
Entah apa alasannya. Kini ada perbedaan pada diri Hiroaki. Hiroaki tiba-tiba lebih banyak menghindariku. Di sekolah, di rumah. Bahkan tak pernah lagi menginap di rumah kami.
Aku menjalani sisa akhir semester dengan perasaan yang sangat tidak bahagia.
Bahkan kami sudah tidak pernah pergi ke kuil bersama lagi. Padahal, biasanya kami rutin mengunjungi Kuil untuk pemujaan untuk dewa matahari.
Ya. Kami, aku, Kak Rea dan Hiroaki adalah pendatang. Kami warga asing di kota ini. Awal aku tinggal di kota ini, adalah saat aku berumur sembilan tahun. Saat itu aku mengelilingi kota dengan kereta. Lalu bertemu dengan seorang wanita bercadar. Aku menyukainya. Dan meminta pada Kak Rea untuk tinggal di negara ini. Namun Syarat untuk menjadi warga negara agak sedikit rumit. Tapi akan sedikit terbantu, jika kami bisa menikah dengan penduduk asli. Kebetulan, Kak Rea bertemu dan menikah dengan Kak Darmawan.
Sudah seminggu ini, Hiroaki benar-benar menjauhiku. Dia lebih banyak diam. Bahkan selepas main basket, dia tak lagi melengket seperti biasanya.
🍃🍃🍃
Bugh!
Sebuah bola basket melayang ke arahku. Dari tengah lapangan, tampak Hiroaki berteriak memintaku untuk melemparkan kembali bola itu kepadanya.
__ADS_1
Dengan sebal, aku mengangkat bola, bukannya aku melemparkan balik pada mereka, tapi aku membuangnya ke tempat sampah. Awalnya aku ingin membawa bola basket itu ke dapur sekolah. Membelahnya seolah itu adalah telur yang siap di dadar. Tapi setelah dipikir lagi, harga bola ini tak murah. Kak Rea selalu mengajarkan aku untuk tidak menghambur-hamburkan uang. Jadi untuk membuat Hiroaki kesal, aku cukup membuang bola itu ke tempat sampah. Berharap dia akan mengejarku ke kantin. Lalu membujukku, dan kami bisa berbaikan. Sayang. Hiroaki masih saja mengacuhkanku.
Aku semakin kesal pada Hiroaki. Dia benar-benar tak lagi menghiraukanku. Saat kulihat dia keluar dari Toilet sekolah. Muncul ide untuk mengerjainya. Aku bidikkan panah ke arah kepalanya. dan ...
Wush, tepat disasaranku. Aku pura-pura tak melihat. Aku berusaha menahan tawa. Akhirnya Hiroaki berjalan ke arahku
"Lain kali berhati-hatilah. Anak panah ini berbahaya, jika mengenai orang lain, " ucapnya masih dengan mengabaikanku.
"Apa karena dia ketua OSIS? apa dia sedang menjaga image? Ah. Menyebalkan sekali, " pikirku dalam hati.
"Apa Hiroaki juga merindukanku? "
Mataku kembali melirik ke mading. Ada sebuah pengumuman di sana. Pendaftaran untuk para pecinta alam "Hiking. " dan nama dari panitia pendaftaran adalah Rean Darmawan.
Mungkin ini kesempataku untuk berbicara dengan Hiroaki.
__ADS_1
Sebelum masuk ke kelas Rean menarik tas-ku.
" Hei, tadi kamu lupa sarapan. Nih aku buatin sandwich dan aku bawain apel juga. Merepotkan saja."
Aku langsung merangkul pundak Rean.
"Thanks buat sarapannya. Tumben kamu buatin aku sarapan? gak lagi konslet kan? itu kepala? "
" Sialan. Kamu. Aku dah bawain sarapan malah di bilang konslet. "
"Eh, daftarin aku di acara Hiking ya. Kamu panitianya kan? "
Rean menggerakkan telapak tangannya, meminta uang untuk pendaftaran. "
"Pake kartu debet kamu aja. Sesekali traktir buat nyenengin aku napa? kan uang kita sama, " ucapku sambil berlalu meninggalkan Rean.
__ADS_1