
"Ra, kita pulang dulu ya? bentar lagi kita mau ke rumah Ustad Biyan. Ada tasyakuran di sana."
"Em."
"Eh, tumben, kamu gak senang? biasanya kamu yang paling semangat kalau ke sana? suka ngeliatin Humaira kan?"
"Kadang, aku merasa sedih, Ka. Tiap kali melihat Humaira. Itu yang gak pernah bisa aku berikan buat kamu."
"Ra ..., kita kan udah bahas ini. Aku udah bilang ke kamu. Aku gak butuh apapun, selain kamu."
Dika memeluk Akira dengan erat. Dia pasti tau, apa yang memberati pikiran Akira.
Setelah mampir ke rumah sebentar untuk berganti pakaian, Akira dan Dika sampai di halaman ruma ustad Biyan. Tampaknya sudah ramai. Akira dan Dika segera masuk rumah dan menyalami sang empunya. Humaira sedang tidur nyenyak dalam box bayi, pemandangan itu cukup menyihirnya untuk tak beranjak kemanapun. Bayi mungil itu,sedang meringkuk dengan sangat lucu.
"Eh, bini lo mana, Ka? kok gua kagak liat dari tadi?" sapa Gibran sambil menepuk pundak Dika.
__ADS_1
"Noh, lagi jagain ponakan lu,"
"Eh, lu beruntung banget sih, bisa dapetin cewe model kek bini lu gitu? ngiri gua."
"Eh, lu gak usah pake ngiri segala. Tiap orang punya jodohnya masing-masing Bro."
Acara tasyakuran berjalan dengan lancar. Setelah para tamu undangan pulang ke rumahnya masing-masing, Akira dan Dika pun pamit untuk pulang.
Sepanjang perjalanan pulang, Akira hanya diam dan Dika pun tak berani banyak bicara, dia tau persis dengan tabiat istrinya itu, jika dia diam, berarti hatinya sangat resah.
"Kenapa berhenti, Ka?" tanya Akira. Karena tiba- tiba saja Dika menghentikan laju motornya di depan penjual skoteng.
"Ka, aku kan susah makannya, kalau di sini? aku kan pakai cadar?"
"Tenang, kita makan di pojok sana, gak ada yang bisa liat wajah kamu kok."
__ADS_1
Sambil menikmati skoteng, Dika bercerita banyak hal. tentang Kak Yudha, tentang berapa susahnya dulu dia menjalani hidup, dan tentang Abang penjual skoteng itu yang hidup hanya bersama istrinya. Abang penjual skoteng itu, juga memiliki nasib yang sana seperti Akira dan Dika, entah mengapa, sampai setua itu, mereka belum diberi momongan. Tetapi, keduanya tetap bahagia dan saling mencintai.
"Percayalah, Ra, setiap manusia, punya porsi bahagia."
Entah karena apa, tetapi, setelah mendengar banyak hal, Akira mulai mau berjuang untuk bahagia.
Selama hampir dua bulan menikah, Akira dan Dika belum pernah berhubungan suami istri. Bagi Akira, butuh persiapan mental untuk dengan ikhlas menyerahkan segalanya pada seseorang yang pernah dianggapnya putra itu. Hatinya masih memberontak, meskipun Akira sangat patuh, tetapi, untuk melakukan itu, dia masih butuh waktu.
Sesampainya di rumah, Akira segera mandi. Sudah jadi kebiasaannya, sebelum tidur, mabdi terlebih dahulu.
"Ka, apakah, kamu menginginkan aku memberikan hakmu sebagai seorang suami?A-ku ...."
"Apakah, kamu sudah ikhlas memberikannya padaku, tanpa paksaan, Ra?"
Akira mengangguk.Untuk pertama kalinya, dia menawarkan itu pada suaminya, setelah waktu dua bulan telah mereka lewati.
__ADS_1
Akhirnya mereka telah menjadi suami istri yang sesungguhnya. Telah saling memberi dan menerima layaknya pasangan yang telah menikah.
Pagi harinya, untuk pertama kalinya Akira membuatkan sarapan untuk Dika setelah menikah. Sepiring nasi goreng dengan telur ceplok, bersama ayam goreng dan sambal. Itu adalah makanan yang cocok di lidah Dika, bukan sanwich dan segelas susu, bukan tamagoyaki ataupun onigiri.