya dengan erat seolah-olah tidak mau lepas.


Setelah Naura memeluk Maira, dengan sigap Maira membalas dengan pelukan hangat tanpa sadar Maira mengeluarkan air mata.


Zyan yang melihat itu membiarkan kedua wanita itu melepas rasa yang mereka rasakan masing-masing, Zyan seolah-olah mengerti dengan apa yang di rasakan oleh Naura.


"Siapa Naura sebenarnya?? Kenapa saat bersamanya aku merasa sangat dekat!!" batin Zyan yang merasa aneh saat bersama Naura.


Disi lain.......


"Diama anak itu??" tanya seseorang dengan nada datarnya.


"Dia lagi kuliah, memang kenapa mbak??" tanya mama Dina kepada orang itu.


"Apakah kamu masih memberinya obat itu??" mendengar pertanyaan itu mama Dina terkejut pasalnya sudah hampir satu tahun dia tidak memberikan obat itu kepada Naura karena Baron selalu melarang mama Dina memberikan obat itu.


Baron melakukan itu karena merasa kasihan kepada Naura, Baron ingin melihat Naura bahagia bersama keluarga aslinya setelah dia ingat semuanya.


"Masih mbak!!" ucap mama Dina terpaksa berbohong demi kebaikan putri angkatnya.


"Bagus, jangan sampai kau telat memberikan obat itu walau sehari. Jika kau tidak mau terjadi sesuatu dalam kehidupan mu, PAHAM??" ucapnya dengan lantang kepada mama Dina dan setelah itu mereka meninggalkan mama Dina.


Setelah kepergian mereka, mama Dina menangis sejadi-jadinya karena telah melakukan kesalahan di masa lalunya karena takut dengan ancaman mereka.


"Maafkan mama sayang yang sudah memisahkan kamu dengan keluargamu!!" ucap mama Dina sambil memandangi foto Naura yang berada di ruang tamu tersebut.

__ADS_1


Kembali lagi ke taman.......


"Bagaimana cantik apa sekarang sudah tenang??" tanya Maira sambil mengusap lembut kepala Naura.


"Makasih bun!!" ucapnya sambil mengusap air matanya yang sedari tadi tidak berhenti.


"Makasih bun atas pelukan hangatnya bunda, andai saja aku bisa mengatakan semuanya sama bunda. Tapi apalah dayaku bun yang masih belum bisa melihat mama Dina disiksa sama mereka setelah semua sudah siap aku akan mengatakan semua kepada bunda dan ayah. Aku merindukan pelukan ayah bun!!" ucapnya sambil memandangi wajah bundanya.


Di kantor Malvin......


"Kenapa aku jadi teringat dengan Kania?? Kania ayah merindukanmu!!!" semenjak hilangnya Kania Malvin jadi gampang melo walau hanya melihat foto putrinya.


(Meski Malvin melow, jika hanya sendirian contohnya saat ini saat dia berada di ruangannya dan sendirian🤭🤭)


Saat Malvin sedang hanyut dalam pikirannya tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


Tok........ Tok....... Tok......


"Masuk!!!" ucap Malvin tak mengalihkan pandangannya dari foto putrinya.


"Woy Vin lo kenapa?? Lo abis nangis ya??" tanya Devan yang sudah duduk tanpa menunggu ucapan sang tuan.


"Yee gue ngomong gitu karena liat muka lo tu bengkak kayak abis nangis??"


"Udah ah males, ngomong-ngomong ada apa lo ke ruangan gue??" tanya Malvin kepada Devan karena biasanya kalau ada keperluan ataupun masalah kantor Devan hanya mengirim pesan lewat emailnya Malvin.


"Gue dapat informasi kalau putri lo juga tinggal di kota ini!!" mendengar ucapan itu yang awalnya Malvin cuek langsung menoleh kearah Devan.


"Lo serius??" Devan pun mengangguk dengan pertanyaan Devan. "Putriku, ayah merindukanmu!!!" batin Malvin sambil tersenyum. Devan yang melihatnya pun tersenyum karena sepupunya sudah mulai tersenyum kembali.


"Woy pada ngapain si??" tanya seseorang yang baru datang, sehingga membuat Devan dan Malvin menoleh ke arah sumber suara secara bersamaan.


"Arga??" ucap mereka serenta sehingga membuat Arga terkejut akan ucapan mereka.


"Iya ini gue, kalian berdua pada kenapa sih??" tanya Arga yang melihat kedua sahabatnya hanya bengong menatapnya.


"Ini seriusan lo Ga??"


"Iya lo pikir gue siapa, gue pulang sesuai janji gue sama Maira dan Zyan!!" mendengar ucapan dari Arga, Malvin langsung menghampiri nya.


"Maksud lo apa Ga???" Malvin emosi karena takut di bodohi oleh sahabatnya, sedangkan Arga yang melihat Malvin emosi hanya diam saja.

__ADS_1


"Gue udah ketemu sama cewek yang namanya Ririn yang udah membawa Kania pergi dari kota ini!!" mendengar itu Malvin langsung melepas cengkramannya dan tertunduk di lantai.


"Vin lo enggak papa??" tanya Devan karena Malvin hanya diam saja sedari tadi.


"Gue bakal ketemu sama anak gue!!!" ucapnya sambil menghapus air mata yang sudah jatuh membasahi pipinya.


"Tapi sorry Vin, gue memang sudah menemukan Ririn tapi.....!!!" belum selesai bicara Malvin mencengkram kembali kerah baju Arga.


"Tapi apa Ga??" tanya Malvin yang benar-benar emosinya kembali memuncak.


"Tapi Kania tidak bersamanya!!" mendengar itu Malvin merasa runtuh dan tak terasa air matanya terus berjatuhan.


"Untuk sementara tolong jangan beri taukan masalah ini kepada istriku, karena aku yakin dia akan drop lagi jika mendengar ini!!!" ucap Malvin di sela-sela tangisnya, Devan dan Arga mengerti maksud perkataan Malvin.


"Baiklah!!!" mereka pun terdiam tak lama kemudian Arga mendapat pesan dari anak buahnya.


Seketika wajahnya Arga berubah, sedangkan Devan dan Malvin yang melihatnya merasa ada yang aneh dengan sahabatnya.


"Ada apa lagi Ga??" tanya Devan yang tau akan ekspresi dari wajah Arga.


"Bukan apa-apa masalah kantor!!" ucapnya berusaha menyembunyikan masalahnya karena itu adalah masalah putranya.


"Gue harus menyelidiki masalah ini tanpa sepengetahuan mereka, maaf gue belum siap memberi tahukan masalah ini ke kalian!!" batin Arga berusaha untuk tidak mencurigakan di depan kedua sahabatnya.


"Oh iya Vin Zyan bagaimana keadaanya?? Apa dia sudah menemukan kampus yang dia inginkan??" ucap Arga agar mereka tidak menanyakan masalah yang dia alami.


Ayo dukung author agar lebih semangat lagi 🤗😇


Jangan lupa VOTE............VOTE.......VOTE.......


DAN LIKE..........LIKE.........LIKE.............LIKE.....


Agar author semangat untuk up


Jangan lupa vote dan sarannya yaa.... karena saran dan masukan dari kalian sangat penting🙂😊


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like di bawah agar author lebih semangat update cerita ini.


Dan jangan lupa ❤❤ lovenya ya 😘


Mohon di maklumi jika ada kesalahan kata atau kekurangan kata karena author masih pemula 🤗

__ADS_1


__ADS_2