
Pagi ini, Kak Rea dan Kak Darmawan mengunjungi tempat kost kami. Kak Rea membawakan makanan dengan beragam menu juga kebutuhan aku dan Rean selama sebulan. Rean tampak kesal dengan kedatangan Kak Rea. Tak ada sedikitpun senyum. Matanya tampak merah menahan amarah.
Setelah hampir satu jam di tempat Rean, merekapun berpamitan. Setelah membereskan barang-barang yang dibawakan Kak Rea, memasukan bahan makanan ke dalam kulkas dan membereskan keperluan bersih-bersihnya, aku segera bergegas meninggalkan tempat ini.
Kalau bukan karena Kak Rea, aku tak mau lagi menginjakkan kaki di tempat ini.
Namun sebelum aku melangkah keluar. Rean segera bangkit dari kursinya dan menghalangi langkahku.
"Maaf. Maafkan aku Akira. "
Aku tak memperdulikan ucapan Rean. Saat aku melewatinya, tangannya mencegahku. Menggenggamnya dengan erat dan menarikku ke dalam pelukkannya.
"Maaf, sungguh aku sangat minta maaf Akira," ucapnya dengan nada yang terdengar tulus.
Akhirnya akupun luluh.
"Iya. Aku sudah meaafkan-mu Re. Tapi, jangan megulangi hal bodoh itu lagi Rey."
__ADS_1
"Baiklah," ucap Rey sembari menganggukkan kepalanya.
Hubungan kami kembali membaik. Hiroaki pun, kini sudah bisa menerima hubungan aku dan Rean. Tak ada lagi salah paham diantara kami.
Rean memperlakukanku lebih baik dari sebelumnya. Terkadang Hiroaki merasa Risih dengan perlakuan Rean terhadapku. Tapi, setelah aku jelaskan. Hiroaki mulai memaklumi. Meski masih sering kesal sendiri ketika melihat perlakuan berlebihan yang ditunjukan Rean padaku.
Kami selalu menghabiskan waktu bertiga, Ke pantai, latihan, muter-muter tak tentu arah dengan motor, mengerjakan tugas. Bahkan kami sering menginap di tempat Rean untuk menemani Rean dan menghiburnya.
Pagi itu, ada seorang gadis bernama Maria memberikan sepucuk surat untuk Rean.
"Cie, Cie, yang ada penggemar, " godaku dan Hiroaki.
" Baca. Ayo baca!," ucap kami tak sabar.
Ternyata benar. Gadis itu menuliskan surat cinta untuk Re. Ada sedikit senyum di bibirnya. Aku dan Hiroaki saling memberi isyarat dengan menaikkan alis, lalu merangkul Rean bersamaan menuju kantin. Memesan banyak makanan untuk memalak Rean karena sudah dapat penggemar baru.
Memang sih, sejak pertama Rean pindah ke sekolah ini. Sudah banyak penggemar karena wajahnya yang lumayan tampan. Kulit putih, dengan badan tegap dan tinggi. Hidung mancung, belum lagi mata elangnya, yang mampu menyihir para gadis untuk melayang-layang ke angkasa.
__ADS_1
Belum lagi segudang prestasinya, yang bisa dibilang sama dengan Hiroaki. Perbedaan Hiroaki dan Rean, adalah Hiroaki sangat dingin terhadap gadis-gadis selain aku, sedang Rean bersikap hangat dan sangat bersahabat.
Hari ini, aku memesan Bakso, mi ayam, ketoprak, es teh manis, dan juga banyak camilan. Tak lupa aneka gorengan dan juga kue-kue cokelat.
"Hei! Rean, mana dompetmu, ini pesanannya minta di bayar!"
Rean hanya terkekeh dengan keusilan kami. Tak ada sedikitpun raut marah di wajahnya. Sebelum aku merampok seluruh isi dompet Rean. Tiba-tiba seorang gadis menyodorkan satu lembar uang berwarna merah pada kasir.
"Biar Maria saja yang bayar pesanannya Kak, " ucap gadis itu dengan ramah.
Aku memberi isyarat pada Rean dan Hiroaki. Agar membantuku membawa nampan berisi makanan.
" Maria," pangilku pada gadis itu, saat dia beranjak untuk pergi.
"Iya. Kak, " jawanya lembut.
"Duduklah bersama kami. Dan, terima kasih untuk traktirannya.
__ADS_1
Gadis itu tampak tersenyum dengan gembira. Dia juga membantuku membawakan makanan kami.
Aku menginjak kaki Rean, agar dia mau berbicara dengan maria. karena dari tadi, Dia nampak tak banyak bicara. Dan Akhirnya kami sedikit lebih akrab dengan Maria.