
"Ai, maafkan aku ya, karena tak memberi tahumu sejak awal," ucap Dika.
"Tak apa Kak. Aku saja yang terlalu bodoh, tak bisa membedakan sikap Kak Dika."
Akira memperhatikan dua orang yang terlihat sangat canggung itu dari kejauhan. Kemudian Akira membawakan dua cangkir latte, yang satu berhias gambar dengan bentuk hati, dan yang lainnya juga berbentuk bunga.
Akira meletakkan minuman itu di atas meja bundar berwarna putih di hadapan Aida dan Dika. Kemudian duduk di samping mereka berdua.
"Minumlah," pinta Akira pada mereka berdua.
Keduanya menjadi salah tingkah, tetapi Akira merasa biasa saja.
"Dika, Aida cukup cantik, dia juga pasti bisa memberimu anak. Dia muda, yang pasti jauh lebih muda dariku. Apa kamu tak menginginkan dia menjadi maduku?"
Dua orang itu tampak sangat terkejut.
"Apa kamu sudah gila, Ra?" Dika menggeser kursi ysng dia duduki, lalu bergegas meninggalkan Akira dan Aida. Dika mewsngambil kunci motornya, lalu berjalan ke luar.
__ADS_1
"Mbak Akira, kejar Dika, Mbak, sekarang," pinta Aida.
Tanpa pikir panjang, Akira berlari mengejar Dika. Dika memasang helm di kepalanya dan bersiap menjalankan motornya. Tapi tangan Akira meraih lengan Dika dan menghentikannya.
"Ka, maaf."
"Aku gak suka kata-kata kamu, ya Ra. Itu bukan bercandaan yang aku sukai, Ra."
"Iya, aku minta maaf."
Permintaan maaf Akira tak serta merta membuat Dika urung untuk pergi. Dia tetap menyalakan mesin motornya. Akira yang merasa Dika benar-benar marah, tanpa aba-aba langsung membonceng di belakang Dika. Mereka berdua meninggalkan kedai, Dika menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi, hingga membuat Akhirnya mau-tak mau berpegangan pada tubuh Dika dengan erat. Dika melirik sekilas tangan Akira yang melinggar di dadanya. Ada rasa senang dan bahagia di hatinya. Bahkan, bibirnya melengkung tajam, seperti bulan sabit.
Dika masih diam tanpa mengatakan sesuatu apapun, mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba gerimis turun, mbuat Akira semakin mengeratkan pelykannya karena dingin.
Dika menghentikan laju kendaraannya di sebuah rumah tua, rumah ini di desain sangat sederhana,dengan cat tembok berwarna putih pudar.
Dika membuka pintu rumah itu fengan kunci di tangannya. Ada empat kursi di ruang utama.
__ADS_1
"Masuklah, Akira,"
"Ini-rumah-siapa, Ka?"
"Ini rumahku. Setiap aku sedih karena kamu, aku akan datang ke sini, lalu bercerita dengan foto Bang Yudha. Aku akan merasa lebih baik, ketika aku telah mwnceritakan semuanya pada Bang Yudha. Kamu tak pernah tahu, berapa kali kamu telah membuatku menangis di tempat ini."
"Sebentar ya, Ra, aku akan membelikan sesuatu di warung depan. Kamu jangan pergi kemanapun."
Akira mengangguk, dan Dika membuka pintu kemudian menutupnya lagi, lalu menghilang entah kemana. Akira memandangi tiap foto, satu persatu. Disana ada seorang anak kecil berseragam SMP, Akira tersenyum, dia ingat saat itu, itu adalah foto kecil Dika. Akira beralih pada foto bocah berusia enam tahunan, bocah itu tampan sekali, wajahnya bersih, putih, dengan kaus berwarna putih dan celana pendek berwarna putih dan sepatu dengan warna yang sama juga.
Akira tak menyangka, bocah ini sudah tampan sejak kecil. Tak heran saat dia beranjak remaja, banyak gadis-gadis yang gencar mendekatinya.
Dika kembali dengan membawa sekantong makanan dan juga air mineral.
"Kenapa? tampan kan wajahku?" ucap Dika.
"Ah, iya, kamu sangat tampan."
__ADS_1
Dika mendekati Akira, memeluknya dari belakang. Lalu memberikan kecupan lembut di pipi Akira. Dika sangat menyayangi wanita di hadapannya ini. Dika memutar tubuh Akira, hingga posisi mereka kini berpelukan saling menghadap. Dika melepaskan kerudung yang melekat di kepala Akira. Meletakkannya pada sandaran kursi di sebelahnya. Hingga terlihat rambutnya yang di cepol. Perlahan Dika melepaskan ikatan rambut Akira, membuat rambut panjang yang kemerahan itu tergerai dengan sempurna. Dika mendaratkan sebuah ciu*an di bibir Akira. Tapi karena kaget, Akira hanya terpaku tanpa membalasnya. Dika melepaskan ciu*annya. Menatap dalam ke mata Akira, kemudian mengulangi ciu*annya kembali, tetapi kali ini Akira mulai membalasnya.