
Pagi ini semua diawali dengan baik. Matahari meninggi dengan warna sempurna. Harumnya hangat, aku suka aroma garing dedaunan yang tadinya basah oleh embun berganti dengan aroma hangat yang menenangkan.
Mentari menampakkan keperkasaannya, begitu gagah dan teriknya benar-benar berbeda hari ini. Jauh lebih menyilaukan mata dari biasanya.
Binarnya sangat mengagumkan. Aroma mesin-mesin kendaraan yang bertarung dengan O2 hingga menghasilkan karbondioksida, menjadi asap hitam begitu khas, menjadikan aura sekeliling begitu panas dan berbau tidak sedap, bercampur debu jalanan yang mulai bertebaran.
Yap, aku mau mulai hidup yang lebih baik. Fighting!
"Pagi," sapa Akira pada semua orang yang bekerja di kedai.
"Pagi, Kak" jawab mereka bersamaan.
Berita itu telah menyebar, bahwa Akira dan Dika telah menikah, dan Akira adalah pemilik kedai. Agar tak ada lagi salah paham antara siapapun. Bahwa Dika baik pada semua orang, bukan karena dia menaruh perhatian pada mereka, tapi, memang karena begitulah sikapnya, baik dan ramah.
__ADS_1
Aida hari ini masuk sip siang, sebab dia harus pergi ke sekolah pagi ini. Dia sebenarnya anak yang sangat rajin. Tapi belakangan dia tak pernah mengambil lembur karena memang dia juga harus menyelesaikan sekolahnya.
"Kamu cari apa, Ka? Aida? dia masuk siang hari ini," ucap Akira memberi Dika informasi.
"Bukan, Ra, aku hanya sedang berpikir, apakah dia baik-baik saja."
"Yang jelas, dia pasti terluka, tapi, akan jauh lebih baik terluka sekarang, dari pada nanti saat dia tak mampu melupakan. Apa ... kamu sudah jatuh cinta padanya, ya, Ka?" ledek Akira.
"Dia cantik sih, tapi, sayang hatiku sudah punya kamu."
"Mana mungkin kamu cemburu, Ra, cinta kamu aja bukan milik aku," jawab Dika masih sambil meneruskan kegiatannya, tanpa menoleh ke arah Akira.
"Mulai deh,"
__ADS_1
"Memang kenyataannya seperti itu kan, Ra," jawab Dika masih tanpa menoleh.
Akira jadi salah tingkah, skakmat dibuatnya. Dia memang sadar, masih belajar untuk bisa menerima Dika sepenuhnya. Dan, meskipun itu sedikit, tapi dia sudah mulai suka pada bocah kecil itu.
Anak-anak mulai berbisik-bisik membicarakan dua bos mereka yang tampak seperti dua orang yang sedang berpacaran. Saling melempar senyum dan juga saling mencubit.
"Eh, aku jadi iri liat mereka berdua," bisik salah satu anak yang berwajah oriental.
"Iya, mereka bahagia banget, ya? pantas, selama ini mereka tampak begitu akrab dan mesra. Aku pikir, selama ini Kak Dika itu pilih kasih sama dia, dan selalu menganak tirikan dia, eh, ternyata dia itu istrinya, sekaligus pemilik kedai," ujar anak satunys lagi yang berambut ikal.
"Iya, tadinya aku juga heran, kok cewek bercadar, bisa kerja di sini, di bagian kasir, lagi, yang langsung berhubungan dengan para pelanggan," celetuk anak yang terlihat lebih tinggi dari yang lainnya.
Hari ini adalah hari rabu, saatnya Aida memamerkan bakatnya menabuh drum di panggung pertunjukan. Ya, setiap hari rabu, Akira dan teman-temannya akan mengiringi pengunjung yang mau bernyanyi. Terkadang hanya ada Dika dengan akustiknya, mengiringi pengunjung untuk menyanyi lagu-lagu melow.
__ADS_1
Kedai sekarang jauh lebih ramai oleh anak-anak muda, sejak pembukaan dojo dan panahan, juga panggung musik. Mereka yang datang tak hanya sekedar minum kopi ataupun desert, tetapi juga menyalurkan hobi mereka di sini.