Ceo Yang Jatuh Cinta Kepada Gadis SMA

Ceo Yang Jatuh Cinta Kepada Gadis SMA
Lina yang ngidam


__ADS_3

Devan dan Lina mendengarnya hanya mengangguk-ngangguk tanda mengerti, Malvin hanya senyum-senyum jika mengingat-ngingat sikap dia kepada Maira.


"Sayang kok aku tiba-tiba pengen rujak ya??" Devan dan Malvin kaget karena Lina tiba-tiba ingin makan rujak di malam hari.


"Eh Lin enggak salah denger ni gue?? lo pengen rujak?? ini udah malem loh??" Malvin tak habis pikir dengan pemikiran Lina saat ini.


"Entahlah aku pengen banget rujak, rujak asem pedes pasti enak tuh??"


"Sayang kamu kenapa?? kok tiba-tiba pengen rujak??" mereka kebingungan dengan sikap Lina yang tiba-tiba aneh.


"Kayaknya Lina lagi ngidam!!" mendengar suara itu mereka langsung menoleh kearah sumber suara, yang tak lain adalah Maira yang baru datang dari dapur sambil memegang gelas yang berisi air.


"Maksut lo apa??" tanya Devan yang tak mengerti dengan ucapan Maira.


"Maksut gue mungkin Lina lagi ngidam, atas kemauan banyinya kan emang kayak gitu kalau orang lagi ngidam enggak tau waktu!!!" ucapan Maira membuat yang lain kebingungan, karena mereka masih tidak mengerti walaupun Maira sudah berusaha untuk menjelaskan kepada mereka.


"Maira lo kalau ngomong..........???" Belum sempat Devan melanjutkan langsung terpotong oleh Maira.


"Hemm, sekarang kalian pikir pakek logika mana ada orang mau rujak malem-malem gini?? kalau bukan hamil lalu apa??"


"Iya sih, yang di katakan lo ada benernya juga!!!" sedangkan Lina masih berusaha mencerna omongan Maira.


"Lin gue mau nanya sama lo, lo terakhir kali datang bulan kapan??" Lina nampak masih berfikir dengan pertanyaan dari Maira.


"Sekitaran dua minggu yang lalu, emang kenapa Mai??"


"Sebaiknya lo cek menggunakan alat tes kehamilan kalau masih kurang yakin lo bisa cek kerumah sakit!!" mendengar perkataan Maira Lina hanya mengangguk-ngangguk tanda mengerti akan ucapannya.

__ADS_1


"Sayang gimana, mau di beliin enggak??" ucap Lina membuat Devan terkejut saat Lina masih mengingat akan keinginannya.


"Tapi sayang ini udah malem mana ada yang jualan rujak jam segini???" mendengar ucapan Devan, Lina langsung merajuk sedangkan Devan mulai kebingunhan melihat istrinya yang sedang merajuk. Maira dan Malvin yang menyaksikan mereka berdua hanya menahan tawa karena tingkah Lina terhadap suaminya.


"Lina gimana kalau kita bikin sendiri??" mendengar ucapan Maira Devan sedikit lega sedangkan Lina berbinar-binar setelah mendengar ide dari Maira.


"Ok buat sendiri tapi aku maunya Devan yang membuatkannya untuk ku!!" Devan terkejut dengan penuturan istrinya sedangkan Maira melihat ekspresi Devan ingin tertawa tapi kasihan karena Devan sedang kesusahan. Malvin hanya memerhatikan Maira yang berusaha menahan tawa sedari tadi hingga tanpa di sadari Malvin tersenyum.


"Ya udah Van turutin aja, entar gue bantuin!!" mendengar ucapan Maira Devan langsung berbinar-binar tapi tiba-tiba Lina angkat suara dan berkata.


"Tapi aku maunya Devan yang membuatnya sendiri tanpa bantuan dari orang lain!!" mendengar ucapan itu Devan bagaikan kesambar petir mendengar perkataan istrinya, jika keinginan Lina tidak di turuti maka akan terus merajuk. Devan paling tidak suka kalau melihat istrinya merajuk jadi mau tidak mau dia harus membuat rujak sendirian meski dia tidak bisa membuat rujak bahkan tidak pernah sama sekali dia menyentuh barang-barang yang ada di dapur.


"Baiklah demi istri ku tercinta aku akan membuatnya!!" ucap Devan sambil melangkahkan kakinya menuju daoun dengan wajah yang nampak lesu.


"Lo yakin Lin, suami lo bisa membuatnya??" ucap Malvin yang sedari tadi hanya diam saja.


"Terserah lo aja deh Lin!!" ucapnya sambil melangkahkan kakinya menuju kamarnya, Maira menemani Lina di ruang tamu sambil menonton TV, sedangkan Devan yang berada di dapur kebingungan apa yang harus dia lakukan.


