CINTA AKIRA

CINTA AKIRA
Membuka mata


__ADS_3

Kukerahkan seluruh tenaga yang ada dalam diri, untuk membuka mata ini. Ada apakah di balik mata ini? Sentuhan lembut siapakah yang menyentuh wajahku?


Akhirnya, mata ini terbuka. Ada seorang wanita yang terlihat sangat bahagia di hadapanku. Kupindai seisi ruangan. Aku bisa menebaknya. Ini, adalah sebuah ruangan di rumah sakit.


Wanita itu memelukku dengan erat. Ada tangis kebahagiaan di wajahnya.


"Kak Dijah sangat senang, kamu sudah sadar Kara!"


Kara? mengapa dia memanggilku Kara, siapa wanita ini?


"Aku haus."


Mendengar perkataanku, wanita itu dengan sigap mengambil gelas di atas nakas, lalu memberikannya padaku.


"Maaf Kadijah, bagaimana keadaan Kara? Maaf dari kemarin aku masih menunggui Akira. Sebab, Akira masih koma. Aku tak akan membiarkan Rean sendirian mengurusnya."

__ADS_1


Mataku terbelalak, mendapati Hiroaki di hadapanku begitu mesra dengan wanita di hadapanku ini. Rasanya ada rasa sesak di dalam dadaku. Seperti tusukan paku yang menyayat jantung dengan pelan tetapi sangat sakit.


Entah mengapa, aku masih tak mampu mengeluarkan suara. Hingga aku hanya mampu mendengarkan obrolan mereka saja.


Aku bangun untuk menuju kamar mandi.


"Kara? kamu mau kemana?" tanya wanita di hadapanku ini. Hiroaki tampak ingin memapahku. Namun sengaja aku tepiskan. Aku menunjuk arah kamar mandi, agar wanita ini tahu bahwa aku hanya ingin pergi ke kamar mandi.


Dengan dibantu Hiroaki dan wanita asing ini, aku berjalan dengan tertatih ke kamar mandi. Aku memberi isyarat pada mereka, agar membiarkanku sendiri. Setelah aku menutup pintu kamar mandi, aku membasuh wajahku. Betapa terkejutnya aku, pantulan wajah dalam cermin ini bukanlah milikku. Meskipun ada sedikit kesamaan pada wajah kami, tetapi, gadis dalam pantulan ini jelas bukan aku. Model rambut gadis ini, seperti laki-laki. Aku merasakan sebuah benda keras pada lidahku. Piarcing? Akupun melihat kedua telingaku dipenuhi dengan anting yang berderet.


Sebuah panggilan mengejutkanku, membuatku hampir terjatuh, untung, aku masih berpegangan. Sesosok bayangan yang sama persis dengan gadis ini, berdiri tepat di hadapanku.


"Akira, aku minta maaf, karena menabrakmu. Masih banyak hal yang masih belum kuselesaikan. Namun, takdir yang kumiliki, harus berhenti. Sedang takdirmu masih terus berjalan. Syaraf dikepalamu menyebabkan tubuhmu koma dan tak mampu digerakkan. Sedang, Tuhan menginginkan kamulah yang tetap hidup, meski dengan raga milikku. Sebagai hukuman buatku. karena telah mencoba bunuh diri, hingga bersamaan dengan itu, aku menabrakmu hingga kamu menjadi koma. Meski memang sebenarnya, aku sengaja ingin menabrakmu, karena kamu, telah menyakiti Hiroaki dengan menikah dengan orang lain."


Aku masih belum percaya dengan semua ini. Pernahkah kalian membayangkan. Terbangun dalam raga orang lain?

__ADS_1


"Kara! buka pintunya, kamu baik-baik saja di dalam kan?" suara wanita itu memanggilku dengan nada yang terdengar sangat khawatir.


Aku segera meninggalkan kamar mandi, agar wanita di balik pintu ini, tidak lagi merasa cemas karena aku.


Seorang dokter dengan seorang perawat masuk. Aku duduk di pinggiran ranjang, dan menerima pemeriksaan.


"Sepertinya, kondisi nona Kara sudah sangat baik. Sore ini, nona Kara, sudah boleh pulang," ucap dokter.


"Hiroaki, bolehkah, aku melihat Akira?"


Tampak raut khawatir di wajahnya, seperti ada yang dia takutkan.


"Kara, apa kamu yakin? Kamu, takkan berbuat macam-macam padanya lagi kan? dan, Rean pasti takan memaafkanmu."


Apa? apa maksud Hiroaki berkata demikian? apa gadis ini sebegitu berbahayanya? Apa yang sebenarnya?

__ADS_1


__ADS_2