
Aku bersandar di balik pintu kamar, rasa sesak mendesak hingga ke kerongkongan. Terasa mencekik, membuat jantung begitu sakit. Air mata meleleh, seperti kutub utara yang lumer di terpa matahari. Lelehannya begitu dingin, bagaikan salju yang turun tiba-tiba diterik matahari.
Kupejamkan mata, menahan semua rasa sakit yang datang tanpa aba-aba. Seperti belati yang menancap tepat di sudut jantungku. Tubuhku lunglai, merosot, kemudian terduduk di lantai yang dingin.
Apa salahku? hingga membuat putraku jatuh hati padaku? apakah kasih sayangku selama ini, menimbulkan perasaan yang salah di hati Dika?
Tuhan ... selamatkan aku dari kegilaan ini.
Drrt, drrt, drrrt.
Getar dari ponselku, membawa kembali kesadaranku. Kuseka air mata yang jatuh, menata suara sebelum menjawab panggilan dari Rean
"Ya, Halo"
"Akira, aku di rumah sakit X, di kota X sekarang. Bisakah, kamu dan Dika datang menjemputku?"
"Kamu kenapa Re?" suaraku benar-benar bergetar ketakutan mendengar Rean berada di rumah sakit.
__ADS_1
"Tenanglah. Aku baik-baik saja Ra. Aku tutup telponnya dulu ya, nanti setelah sampai, aku akan menjelaskan semuanya padamu."
Seketika aku langsung lupa dengan masalah yang dibuat oleh Dika, membuka almari, kemudian mengganti baju dan mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas nakas.
Aku menghampiri Dika, yang masih duduk terpaku di sofa ruang tengah.
"Dika, kita harus segera ke kota x, Rean di rumah sakit!"
Dika yang kaget dengan kebingungannya, namun tak urung, dia segera menyambar jaket di atas sofa, berjalan mengiringi langkahku. Kubuka pintu mobil berwarna merah menyala di hadapanku dan membiarkan Dika mengambil alih kemudi.
"Sebenarnya, apa yang terjadi Ra? Kak Rean kenapa?" seru Dika tak kalah panik dariku. Hanya, dia tampak sedikit jauh lebih tenang dariku.
Perjalanan ini membutuhkan waktu cukup lama. Sebab, jarak antara kotaku dengan tempat yang kutuju, cukup jauh.
Aku sempat tertidur, sebab, perjalanan ini memang cukup memakan waktu, sebelum akhirnya kami sampai di tempat tujuan.
Kami segera mencari keberadaan Rean. Dari kejauhan, Rean terlihat baik-baik saja, hanya pakaiannya saja yang tampak lusuh, dengan noda darah yang sudah mengering. Plester menutup luka di wajahnya dan perban membalut lengannya. Rean duduk di depan ruang ICU dengan wajah yang sangat kusut. Aku langsung menghamburkan diri dalam pelukannya, memindai seluruh tubuhnya dengan seksama.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja Ra."
"Dika, bisakah kamu membelikan Akira kopi dan roti? kalian pasti belum sarapan." pinta Rean.
Dika mengangguk setuju, kemudian pergi meninggalkan kami.
Rean memegang ke dua tanganku. Membawaku pada pinggiran kaca untuk melihat seorang wanita di ruangan itu.
Khadijah? mengapa, dia berada di dalam sana, dengan luka-luka di tubuh dan wajahnya? mengapa dia bersama Rean?
"Ya, Akira, dia Khadijah, Kakak Kara. Kami mengalami tabrakan beruntun. Kara tewas di tempat. Tetapi Khadijah, rahimnya hancur, hingga harus diangkat. Akulah penyebabnya. Bolehkah aku menikahinya Ra?"
Bagaikan petir yang menyambar jantungku hingga remuk. Hantaman balok es seolah menghancurkan kepalaku.
Aku melepaskan tangan Rean. Tak percaya dengan apa, yang baru saja ku dengar. Tubuhku hampir roboh, jika saja tak ada tangan Dika yang menahanku.
Ku letakan bokongku di atas kursi berwarna putih. menangkupkan dua tanganku menutupi wajah, berpikir keras untuk mencerna setiap kejadian tak masuk akal yang tiba-tiba terjadi secepat ketukan palu hakim di meja pengadilan.
__ADS_1
Aku menatap wajah pria yang sangat aku cintai dihadapanku ini. Namun kali ini bukan dengan cinta, namun dengan kebencian dan amarah.
"Ceraikan aku Re!"