"Aduh gimana nih?? gue enggak bisa bikin rujak lagi, apa iya Lina beneran hamil??" Devan masih tidak percaya dengan ucapan Maira kalau Lina sedang hamil. Sedangkan Maira dan Lina sedang berbicara entah apa yang sedang mereka bicarakan.


"Mai gue mau nanya sama lo, tapi jawab jujur ya??" Maira mengangguk akan penuturan Lina."Jadi gini, lo suka enggak sama Malvin??" mendengar pertanyaan Lina Maira langsung terdiam, karena dia tau kalau Malvin tidak menyukainya itu yang selalu ada dalam pikiran Maira jika berhubungan dengan Malvin. Berbeda dengan Malvin yang kini sedang menyusun rencana rencana untuk mengungkapkan perasaannya kepada Maira.


"Mai, Mai, Maira!!"


"Eh iya kenapa??" perkataan Lina membuat Lina melamun sehingga dia tidak fokus sesari tadi.


"Ni anak di tanya malah balik nanya, gimana sama perasaan lo??" Tanya Lina kepada Maira.

__ADS_1


"Gue juga bingung sama perasaan gue sendiri karena selama ini Malvin enggak suka dengan adanya gue disini!!" tanpa mereka sadari sedari tadi bahwa Malvin mendengar semua perkataan Maira tentang perasaannya. Malvin mendengar itu langsung menghampiri Maira, sehingga mereka berdua kaget dengan ke datangan Malvin, Maira yang melihat ke arah Malvin terlihat ketakutan karena Malvin menampakkan wajah datarnya itu di depan Maira.


"Maira ikut gue, ada hal penting yang ingin gue omongin sama lo!!" ucap Malvin sambil menarik tangan Maira, melihat itu Maira langsung menoleh ke arah Lina dan Lina hanya mengangguk agar maira mengikuti Malvin. Malvin membawa Maira ke dalam kamar bahkan Malvin tidak lupa mengunci pintunya, sedangkan Maira ke takutan yang melihat sikap Malvin yang sangat menyeramkan.


"Malvin lo mau ngomong apa??" ucap Maira dengan ekspresi ketakutan saat hanya berdua dengan Malvin, Malvin yang sedari tadi menahan tawa melihat ekspresi Maira.


"Kenapa? kamu takut??" Maira kaget karena Malvin tidak sekasar yang dia banyangin.


"Tunggu-tunggu tadi Malvin ngomong aku kamu?? tumben banget, mimpi apa dia?? apa jangan-jangan dia kesambet??" batin Maira yang masih menatap Malvin dengan tatapan aneh, sedangkan Malvin menyadari akan tatapan Maira.


"Kamu kenapa menatap aku kayak gitu??"


"Emm, tidak jangan Gr deh lo!!" ucap Maira berusaha untuk tetap tenang, sedangkan Malvin tau kalau Maira salah tingkah akan sikapnya saat ini.


"Udah jujur juga enggak papa kok, lagian kan aku emang ganteng!!" ucap Malvin dengan percaya diri sedangkan Maira mendengarnya ingin tertawa karena Malvin memiliki rasa percaya diri yang tinggi, memang sih Malvin sangat tampan dan mempesona di mata perempuan.


"Hhahahha, Pd amat sih lo??" masih dengan tawanya sedangkan Malvin hanya bingung dengan tingkah laku Maira yang tertawa berbahak-bahak.


"Maira kenapa sih?? ketawa sampek segitunya?? emang ada yang lucu??" ucap Malvin dengan yang lagi-lagi dengan suara datarnya saat melihat Maira yang tertawa tanpa henti.


"Maaf-maaf abisnya li pd banget!!" mendengar ucapan Maira merasa gemas akan ulah istrinya.


"Jadi kamu enggak mau mengakuinya??(cup)" ucap Malvin sambil mencium Maira sehingga Maira diam mematung sedangkan Malvin hanya tersenyum melihat istrinya yang diam mematung.


"Udah jangan diem kayak gitu kalau mau lagi tinggal bilang!!" ucap Malvin yang sedang menggoda istrinya.


"Idih siapa juga yang mau sama lo??"

__ADS_1


"Yakin??(cup))" lagi-lagi Malvin memberi ciuman kepada istrinya(ya bagaimana layaknya suami istri ya 😊😊) Awalnya Maira terkejut dengan perlakuan Malvin tapi kini Maira menikmati semua perlakuan Malvin terhadapnya. Tak lama kemudian Malvin menyudahi ciumannya dengan Maira karena dia tau kalau Maira belum siap. Setelah melepas ciumannya itu Maira terlihat sangat malu, Malvin melihat istrinya malu-malu dia hanya tersenyum. Lalu Malvin menarik Maira kedalam pelukannya sedangkan Maira membulatkan matanya karena tingkah Malvin yang benar-benar aneh menurut Maira.


__ADS_2