
Pertama kali memakai jilbab adalah sesuatu hal yang sangat canggung bagiku. Aku berjalan menuju pasar. Mencari toko kain di seberang jalan. Aku pergi sendiri tanpa sepengetahuan Dika. Aku ingin membuat kejutan buat dia, nanti.
Aku memilih beberapa lembar kain dengan warna kalem dan gelap, sebagian untuk membuat gamis longgar, dan sebagian kain yang lebih adem dan jatuh untuk membuat jilbab persegi empat dengan ukuran 150x150 cm.
Aku membawanya pada penjahit. Membuat beberapa pola sederhana yang aku sukai.
Aku ini memang ribet orangnya. Padahal, aku bisa saja membeli pakaian seperti itu di toko baju. Hanya saja, aku kurang suka ukurannya hijabnya, yang hanya paling panjang 130 cmx130. Selain gamisnya terlalu banyak warna dan hiasan. Aku lebih suka pakaian polos, tanpa banyak corak dan hiasan, paling hanya garis saja sebagsi pemanis. Satu minggu kemudian, semua pakaian yang aku butuhkan akhirnya telah siap.
Aku mematut diri di depan cermin. Ada yang terlihat berbeda di sana. Entah apa, tetapi ada ketenangan dalam pandanganku itu.
Saat pertama kali mengenakannya, Caty yang kini menyukai dress tanpa lengan dan juga rok mini setelah memiliki tubuh yang indah, merasa heran dengan pakaian yang aku kenakan.
"Apa kamu tidak merasakan panas, dengan mengenakan pakaian seperti itu Ra,"
Aku hanya tertawa, lalu membisikan sesuatu di telinganya. "Panas dan gerah."
__ADS_1
Dia lalu tertawa. "Kalau gerah, kenapa kamu pakai itu?"
"Ini perintah dalam kitabku dan aku hanya ingin patuh," ucapku dengan menganggukkan kepala dan memberinya cengiran kecil.
Aku bahkan sampai harus mandi beberapa kali, untuk menghilangkan gerah. Tetapi, tidak mengapa, ini baru awalnya saja. Semoga kedepannya akan terbiasa.
Matahari yang terik dan udara yang panas, semakin menambah jumlah keringat yang meleleh di tubuhku. Ku setel motor dengan kecepatan Valentino Rosi menuju rumah, Aku serasa dipanggang hari ini. Kepalaku serasa diungkep dalam sauna. Setelah sampai rumah, aku melepas sepatu berwarna putihku itu dan kaos kakinya di rak. Bergegas menyejukan diri di kamar mandi. Ah, segarnya.
Setelah hampir setengah hari aku memakai pakaian ini, rasanya mengguyurnya di bawah shower adalah pilihan yang sangat tepat. Aku berganti dengan kaus panjang longgar berwarna putih, dan celana panjang longgar pula dengan warna yang senada. Aku tak mau lagi di komentari oleh si cerewet Dika, dia bilang, kalau aku masih pakai celana jeans dan kaus, itu sama saja aku hanya menutup dagingku, bukan auratku. Aku mengenakan pashmina berbahan ringan untuk menutupi rambutku.
"Kenapa? udah gak tahan, karena panas?"
Aku tak memperdulikan ucapannya, aku menuangkan air dalam gelas, dan meneguknya hingga tandas.
Dika masih saja menertawaiku. Membuatku semakin kesal.
__ADS_1
"Kamu, cantik."
"Kamu gak jalan-jalan, mumpung kita tutup kedai selama setengah hari ini. Ka."
"Gak, Ra, baru pulang dari salat jum'at. Terus gak sengaja liat kamu lari kepanasan. Pfff," ucapnya sambil menahan tawa.
"Terus aja ketawain aku! biar kamu seneng!"
"Gak, kok, Ra, aku senang, melihatmu begini."
Jadi, begini rasanya, patuh pada perintah.
"Uh, panasnya."
Untung ini masih di dunia, jika gerah dan panas, aku masih punya kipas, masih ada air es untuk kuminum dan masih bisa mengguyur kepalaku dengan air dingin. Lha, di neraka, apa yang bisa aku lakukan nanti ya? Adakah air dingin di sana?.
__ADS_1