
Aku meninggalkan ruangan rawat dengan langkah gontai.
Bagaimana aku akan menjalani hidup? aku tak mau bersama Hiroaki. Aku ingin kembali pada jazadku. Bukan hidup sebagai orang lain.
Tiba-tiba, cahaya di hadapanku berpendar. Kepalaku terasa sangat dingin. Tubuhku kehilangan keseimbangan. Kemudian duniaku berubah menjadi gelap.
Perlahan aku membuka mata. Plafon berwarna putih, dengan lampu putih susu menjadi pemandangan pertamaku.
"Akira, kamu sadar?" Rean memelukku.
Rean menekan tombol, untuk memanggil perawat untuk memerikasa keadaanku.
Betapa bahagianya hati ini, bisa melihat wajah Rean kembali dari mataku sendiri.
Rean menggenggam tanganku, perasaan hangat itu menjalar dalam dadaku.
🍃🍃🍃
__ADS_1
Dia mengecup keningku dengan penuh kasih. Dokter mengatakan, aku akan lumpuh sementara. Kakiku takan bisa digerakan untuk sementara waktu. Namun aggota tubuh yang lain bisa.
Tak ada yang lebih baik, selain kesadaran yang kembali ini. Meskipun kaki-ku akan mengalami kelumpuhan sementara, itu masih lebih baik.
Rean harus pergi ke kantor untuk mengurus beberapa hal. Aku hanya tinggal sendiri di ruangan ini.
Terdengar suara langkah kaki memasuki kamar rawat. Ah, ternyata Kara.
Aku berpikir dia datang untuk menjadi temanku. Seperti saat kemarin, aku bertukar raga dengannya.
"Akira! kamu telah mengambil malam pertama milik-ku, maka, aku takkan membuatmu hidup dengan tenang!"
"Kara, kemarin aku hanya bercanda denganmu. Tak ada malam pertama diantara kami. Percayalah Kara."
Dia tak memperdulikan sedikitpun kata-kataku. Menodongkan pisau ke arah dadaku. Menekannya semakin dalam, memotong selang infus di tanganku. Aku masih terus menahannya sekuat tenaga, agar pisau itu tak sampai mengenai tubuhku.
Tubuhku masih terlalu lemah untuk menahan serangan mendadak dari Kara. Hingga, leganku sedikit tergores. Tanpa putus asa, aku mencoba terus melawan. Hingga, pisau itu pun jatuh ke lantai.
__ADS_1
Aku tak mampu bergerak lebih jauh. Karena kondisi kakiku yang memang tak mampu digerakkan. Aku berusaha menggapai kursi roda yang berada di dekat ranjang. Untuk lari dari kemarahan Kara. Dia sudah seperti orang kesetanan.
Saat aku sudah mampu menggapai kursi roda dan duduk di atasnya. Kara mendorong kursi roda hingga aku terjatuh ke lantai. Dia meraih pis*u yang masih tergeletak di atas lantai. Mengarahkan pisau itu ke arahku. Dan ... Hiroaki menghalangi Kara, sehingga sebuah pisau tertancap di dadanya.
"Hiroaki!" teriak-ku.
Kini amarahku benar-benar memuncak. Teriakanku menjatuhkan segala yang ada di ruangan ini. Aku tak mungkin lagi mengampuni Kara. Dengan kondisi masih tertatih aku merangkak menghampiri Hiroaki yang tergolek tak berdaya. Aku mencekik Kara dengan kekuatan jarak jauh yang kumiliki. Kuangkat tubuhnya, lalu kuhempaskan ke tembok.
"Hiroaki, bangun!" aku menggoyangkan tubuhnya beberapa kali. Namun, tak ada sedikitpun reaksi.
Kara masih mampu bergerak. Namun, aku mengangkatnya sekali lagi, dan melemparkan tubuhnya hingga menghantam sofa di sudut kamar.
Tubuh Hiroaki mengeluarkan banyak darah. Aku berteriak meminta tolong, agar perawat segera datang. Beberapa suster masuk, lalu, membantuku duduk kembali di kursi roda, dan beberapa suster datang lagi, setelah suster yang tadi menolongku memanggil suster lain untuk membawa Hiroaki dan Kara ke Ruang gawat darurat.
Kejadian hari ini, benar-benar membuatku terpukul. Aku mendorong kursi rodaku ke ruangan di mana Kara dan Hiroaki sedang mendapat penanganan.
"Kenapa Kara ingin membunuhku?"
__ADS_1