
Pukul dua belas siang, Dika kembali menyuruhku berwudlu.
"Ka, ini lagi panas-panasnya kali ..., masa iya, aku kudu mainan air lagi? besok ja gimana? aku kan udah mandi," tolakku.
"Gak bisa, Ra, wudlu itu syarat syahnya salat."
Dika menarikku menuju kamar mandi. Males banget, sungguh.
"Gini?" tanyaku.
Dika malah hanya cengingisan melihat aku kesal. Aku menariknya masuk kamar mandi. Biar jan cuma ngasih tahu di luar pintu.
"Yah, aku jadi harus wudlu lagi deh ini. Kamu juga harus ngulang," ucapnya.
"Apanya yang salah? Kenapa harus diulang lagi?" jawabku sewot.
__ADS_1
"Tadi, kamu pegang tangan aku, Ra, dan kita ini bukan mahrom, jadi sentuhan itu membatalkan wudlu kita, sebab, membuat jantungku berdebar, hahaha,"
"Ribet banget si,"
"Lha, kamu bilang, mau kenal Tuhan aku, ya ini konsekuensinya."
"Iya, iya, udah buruan ajarin!" ucapku sewot, karena merasa ini memang benar-benar ribet. Sedangkan Dika malah hanya tertawa senang melihat kesusahanku.
Kalian tahu, bagaimana rasanya, siang-siang mainan air? pakai diulang dua kali lagi, ya ampun. Namun, setelah aku melakukannya, tubuhku terasa jauh lebih segar dan bersemangat. Empat rakaat yang kami jalankan tadi, sungguh bikin hatiku terasa adem.
Dika menandai ayat-ayat dasar, aku membacanya, dan menemukan q.s An.Nuur ayat 30-31.
Ternyata Tuhan menyuruh kami, para perempuan untuk menutup aurat kami. Bab aurat, Dika telah memberitahuku, bahwa seluruh tubuhku adalah aurat. Sebagaimana aku mengenakan mukena saat menjalankan salat. Tapi, aku baru tahu aturannya karena ayat ini. Pantas saja, Dika memberiku baju longgar, dan celana panjang longgar sebelum aku membaca kitab. Ternyata, itu bukan sekedar sopan santun di hadapan kitab suci, tetapi ternyata memang ada perintah di baliknya.
Tiba-tiba Caty datang dengan tangisan. Aku menutup kitab suci, lalu menghampirinya. Dia mengatakan dia ingin menjadi langsing, untuk membalas Leo.
__ADS_1
Terkadang aku tidak tahu, cara berpikir Caty. Mengapa dia tak coba mencintai dirinya sendiri dulu. Jika Leo tak mampu menerima keadaan tubuhnya, mengapa dia tak mau menyadari, bahwa Leo tak mencintainya?
"Berikan kartu Atm mu, karena dengan itu, kamu gak akan menjadi langsing."
Caty memberikan nya dengan berat hati.
Namun, baiklah, aku akan membantunya. Aku merubah menu makanannya, mengambil kartu ATM nya, dan memaksanya untuk berjalan kaki dari rumahku menuju kantornya. Tak ada lagi ice cream, tak ada lagi makanan manis, yang ada sekarang hanya buah dan sayur.Diet nasi putih, dan menggantinya dengan sup jagung. biskuit gandum dan susu rendah lemak.
Tak ada lagi naik taxi, tak ada lagi camilan-camilan. Aku dan Dika, akan menyiksanya beberapa bulan kedepan.
Seratus hari telah dilewati, Caty telah mendapatkan hidup barunya, dengan wajah baru, tubuhnya kini benar-benar telah ideal, Cantik sekali. Dan akupun telah mendapatkan hidup baru dengan keyakinan baru, aku mulai mengaji, mulai bisa salat sendiri dan mulai belajar puasa sunah. Ternyata sangat menyenangkan hidup seperti ini.
Hari ini, aku berniat membeli kain di toko untuk membuat pakaian yang aku butuhkan. Bukan tak bisa membeli pakaian jadi, tetapi, aku ingin mendesain pakaianku sendiri, agar lebih pas ukurannya di tubuhku, bahkan bisa memadukan warna yang aku inginkan. juga menyesuaikan kain yang nyaman untuk aku kenakan.
Dika berkata padaku, bagian tubuh wanita yang paling menggoda di mata pria adalah, kaki jenjang, dan leher yang bersih, maka sekarang, aku telah memantapkan diri untuk menutupinya agar hati ini semakin bertambah tenang.
__ADS_1