CINTA AKIRA

CINTA AKIRA
Digelangi Rindu


__ADS_3

Pagi ini, kubuka kedai lebih awal dari biasanya. Menata kursi-kursi, mengecek stok kopi, susu dan bahan-bahan yang diperlukan.


Terdengar suara pintu terbuka, kemudian tertutup kembali.


"Maaf, kami belum buka. Silahkan datang lagi nan ...ti."


Aku terkejut dengan sosok seseorang yang sangat aku kenal. Wajah itu, wajah yang selalu aku rindukan.


"Apa kabar, Ra," ucap pria yang masih saja tampan seperti dulu.


"Kamu, tak merindukanku, Ra? kamu tak mau memeluk mantan suamimu ini? kita mungkin sudah berpisah, tapi, tak bisakah kita menjadi teman?"


Dia duduk di kursi sudut ruangan. Aku membuatkannya kopi arabika kesukaannya. Kemudian menaruhnya di atas meja, tepat di hadapannya.


lalu duduk di sampingnya.


"Ternyata kamu masih ingat kopi yang aku sukai. Ra."


"Ini hanya ramah tamah terhadap tamu. Aku harap, setelah menghabiskannya, kamu segera pergi Re."


"Hahaha. Beginikah caramu menyambut tamu? Sampai sudah tidak sabar untuk segera mengusirku?" ucap Rean sembari menyeruput kopi di tangannya.


"Ini, sudah cara terbaik untuk berbaik hati pada tamu yang tak diundang."

__ADS_1


"Aku rindu kamu Ra, maukah kamu menikah lagi denganku? sampai sekarang, aku belum menikahi Khadijah, Ra."


Rean menggenggam tanganku erat. Tatapan matanya masih menyiratkan kerinduan dan cinta seperti dulu. Tidak ada yang berubah.


Aku menarik tanganku dari genggamannya. "Maaf, Re, aku tak akan mengulang lagi rasa sakit yang dulu pernah kamu berikan. Bahkan, hingga kini, luka itu masih belum kering Re."


"Ayolah Ra, menikahlah denganku."


"Terima Ra!"


Teriak Caty yang datang tiba-tiba, aku dan Rean menoleh ke arah Caty bersamaan.


"Hai, aku Caty, teman Akira. Kamu, pasti sangat kesulitan mendekati sahabatku ini ya? maklum, dia itu pernah gagal satu kali. Hingga sangat sulit membuka hati," celetuk Caty tanpa rem.


"Baiklah, Besok aku akan datang lagi untuk mendengar jawabanmu," ucap Rean sembari bangkit dari tempat duduknya, dan melangkah pergi meninggalkan kami.


"Tak usah menunggu besok Re, karena jawabanku tetap tidak."


Rean tetap berlalu meninggalkanku, seolah tak mau mendengar apa yang tadi aku katakan.


"Ra, kamu terima saja pinangan pria itu. Jangan pilih-pilih. Memang, kamu mau nyari yang kek gimana sih? Kamu tahu gak? Sekarang jumlah pria lebih banyak dari wanita, jangan sampai gak kebagian lagi, " ledek Caty.


Dalam hati aku sangat-sangat protes, karena ucapan Caty sungguh sangat keterlaluan.

__ADS_1


Senyum licik tersungging di bibirku, dan membuatku punya ide jahat mengerjai si bawel ini.


"Ah, ya, tentu saja. Karena, dunia ini sekarang jumlah wanitanya lebih banyak dari pria, itu berarti setiap satu pria bisa memilih beberapa istri untuk dirinya kan? Apalagi kalau dia itu, pria ganteng, mapan, dan penuh perhatian seperti Leo?" balasku dengan senyuman menggoda ke arah Caty.


"Haish, jangan sembarangan kamu. Nanti diaminkan malaikat yang seliweran gimana?" jawabnya sewot, sambil memukul pundakku dengan sangat keras.


"Ya, habis, kamu sih bikin aku khawatir. Lagipula kamu yang baik dan imut ini, pasti gak akan rela kan, kalau aku gak kebagian jodoh? Apalagi kalau memang aku terbuat dari tulang rusuk Leo juga. Masa kamu gak mau ikhlas berbagi dengan sahabatmu ini?" jawabku sambil tergelak.


"Sembarangan kamu!" ucapnya sambil berlalu meninggalkanku dengan raut wajah kesal.


Aku sebenarnya ingin mengatakan kejujuran pada Caty, bahwa Leo benar-benar menyatakan suka padaku. Namun, aku tak akan tega menyakiti temanku ini. Untuk tega memberitahukan kebrengsekan pacarnya itu.


Dia sudah sangat bermasalah dengan berat badannya, dan kurang pede dengan keadaannya. Aku tak mau, jika dia semakin kehilangan kepercayaan dirinya.


Sejak Leo mendapatkan nomor ponselku, Leo selalu mengirimi chat, namun aku tak pernah membalasnya.


Leo dengan terang- terangan menyatakan, kalau dia menyukaiku, bukan Caty.


Aku bukanlah pengganggu, atau selingkuhan siapapun. Aku memang mudah akrab dengan banyak orang. Tapi bukan berarti mudah menjadi pengganggu bagi hubungan orang lain.


Jikapun aku harus bersama dengan seseorang, aku akan lebih suka bersama dia yang sendiri. Tak pernah sekalipun terlintas di kepalaku, untuk dipoligami oleh siapapun setelah menikah.


Setia itu tidak mahal. Dia hanya sebuah keputusan dalam pilihan yang diyakini dengan kuat.

__ADS_1


Aku lebih memilih, merantai, dan menggelangi rindu, pada dia yang tersimpan jauh sebagai rahasia Tuhan. Melangitkan harapan pada sepi, yang berselimut kehampaan dalam kesendirian. Untuk menanti sebuah jalan panjang berbalut kerinduan pada Tuhan.


__ADS_2