
Pagi menjelang Naura yang masih terlelap di samping mama Dina tersenyum melihat putri kecilnya yang sudah dewasa.
Tiba-tiba ponselnya berdering, mama Dina pun mengangkat telpon tersebut dengan senyum merekah di wajahnya.
Mama Dina π²"Hallo!!"
(..........)
Mama Dina π²"Kabar ku baik, Naura juga baik, lalu bagaimana masalah perusahaan mu yang di sana??"
(........)
Mama Dina π²"Baiklah nanti aku sampaikan kepada Naura!!"
Naura yang baru saja terbangun melihat mamanya tersenyum, merasa ada yang aneh terhadap mamanya.
"Mama kenapa liat Naura kayak gitu??"
"Anak mama makin cantik!!" ucap sang mama sambil mencubit hidung putrinya.
"Mama bisa aja!!" ucapnya sambil meranjak bangun untuk pergi ke kamar mandi langkahnya terhenti saat sang mama memanggilnya.
"Naura!!" Naura yang mendengar namanya di panggil langsung menoleh."Kamu masih ingat sama om Baron??" mendengar itu Naura mengernyitkan dahi, bingung akan maksud dari ucapan sang mama.
"Memangnya kenapa sama om Baron mam??"
"Dia merindukan mu, om Baron besok lusa akan pulang!!" Naura yang tau kalau mamanya sangat senang dengan kepulangan Baron.
Baron adalah orang yang dekat dengan mama Dina dan menanggap Naura sebagai putri kecilnya.
Begitupun Naura yang menyayangi Baron yang sudah memjaga nya dan Mamanya.
"Sepertinya om Baron bukan merindukan ku tapi merindukan mama, ayo ngaku!!" ucap Naura langsung masuk kedalam kamar manndi.
Mama Dina mendengar ucapan putrinya hanya menggeleng-gelengkan kepala, karena putrinya selalu menggodanya saat membicarakan Baron.
Sedangkan Naura masih tersenyum sambil membayangkan wajah mamanya karena malu saat di goda olehnya.
__ADS_1
**********
Di sisi lain Zyan yang bari saja keluar dari kamar mandi lalu duduk di tepi ranjang dan membuka laci yang berada di sebelah ranjangnya.
Zyan mengambil sebuah album foto yang tentang masa kecilnya, Zyan tak kuat menahan air matanya pun terjatuh.
"Kenapa harus kamu dek?? Kakak merindukan mu, bagaimana keadaan mu sekarang??" ucapnya seraya mengusap usap foto yang ia pegang saat ini.
Tak lama kemudian Zyan mendengan suara ketukan dari luar pintu sehingga Zyan mengusap air matanya segera dan beranjak dari ranjang menuju pintu.
"Iya sebentar!!" ucap Zyan segera membuka pintu kamarnya."Bunda, ada apa bun??" tanyanya sambil membuka lebar pintu kamarnya.
"Hari ini kamu jadi kuliah??"
"Jadi bun, emang kenapa bun??" tanya Zyan yang kembali duduk di tepi ranjang sambil menatap sang ibunda.
"Temenin bunda ke taman ya!!"
"Baiklah bundaku sayang, putramu yang tampan ini akan menemani kemanapun bunda akan pergi!!" ucapnya sambil memeluk sang bunda yang sudah duduk di sampingnya.
Karena Maira merasa begitu dengan dengan gadis itu, dan selalu terbayang akan wajah nya.
"Bunda lagi mikirin apa??"
"Bunda mikirin kamu, kenapa kamu belum membawa gadismu kesini??" mendengar ucapan sang bunda mengernyitkan dahi karena tidak paham akan ucapan bundanya.
"Maksud bunda??" ucapnya yang pura-pura tidak mengerti akan ucapan bundanya.
"Sudah jangan pura-pura bodoh kamu, bunda sudah tau jawaban mu!!" mendengar itu Zyan hanya senyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Saat mereka sedang asik berbicara tanpa sengaja Maira melihat gadis yang dia rindukan itu sedang melamun di bangku taman sambil memompong dagunya.
Maira yang melihatnya tersenyum, sedangkan yang di lihat tidak menyadari jika sedang di perhatikan. Begitupun dengan Zyan mengikuti arah pandangan bundanya dan betapa terkejutnya Zyan saat melihat gadis yang telah membuatnya tersenyum kembali setalah sekian lamanya.
"Bunda kenal gadis itu??" tanya Zyan karena merasa heran dengan bundanya yang tersenyum-senyum sendiri.
"Tidak, bunda tidak mengenalnya. Tatapi saat melihatnya tersenyum bunda merasa sangat damai akan hal itu!!"
__ADS_1
"Bunda mau nyamperin dia?? Atau mau aku panggil dia??" tanya Zyan membuat Maira menoleh kearahnya.
"Memangnya kamu kenal dia??"
"Kenal bun, kalau enggak salah namanya Naura dan kalau enggak salah Zyan bakal satu kampus sama dia bun!!" ucapnya sambil tersenyum, sedangkan Maira memperhatikan putranya sangat berbeda dari hari lainnya.
"Apa kamu menyukainya??"
"Ya bisa bilang seperti itu bun????" Zyan baru sadar akan ucapannya langsung menoleh ke sembarang arah karena malu, sedangkan Maira yang mendengar ucapan putranya hanya tersenyum karena putranya keceplosan."Em, em.... Ma..... Maksudku bukan gitu bun!!" ucap Zyan berusaha mencari alasan kepada bundanya agar tidak salah paham.
"Zyan kamu mana bisa berbohong sama bunda??" Zyan hanya tersenyum dengan perkataan bundanya.
"Oh iya bun apa ini alasan bunda ke taman??" mendengar pertanyaan dari putranya Maira menghela nafas.
"Iya, entah kenapa saat bunda melihatnya bunda merasa tenang dan begitu damai. Apalagi saat dia pergi seakan-akan bunda enggak rela membiarkan dia pergi!!" ucapnya lirih dengan pandangan masih memandang Naura.
"Bun kenapa bunda enggak ajak dia ke rumah atau enggak bunda ajak dia ketemuan setiap bunda merindukannya??"
"Itu alasan kamu saja biar bisa ketemu terus sama dia ya kan??" ucap Maira membuat Zyan gelagapan, dan salah tingkah.
"Bunda apaan sih, kenapa jadi Zyan yang kena batunya??" ucapnya menoleh ke arah lain agar tidak ketauan jika sedang malu ππ.
Ayo dukung author agar lebih semangat lagi π€π
Jangan lupa VOTE............VOTE.......VOTE.......
DAN LIKE..........LIKE.........LIKE.............LIKE.....
Agar author semangat untuk up
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.... karena saran dan masukan dari kalian sangat pentingππ
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like di bawah agar author lebih semangat update cerita ini.
Dan jangan lupa β€β€ lovenya ya π
Mohon di maklumi jika ada kesalahan kata atau kekurangan kata karena author masih pemula π€
__ADS_1