
"Sementara, kita tinggal di sini ,Ra. Agar kamu tenang dan bisa memikirkan keputusan yang paling membahagiakan kamu."
"Ka, menurutmu, kepitusan apa yang harus aku ambil?"
",Apapun, asal kamu bahagia. Sudah, kamu tidur gih, besok pagi kita lari pagi keliling pantai."
Aku mengangguk, kemudian berlalu meninggalkan Dika di penginapan sebelah. Setelah mandi, aku sibuk scrool beranda Fb. Aku melihat postingan yang aku unggah di komentari oleh seseorang.
tring
__ADS_1
Eh, dia orangnya lucu, dan mulai sering komen pada setatus ku. Siapa dia? dalam bayanganku, dia itu seorang Om-Om yang ngemong sekali terhadap anak-anak muda seperti ku. setelah aku scroll walprinya, dia selalu menuliskan Bumi Wali. Yang aku pikirkan, mungkin dia adalah seorang santri dari sebuah pesantren di Kudus, Demak, Jombang, atau malah dari kartosuro. Aku memberanikan diri mengiriminya chat. Alasanku tadinya hanya ingin tau reaksinya jika ada seseorang yang mengirimi chat, dan harus bagaimana menghadapi orang yang seperti itu. Memang, akunku ini, sering sekali mendapat chat basa-basi, gak tau Kenapa, banyak orang-orang iseng yang suka tanya-tanya gak jelas. Ada yang dari cewek juga malah.
Skip. Singkat cerita, aku akhirnya bertanya padanya tentang pendapatnya jika di posisi seorang wanita, yang dihadapkan pada pilihan yang sulit. Antara harus menikahi putra angjatnya, atau harus berpisah dengannya, tetapi harus menjalani hidup dalam kesendirian tanpa siapapun yang menemani. Aku ingin mendengar pendapat orang awam yang netral tanpa memihak dan tanpa tahu situasi yang sesungguhnya. Orang biasa yang berdiri pada posisi kata-kata basa-basi. Tetapi, yang dipikirkannya menamparku. Hingga aku paham. Entah dia adakah tokoh agama, orang biasa, atau siapapun, akan memiliki pendapat yang sama jika melihat keadaanku.
Hingga, tepat sehari setelahnya, aku menyatakan siap untuk menikah dengan Dika. Dika sangat lega dengan keputusan yang aku ambil. Dia berjanji akan bekerja keras untuk memenuhi kewajibannya terhadapku. Dia akan melakulan yang terbaik bagiku. Namun, di hati kecilku, merasa sangat mengasihani Dika. Karena Setelah ini, dia akan terseret dalam dunia yang sama sepertiku. Dunia yang akan selalu sepi, tanpa akan ada tangis dan tawa anak -anak. Seumur hidupnya harus ikhlas untuk tak pernah di panggil ayah.
Rasanya sangat menyedihkan, menyeretnya dalam kehidupan yang sangat sepi sepertiku. Apakah bocah ini nantinya akan mampu? namun, jika di tengah jalan dia tak sanggup, maka aku akan rela untuk melepaskannya.
Pernikahan terjadi di hadapan warga. Kemudian kami mendaftarkan pernikahan kami di kantor urusan agama.
__ADS_1
Aku tak pernah menyangka, bahwa pernikahan ini, membawa ketenangan dalam hatiku. Kami bisa saling menjaga tanpa takut menimbulkan prasangka buruk. Kami bisa kemanapun dengan bebas tanpa khawatir untuk melakukan dosa.
Kini, aku hidup dengan seorang pembimbing yang sabar, dia begitu telaten mengajariku agama. Dia bisa menerima semua kekuranganku tanpa banyak mengeluh. dan yang paling menenangkan adalah, dia telah mengenal pribadiku, mengenal tabiatku, memahami segala yang terjadi dalam hidupku dan bisa menerima segalanya tanpa ragu.
Kami menjalani hidup baru dengan bahagia. Sebagai sahabat.
ting tong
"Akira," Caty datang dengan menangis sesengukan.
__ADS_1
Dia memelukku dengan erat. Yang lebih mengejutkan adalah, Caty hamil dua bulan, tapi Leo memintanya menggugu**** kan****nnya.