
Senja menyapa, hawa dingin mulai membekukan tulang. Rean menggendongku menuju kamar mandi.
"Kamu mau apa Re?"
"Jangan salah paham, aku hanya mau memandikanmu."
Hah, memandikanku?
"Tunggu, tunggu, aku ini hanya lumpuh kaki saja Re, bukan seluruh badan. Jadi, aku masih bisa mandi sendiri, "
"Baiklah," ucapnya, sambil mendudukanku dalam bathub.
Dia mempersiapkan semua keperluanku, menatanya dalam rak agar mudah untuk aku jangkau.
"Jika sudah selesai, panggil aku ya?"
"Em, " jawabku seraya menganggukkan kepala.
Tak seperti bayanganku, ternyata kelumpuhan ini, benar-benar membuatku kesulitan untuk mengurus dirird sendiri.
Keluar dari bathub menuju kursi roda, ternyata sangat sulit. Tak semudah ketika berpindah dari ranjang ke kursi roda. Terpaksa aku harus meminta bantuan Rean untuk melakukannya. Hal yang paling memalukan yang pernah aku minta dari seseorang.
Setelah melewati suasana yang sangat canggung dan memalukan, selama beberapa menit, akhirnya kegiatan mandiku selesai.
.
__ADS_1
Wajah kami sama-sama memerah, seperti tomat masak. Selanjutnya kami bersiap untuk makan malam di halaman belakang.
"Re, maukah, kamu jadi sahabatku?"
Aku mengulurkan tangan pada Rean, dan Rean menyambutnya dengan senyum yang sangat manis. Jabat tangan ini, adalah tanda kami akan saling menjaga selamanya.
Waktu menunjukkan pukul delapan malam, mulai hari ini, Rean akan tidur di ranjang yang sama denganku. Dua hari lalu, Rean membeli sebuah ranjang besar untuk kami.
"Re, "
"Em, " sahutnya, tanpa mengalihkan pandangan dari laptop di hadapannya.
"Aku ingin berhenti kuliah."
Rean terperanjat, menutup laptopnya, lalu mengalihkan perhatiannya kepadaku.
"Hanya ingin berhenti, keadaanku saat ini, sungguh sangat merepotkan untuk menjalani aktivitas di luar rumah, Re."
"Baiklah, jika itu keinginanmu, aku akan mendukungmu."
*****
Hari-hari yang kami lalui sekarang, adalah hidup baru yang sangat menyenangkan. Rean membuatku sedikit melupakan kesedihanku.
Rean adalah pria yang sangat baik, penuh kasih dan tak pernah mengeluhkanku sedikitpun. Dia menanggung semua beban di pundaknya sendirian. Aku, hidupku dan masa depanku.
__ADS_1
Munkin dia tak pernah membayangkan, akan hidup dengan wanita lumpuh sepertiku. Menjadi yatim dan menjadi tulang punggung di usia yang masih sangat muda.
Tiap kali melihat wajahnya yang lelah, setelah bekerja seharian, sungguh aku merasa sangat bersalah. Aku hanya menjadi penambah beban saja bagi hidupnya.
Tuhan,
Berikan aku kesempatan membalas tiap kebaikannya, izinkan aku membahagiakan pria ini. Membuatnya tersenyum dan menghiburnya, serta menjadi sandaran baginya ketika lelah, menjadi tempat kembali paling nyaman ketika ia pulang ke rumah.
Malam ini Rean pulang dalam keadaan sempoyongan, tubuhnya bau alcohol dan matanya memerah.
Tuhan, apa yang sedang terjadi pada Rean?
Pakaiannya tampak lusuh dan dia dipapah oleh seseorang.
"Bu, Pak Rean Mabuk. Tadi ada pertemuan dengan beberapa kolega. Beliau tak bisa membawa mobil sendiri, jadi saya mengantarnya."
"Terima kasih, sudah mengantarkan suami saya pulang."
"Sama-sama Bu, saya permisi pulang dulu."
Aku mengangguk, sedikit membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan.
Aku menatap Rean yang terbaring di atas ranjang, melepaskan sepatu yang masih terpasang di kakinya dan juga dasi yang masing terikat di lehernya.
Ku tatap wajah itu, wajah yang terlihat penuh dengan beban yang disembunyikannya dengan sangat rapi.
__ADS_1
Tanpa terasa air mataku meleleh jatuh membasahi pipi, kemudian meluncur mengenai punggung tanganku.
"Apa yang dapat aku lakukan Re, untuk membuatmu bahagia?"